ABC

Peneliti Top Australia Berbagi Kelas Inspirasi di Indonesia

Peneliti senior dari sejumlah universitas di Australia, pekan ini berbagi kelas inspirasi dengan para peneliti muda Indonesia di Jakarta. 

Selain memaparkan penelitian unggulan berbasis Industri yang banyak dilakukan di Australia, kelas inspirasi ini juga melatih peserta mengembangkan keterampilan menulis proposal penelitian, publikasi riset di jurnal internasional hingga membangun profil kompetensi dalam karir mereka sebagai peneliti.

Total 12 orang peneliti top Australia dari berbagai lintas disipilin ilmu memaparkan pengalaman riset unggulan mereka di institusi pendidikan masing-masing, mulai dari Perencanaan Perkotaan, Kebijakan Publik, Teknologi Pangan, Pendidikan, Arsitektur hingga Energi Terbarukan.

Para peneliti Australia ini juga didampingi oleh 8 peneliti senior Indonesia.

Mereka hadir dalam event ‘The Inspiring International Research Excellence (IIRE)’ 2017 yang diselenggarakan berkat kerjasama antara Kementerian Agama (Kemenag)  dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dengan lima perguruan tinggi di Australia yang tergabung dalam Australian Technology Network of University (ATN) yakni Curtin University, University of South Australia (UniSA), RMIT University, Queensland University of Technology (QUT) dan University of Technology Sydney (UTS) awal pekan (23-24/10/2017) di Jakarta.

nd Inspiring International Research Excellence (IIRE) tahun 2017
"Seminar and Workshop 2nd Inspiring International Research Excellence (IIRE) tahun 2017 menampilkan 12 peneliti ternama di Australia dan 8 peneliti senior Indonesia.

Supplied: ATN

Pemimpin delegasi peneliti Australia, Associate Professor, Karien Dekker dari RMIT mengatakan ke-12 peneliti yang dihadirkan merupakan yang terbaik di bidang masing-masing.

“Mereka adalah peneliti top dari universitas kami (ATN), hampir semuanya adalah professor penuh atau Associate professor. Mereka memiliki kiprah di dunia internasional dan merupakan penerima grant dari berbagai lembaga.”

“Namun yang utama adalah mereka seluruhnya aktif mensupervisi penelitian para mahasiswa PhD di kampus masing-masing. Jadi mereka memiliki keterlibatan yang penuh dengan mahasiswa PhD sehingga memudahkan peserta untuk berkonsultasi langsung mengenai gagasan risetnya,” ungkap Karien Dekker kepada jurnalis ABC di Jakarta, Iffah Nur Arifah.

Di salah satu kelas dengan topik Keamanan Pangan misalnya, menghadirkan Professor Sagadevan Mundree, Direktur Pusat Tanaman Tropis dan Biokomoditas (CTCB) di Queensland University of Technology (QUT).

Profesor kelahiran Durban, Afrika Selatan ini berbagi hasil riset unggulannya mengenai rumput asli Australia ‘tripogon loliiformis’ yang mampu bertahan hidup di tengah lingkungan kekeringan yang ekstrem.

Hasil penelitian ini kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan varietas tanaman yang lebih kuat dan mampu bertahan menghadapi iklim yang tidak pasti akibat perubahan iklim.

Professor Sagadevan Mundree
Professor Sagadevan Mundree, Direktur Pusat Tanaman Tropis dan Biokomoditas (CTCB) di Queensland University of Technology (QUT), berbagi hasil riset unggulannya mengenai rumput asli Australia tripogon loliiformis dengan peserta IRRE di Jakarta (24/10/2017).

ABC - Iffah Nur Arifah

Gen dan sistem peraturan yang dimiliki rumput asli Australia itu kemudian diterapkan pada tanaman pangan global seperti buncis dan padi.

Dan pada akhirnya bisa menghasilkan tanaman yang mampu bertahan meski pasokan airnya berkurang drastis.

Kelas ini diakui Ferli Septi Irwansyah, salah satu peserta dari UIN Sunan Gunung Jati Bandung, sangat informatif dan inspiratif.  

“Bagus sekali informasinya mengenai keamanan pangan dan isu-isu global lainnya. Saya sangat terinspirasi. Kebetulan institusi saya memang sedang mengembangkan pusat penelitian produk pangan halal. Jadi saya ikut di kelas ini.” tuturnya usai mengikuti kelas Professor Sagadevan Mundree.

Ia juga mengapresiasi kegiatan IRRE ke-2 yang menurutnya bisa memberikan kesempatan kolaborasi dan jaringan dengan peneliti di Australia. Sesuatu yang menurutnya sangat diperlukan peneliti di Indonesia.

“Tantangan paling besar bagi peneliti di Indonesia itu infrastruktur, penelitian itu membutuhkan banyak instrument dan biasanya di Perguruan Tinggi di Indonesia itu sangat terbatas."

"Makanya solusinya ya antara lain melakukan joint research atau kolaborasi. Nanti kita disini bisa berbagi ide penelitian, dan disana mungkin dapat menyediakan fasilitas yang lebih lengkap.” ungkapnya.

Ferli Septi Irwansyah
Ferli Septi Irwansyah, Dosen Kimia UIN Bandung mengakui infrastruktur dan fasilitas laboratorium menjadi tantangan utama peneliti di Indonesia.

ABC - Iffah Nur Arifah

Kualitas riset belum memuaskan

Event Inspiring International Research Excellence (IIRE)  2017 ini merupakan salah satu tindak lanjut dari MoU antara Kementerian Agama dengan Australian Technology Network (ATN) beberapa tahun lalu guna mendukung target Kemenag mencetak 5000 doktor pada tahun 2020.

Para ilmuwan itu diharapkan dapat melakukan penelitian diberbagai bidang yang berbasis pada kebutuhan riil dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sesuatu yang menurut Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Prof. Dr. Kamaruddin Amin masih jauh dari memuaskan. Padahal jumlah anggaran yang digelontorkan untuk sektor riset ilmiah cukup besar.

“Biaya penelitian yang dikeluarkan Kementerian Agama itu sudah sangat banyak sekali, tetapi hasil penelitiannya belum dinikmati dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat."

"Untuk dapat dinikmati, salah satunya dengan publikasi ilmiah, baik di jurnal nasional maupun internasional," ujar Kamaruddin Amin, ketika membuka acara  Inspiring International Research Excellence (IIRE)  2017 di Karawaci, Senin (23/10).

Ia berharap lebih dari 300 peserta yang terdiri dari peneliti, akademisi dan cendikiawan dari berbagai institusi Pendidikan di bawah naungan Kemenag dapat memanfaatkan acara ini dan terinspirasi melakukan penelitian yang berkualitas.

Selain di Jakarta, acara serupa juga akan digelar di Kota Makassar pada 26-27 Oktober 2017, yang akan difasilitasi oleh Kemenristekdikti.