ABC

Pengamat Australia Menilai Jokowi Lemah “Menjaga Demokrasi” di Indonesia

Dengan diuntungkan sebagai pertahana, Joko Widodo diperkirakan akan mengalahkan Prabowo Subianto pada pemilihan presiden Indonesia yang akan dilakukan 17 April mendatang.

Demokrasi di Indonesia

Catatan soal pemimpin Indonesia

  • Jokowi dinilai telah berkompromi dengan politisi korup dan pemimpin agama intoleran
  • Demokrasi di Indonesia tidak akan membaik juga jika dibawah pimpinan Prabowo
  • Harapan baru kini ada ditangan para politisi muda untuk membuat perubahan sistematik

Demikian laporan Lowy Institute, lembaga think thank Australia yang berbasis di Sydney yang berjudul Politics in Indonesia: Resilient election, defective democracy, yang baru saja dirilis hari Rabu (10/04/2019).

Laporan yang ditulis Ben Bland membandingkan polling yang dilakukan oleh sembilan lembaga terpercaya di Indonesia, seperti LSI, Kompas, Populi, Charta, Indikator.

Hasilnya, Jokowi lebih disukai oleh 54 persen pemilih Indonesia dibandingkan Prabowo yang mencapai 33 persen dan sisanya, yakni 13 persen tidak memberikan pandangan apapun.

Tetapi lembaga tersebut mencatat jika Jokowi memenangkan masa jabatan kedua, sekaligus yang terakhir bagi dirinya, ia tidak mungkin membuat kemajuan yang signifikan dalam reformasi ekonomi, hukum, dan politik yang mendesak dibutuhkan warga Indonesia saat ini.

Lowy Institute terdengar pesimis dalam melihat masa depan Indonesia, tapi Ben mengatakan kepada ABC Indonesia, setelah melihat sosoknya sebagai presiden dalam lima tahun terakhir, Joko Widodo menjadi pemimpin yang berhati-hati dan seringkali berkompromi dengan lawan-lawan politiknya, ketimbang melawannya.

"Jika reformasi ini dilakukan akan membuat marah mereka yang memiliki kepentingan," tambahnya yang juga menjabat sebagai Direktur Southeast Asia Project di Lowy Institute.

Laporan tersebut juga menyebut Jokowi telah terbukti sebagai seorang yang lemah dalam menjaga demokrasi di Indonesia.

"Ia telah membiarkan melemahnya aturan hukum dan proteksi terhadap minoritas," jelas Ben.

Menjebloskan Ahmad Dhani ke penjara karena isi Twitternya, atau kasus Robertus Robert yang menyanyikan lagu yang mengejek TNI, serta beberapa acara anti-Jokowi yang dibubarkan polisi, menjadi contoh yang disajikan dalam laporan tersebut.

Prabowo tak berarti lebih baik

Menurut Lowy Institute Prabowo sering berkampanye soal penyediaan lapangan kerja atau akan menekan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari, tapi itu hanyalah janji-janji yang tidak jelas dengan sedikit kebijakan yang substantif.

Banyak pihak menilai Prabowo memilih janji kampanye yang populis dan berpihak pada warga miskin, tetapi belum tentu ia dapat membuktikannya untuk mengatasi kesenjangan ekonomi yang masih merajalela.

"Seperti kebanyakan pemilu di Indonesia, hanya sedikit pembahasan soal kebijakan nyata untuk mengatasi masalah ini," kata Ben.

Seorang pria berjalan di atas panggung
Lowy Institute menggambarkan Prabowo sebagai sosok pembicara yang selalu berapi-api.

AP: Achmad Ibrahim

Ben mengatakan tekanan pada demokrasi di Indonesia tidak akan berkurang, baik di bawah pimpinan Jokowi atau Prabowo, mengingat karakter dan koalisi politik mereka.

Dalam menghadapi kritikan dan tantangan yang ditujukan kepada keduanya, menurut Ben, kedua kandidat cenderung menanggapi dengan metode yang membungkam kebebasan berdemokrasi.

"Lembaga-lembaga penegak hukum dan militer telah diberi peran politik yang semakin luas dan partai-partai akan terus membentuk kartel kuat demi kepentingan mereka sendiri," jelas Ben.

Dua orang pria sedang tertawa bersama
Menurut Lowy Institute yang terpenting dari pemimpin masa depan adalah keinginan untuk melakukan perubahan besar-besaran.

AP: Tatan Syuflana

Menurutnya yang bisa menghentikan ini semua adalah reformasi yang menyeluruh untuk mengambil alih kendali partai-partai dari sistem.

Lowy Institute justru melihat harapan dari generasi baru politisi yang tidak berasal dari kalangan elit. Kemungkinan besar saat itu mereka pun sedang mempersiapkan diri menuju istana kepresidenan.

Sebut saja Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), atau Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) yang sama-sama mengawali karir kepemimpinannya dari pemerintahan daerah seperti Jokowi.

Pemilihan umum serentak untuk memilih presiden dan wakil rakyat di tingkat daerah dan nasional akan dilaksanakan Rabu pekan depan (17/04).

Sementara warga Indonesia di Australia akan memilih lebih awal, yakni hari Sabtu (13/04) dengan jumlah pemilih yang sudah terdaftar mencapai 65 ribu orang.

Anda bisa membaca laporan lengkapnya dari Lowy Institute dalam Bahasa Inggris disini.