ABC

Pengungsi Suriah Berjuang Menyesuaikan Diri di Negara Baru

Setelah melarikan diri dari kampung halamannya yang hancur karena perang -yakni Aleppo, Talar Anjer-Koushian menjalani kehidupan baru di Australia -berkuliah, bekerja penuh waktu, dan kini ia juga bekerja sukarela untuk membantu pengungsi lain menyesuaikan diri di rumah baru mereka.

Talar adalah salah satu dari 12.000 pencari suaka -yang mendapat visa masuk ke Australia di bawah penerimaan kemanusiaan khusus bagi warga Suriah dan Irak, yang meninggalkan negaranya karena terorisme dan perang sipil -yang semuanya telah tiba di Australia.

Ia mengatakan, tantangan terbesar saat tiba di Australia adalah kembali berkuliah -ia menempuh studi pasca sarjana di bidang Pembangunan Internasional dalam bahasa ke-empatnya.

Pekan lalu, ia juga berhasil mendapatkan pekerjaan penuh waktu, tapi bagi pengungsi Suriah lainnya, mendapatkan pekerjaan masih menjadi kekhawatiran mereka.

"Kami ingin bekerja, kami ingin berkontribusi, kami tak ingin hanya sekedar menerima dan duduk malas-malasan saja."

Semua visa khusus yang diumumkan Pemerintahan mantan Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, di tahun 2015 diberikan sebelum bulan Maret tahun ini, tapi keluarga pengungsi terakhir baru tiba pertengahan tahun ini.

Visa khusus itu diberikan kepada orang-orang yang tinggal di kamp-kamp badan pengungsi PBB (UNHCR), sekaligus kepada mereka yang terpaksa melarikan diri dan berlindung di tengah komunitas urban di Lebanon, Yordania dan Turki.

Memilih pergi untuk bertahan hidup

Bagi Talar, kehidupannya sekarang begitu kontras dengan situasi yang terpaksa ia tinggalkan di kampung halaman.

Perang sipil di Suriah telah membuat ratusan ribu orang tewas, memicu kebangkitan kelompok Negara Islam atau ISIS, dan menyebabkan krisis pencari suaka terbesar sejak Perang Dunia terakhir.

Meski dulunya berperan sebagai pusat perdagangan yang maju, kini Aleppo telah hancur lebur, bangunan rata dengan tanah, dan layanan kebutuhan dasar bagi warganya terhenti.

"Kami mengalami hari-hari di mana kami tak punya air, listrik, tak aman untuk pergi ke luar rumah," tutur Talar.

"Listrik jadi kemewahan, jadi kapanpun kami mendapat aliran listrik, kami biasanya terbangun meski itu tengah malam, hanya untuk menonton TV, dan menikmati cahaya."

Ia mengatakan, kecemasan menjadi konstan dan selalu berbahaya untuk pergi ke luar rumah.

"Anda akhirnya terbiasa, anda akhirnya punya kemampuan untuk bertahan dengan kondisi yang anda alami," kenangnya.

"Tapi ketika semua terasa cukup...kami benar-benar tak bisa mentoleransinya, dan kami putuskan untuk pergi, untuk mencari kehidupan baru."

Babak baru kehidupan pengungsi Suriah

Talar mengatakan, meski banyak teman-temannya sesama pengungsi akan bersyukur atas kehidupan baru yang mereka dapatkan, mereka akan butuh bantuan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang sama sekali baru.

"Mereka mungkin takut bila orang-orang tak menyambut mereka dengan baik, jadi mereka tak akan mendekati orang lain," ujarnya.

"Mereka akan tertutup dan selalu mempertanyakan diri mereka, 'apakah kami cukup baik, apakah boleh untuk mendekat dan berbicara kepada orang lain, dan menjalin pertemanan dan bertemu orang lain?'."

"Meski dari pengalaman saya, warga Australia sangat terbuka, semua orang benar-benar menyambut baik dan sungguh membantu...jadi saya rasa mereka akan melalui masa itu."

Walau ia telah belajar tentang Australia dari seorang paman yang telah tinggal di Perth selama bertahun-tahun, Talar masih menghadapi segelintir rintangan untuk menyesuaikan diri dengan budaya di Australia.

Talar Anjer-Kousian
Talar Anjer-Kousian bekerja di sektor keuangan tapi setelah selamat dari konflik, ia ingin pindah jalur ke bidang HAM dan pembangunan.

ABC News: Rebecca Trigger

"Terkadang..berterus-terang dan jujur di budaya saya tak selalu bisa diterima, anda selalu berputar-putar dan tak langsung ke inti pembicaraan," katanya.

"Sementara di sini, orang tidak basa-basi, mereka bicara terus terang tentang pendapat mereka atau apa yang mereka pikirkan tentang suati masalah."

"Butuh waktu untuk terbiasa dan anda gagal beberapa kali, anda salah mengartikan orang dan orang lain salah mengartikan sikap anda, tapi setelah beberapa saat anda terbiasa dan anda belajar."

Jadi relawan untuk bantu pengungsi menyesuaikan diri

Kini Talar membagikan pengalamannya dengan bekerja sukarela di Program Pemukiman Kemanusiaan baru milik Palang Merah Australia untuk membantu para pengungsi baru menyesuaikan diri dan memahami bagaimana cara bertahan di negara mereka yang baru.

Dari pengungsi baru yang tiba di Australia pada periode 2016-2017, lebih dari 6500 di antaranya berasal dari konflik Irak-Suriah, dan lebih banyak lagi diperkirakan tiba dari kawasan tersebut dalam beberapa tahun mendatang.

Manajer program dukungan migrasi di Palang Merah Australia, Vicki Mau, mengatakan, orang yang datang ke Australia lewat program pemukiman kemanusiaan seringkali telah melalui pengalaman yang sangat ekstrim, tapi itu juga berarti bahwa mereka sangat tangguh.

"Apa yang benar-benar kami coba lakukan adalah memberikan proses yang lancar bagi mereka," sebutnya.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.