ABC

Pengungsi Rohingya Enggan Kembali ke Myanmar

Seorang pengungsi Rohingnya Mustafa Khatun, sekarang berusia 50 tahunan dan ibu dari 10 anak, mengungsi dari Myanmar bulan Agustus lalu.

Sekarang tinggal di kamp pengungsian di Bangladesh, dan mengatakan bilapun dia dipukuli atau dibunuh di sini, dia tidak akan kembali lagi ke kampung halamannya.

Mustafa Khatun sudah melarikan diri dari Myanmar tiga kali.

Pertama kali di tahun 1970-an, ketika masih kecil.

Keluarganya kemudian dipulangkan kembali.

Kedua kalinya di tahun 1990an, ketika itu dia sudah menikah.

Lagi-lagi, dia dan suaminya dipulangkan dari kamp pengungsi di Bangladesh kembali ke Myanmar.

Sekarang dia berusia 50 tahuna dan ibu dari 10 anak.

Bulan Agustus lalu, dia kembali harus mengungsi, menghindari tindak kekerasan dari pihak militer Myanmar.

Seorang peerempuan dengan wajah dan mata yang lembut, dia menangis ketika menceritakan apa yang mereka alami.

Mengalami kelaparan selama beberapa hari, katanya.

Melarikan diri bersama anak-anaknya, bersembunyi di hutan.

Kali ini, katanya, dia tidak akan kembali lagi.

"Saya tidak ingin kembali. Saya tidak tertarik untuk kembali lagi, bahkan bilapun saya dipukuli atau dibunuh. Mereka boleh membunuh saya di sini." katanya.

"Mereka sudah lama mengejar-ngejar kami, membunuh, membakar seluruh keluarga, memperkosa mereka."

"Kami tidak bisa tidur karena trauma dan mimpi buruk ini."

"Saya akan senang melihat anak-anak saya tumbuh di Bangladesh, saya tidak akan senang mereka tumbuh di Myanmar, selalu ada ketakuran dan kesedihan di sana."

A man holds a national registration card with a crowd of people behin him.
Seorang pria memegang kartu identitas nasional untuk tinggal di Myanmar di tahun 1960-an.

ABC News: Siobhan Heanue

Khatun adalah satu dari sekitar 800 ribu pengungsi Rohingya yang minggu ini sedang menunggu langkah berikutnya yang sudah disepakati oleh Bangladesh dan Myanmar mengenai pemulangan pengungsi.

Bangladesh dan Myanmar menandatangani perjanjian bulan November lalu yang akan mulai diberlakukan minggu ini.

Apa yang tercakup dalam perjanjian itu masih belum diketahui.

PBB menolak terlibat dalam proses, dengan kedua negara melakukan perundingan sendiri, tanpa keterlibatan pihak internasional.

Karenanya, kecil kemungkinan akan ada penyelidikan internasional mengenai pembantaian yang sudah terjadi, paling tidak dari sisi apa yang sudah dilakukan militer Myanmar.

Myanmar sudah melarang masuknya bantuan asing, organisasi internasional dan juga media.

Laporan televisi dari kawasan Myanmar menunjukkan apa yang digambarkan pemerintah sebagai pembangunan 'kamp' untuk menyambut kedatangan pengungsi Rohingya.

A Rohingya girl in pink clothes poses for a photo with her arms crossed.
Sekarang ini sekitar 800 ribu warga Rohingya mengungsi sejak Agustus lalu.

ABC News: Siobhan Heanue

Lebih dari 350 desa Rohingya dibumihanguskan selama tindak kekerasan bulan Agustus lalu, sehingga mereka harus mengungsi, dan sekarang takut dengan apa yang mereka gambarkan sebagai 'kamp konsentrasi'.

PBB sudah menggambarkan kekerasan, penyiksaan, pemerkosaan, dan pembunuhan yang dilakukan tentara Myanmar terhadap warga Rohingya ini sudah seperti pembantaian etnis.

Karenanya tidak mengherankan tidak seorang pun yang sekarang berada di kamp pengungsian di Bangladesh ingin kembali.

Bangladesh masih tetap kewalahan untuk menampung lebih dari 1 juta pengungsi, dengan 600 ribu diantaranya baru datang sejak Agustus lalu.

Warga Rohingya ini masih menjadi warga dimana tidak ada satu negara pun yang menginginkan mereka.

Padahal yang mereka inginkan hanyalah keamanan dan kebanggaan tinggal di tanah kelahiran mereka.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini