ABC

Peneliti Australia Temukan Protein Inflamasi Cegah Kanker Payudara

Para peneliti di Adelaide Australia kemungkinan telah menemukan cara lebih baik dalam penggunaan obat anti peradangan (anti-inflammatory) untuk mencegah terjadinya kanker payudara.

Peneliti pada Hospital Research Foundation berhasil mengidentifikasi sebuah protein yang menyebabkan inflamasi dan meningkatkan kepadatan payudara bagi sebagian wanita, sehingga meningkatkan risiko mereka terkena kanker.

Associate Professor Wendy Ingman, dari University of Adelaide, menjelaskan bahwa penemuan ini merupakan langkah maju dalam upaya mencegahan kanker payudara.

"Jika kita bisa mengidentifikasi perempuan yang paling berisiko kanker payudara dan yang tak akan mendapatkan manfaat dari pengobatan anti peradangan seperti aspirin, maka kita bisa mengarahkan pengobatan itu bagi mereka yang tepat," katanya.

Penelitian terdahulu menghubungkan obat-obatan seperti aspirin dengan penurunan risiko kanker payudara. Namun penggunaan obat untuk jangka panjang bisa menimbulkan efek samping bagi masyarakat umum.

"Wanita dengan tisu payudara yang sangat padat memiliki peningkatan enam kali risiko terkena kanker dibandingkan dengan wanita yang tisu payudaranya tidak padat," jelas Associate Professor Ingman.

"Kita kami pada tahap dimana kami bisa mengidentifikasi pengobatan baru untuk mengurangi kepadatan payudara dan sekaligus mengurangi risiko kanker payudara pada wanita," katanya.

Breast density chart
Tingkat kepadatan payudara perempuan.

Foto Kiriman: The Hospital Research Foundation (Adelaide)

Diperkirakan hampir 8 persen wanita memiliki kepadatan tisu payudara sangat tinggi, meningkatkan peluang meereka mengalami kanker payudara.

"Jika Anda tanya saya lima tahun lalu mengenai kemungkinan pencegahan kanker payudara, saya akan kesulitan menjawabnya," ujar Associate Professor Ingman lagi.

"Namun kini kami semakin memahami langkah-langkah biologis yang menyebabkan risiko kanker payudara, sehingga muncul dengan ide baru bagaimana kita bisa mengurangi risiko tersebut dan mencegah kanker payudara," tambahnya.

Para peneliti mengatakan langkah berikut bagi mereka adalam melakukan penelitian lanjutan tentang pengobatan terbaik yang bisa membatasi inflamasi.

Diterbitkan Pukul 16:00 AEST oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris di sini.