ABC

Pengakuan Remaja Australia Penganut Islam Garis Keras

Tiga tahun lalu, Hamza (identitas asli disamarkan) baru berusia 16 tahun, dan telah mengalami begitu banyak problem. Seorang saudaranya dipenjara karena kasus pembunuhan, saudara lainnya jadi anggota geng di Sydney.

Dalam wawancara khusus dengan program 7.30 ABC yang ditayangkan Senin (19/10/2015) malam, Hamza mengaku seringkali membayangkan kematiannya sendiri.

"Saya begitu takut dan meminta kepada tuhan untuk memberikan saya kesempatan hidup lebih lama," katanya.

Hamza meminta namanya disamarkan karena mengkhawatirkan keselamatan keluarganya yang lain, yang tidak setuju dengan pilihan Hamza menempuh jalan kekerasan.

Saat itu, ketika masih duduk di bangku Kelas 10 (Kelas 1 SMA), dia diperkenalkan dengan gerakan ortodoks Sunni yang dikenal dengan paham Salafisme.

"Saya bertanya kepada sahabat saya di SMA yang saya tahu sangat religius. Dia meminta saya terus bersamanya dan dia mulai mengajari saya," jelas Hamza.

Pria yang menarik Hamza ke dalam pengaruhnya adalah Omarjan Azari, warga Australia keturunan Afghanistan, yang tahun lalu dituntut melakukan rencana pembunuhan secara acak terhadap warga Sydney.

Sejak menganut penafsiran Islam garis keras, Hamza menjadi bagian dari kelompok kecil anak muda yang diduga merupakan pendukung kelompok teroris ISIS di Sydney Barat.

Hamza mengatakan, meskipun dia mendukung Islam radikal, namun dia tidak ingin membuat kerusakan di Australia.

"Semua orang ingin mati untuk Allah, kita semua ingin kehidupan terbaik di hari kemudian dan menghuni surga ketujuh," katanya merujuk pada konsep surga dalam ajaran Islam.

Melalui wawancara ABC ini, untuk pertama kalinya publik di Australia mendengar pengakuan remaja yang terkait dengan penggerebekan terorisme di Sydney belum lama ini.

Pengakuan Hamza memberi gambaran bagaimana radikalisasi terjadi di kalangan remaja Australia.

Hamza merupakan salah seorang di antara puluhan orang yang digerebek polisi pada September 2014 lalu, terkait rencana pembunuhan dan penculikan warga Sydney secara acak.

Dia juga merupakan teman dekat Raban Alou, yang pekan lalu dituntut terlibat dalam aksi penembakan Curtin Cheng, karyawan kepolisian di Parramatta.

Alou diduga menyiapkan senjata untuk Farhad Jabar (15 tahun) dan menemuinya di Masjid Parramatta sehari sebelum penembakan.

Hamza juga mengenal Farhad Jabar karena keduanya sama-sama belajar mengaji di masjid itu.

"Dia pendiam, sibuk dengan dirinya sendiri, selalu beribadah," kata Hamza tentang Farhad Jabar.

Saat ditanya apakah Hamza mendukung ISIS, dia mengatakan, "Saya tidak akan menjawab pertanyaan itu, sebab kalau saya bilang iya, saya akan dapat masalah. Dan kalau saya bilang tidak, berarti saya bohong. Saya setuju sebagian opini mereka dan tidak setuju sebagian lainnya".

Secara terpisah, mantan penyidik kasus terorisme pada Kepolisian New South Wales (NSW) Peter Moroney usai mendengarkan wawancara Hamza ini, menyatakan radikalisasi yang dialami Hamza mengkhawatirkan.

"Jawabannya bersifat mengelak. Tapi secara sederhana bisa dikatakan dia mendukung (ISIS) dan hal ini mengkhawatirkan," kata Moroney.

"Kita ketahui bahwa secara umum anak muda memang rentan – mereka merasa tidak memiliki identitas dalam komunitasnya, mengalami keluarga yang berantakan, dan umumnya terkait dengan kejahatan. Semuanya merupakan basis ideal bagi anak muda untuk mengalami radikalisasi," katanya.

Dalam wawancara itu, Hamza mengatakan mendukung aksi pemenggalan kepala oleh ISIS di Suriah dan Irak dan percaya bahwa syariat Islam seharusnya diterapkan di seluruh dunia.

"Apa yang terjadi di luar negeri? Syariah terus berkembang, mereka yang mencuri dipotong tangannya, mereka yang membunuh butuh empat saksi dan dihukum mati, tidak boleh pakai narkoba, tidak boleh merokok, tidak boleh minum alkohol, tidak boleh ada pelacuran," kata Hamza mengenai apa yang ia pahami sebagai syariah.

Kelompok remaja tempat Hamza bergabung terdiri atas mereka yang baru berusia awal 20an tahun. Umumnya mereka saling mengenal saat SMA di Sydney Barat. 

Mereka belajar mengaji pada guru yang mengajarkan paham Salafisme di Masjid Parramatta. Polisi menyebut kelompok ini sebagai syura (merujuk kepada dewan atau kelompok).

"Kami saling menasehati," kata Hamza.

"Apa yang haram dalam ajaran agama kami misalnya mendengarkan musik, bicara dengan wanita (yang bukan muhrimnya), bercampur-baur dengan orang, pergi ke hiburan malam. Kami tidak melakukan semua itu, orang kafir yang melakukannya," tutur Hamza menjelaskan tentang hal-hal haram dalam ajaran Islam menurut pemahamannya.

Simak wawancara lengkap ABC dengan Hamza di sini.