ABC

Pencari Suaka di Christmas Island Mengaku Diperkosa

Seorang pencari suaka perempuan yang ditahan di pusat detensi Christmas Island, Australia, mengaku diperkosa oleh pencari suaka lainnya di pusat detensi tersebut. Pengakuan ini tengah diselidiki oleh Kepolisian Australia.

Ketua Pemerintahan Christmas Island, Gordon Thomson, menyatakan bahwa perempuan tersebut mengalami kekerasan seksual dalam salah satu kompleks permukiman keluarga yang ada di pulau tersebut.

Pelaporan dilakukan akhir minggu lalu.

"Ada tuduhan bahwa seorang perempuan diperkosa di kompleks Aqua..." jelas Thomson. Ia menambahkan bahwa keadaan kompleks Aqua dan juga kompleks Lilac saat ini sangat buruk.

Belum jelas apakah sudah ada tuduhan yang dijatuhkan, karena semua orang "amat berahasia mengenai informasi tentang apapun yang terjadi di pusat detensi imigrasi di Christmas Island," lanjutnya,

"Tapi setahu saya tuduhan pemerkosaan dilaporkan ke Serco hari Sabtu (28/12/2013)  lalu, dan polisi sudah mewawancara orang yang mengajukan tuduhan."

Serco adalah perusahaan yang menangani pusat detensi.

Menurut Thomson, alasan dibalik kerap berlangsungnya kejadian macam ini adalah jumlah staf yang tak memadai, sementara kompleks tahanan dihuni begitu banyak orang.

"...Banyak perempuan yang belum menikah di kompleks tahanan mengajukan kekhawatiran mereka pada petugas departemen imigrasi mengenai kemungkinan datangnya laki-laki dewasa berusia muda dalam jumlah besar" ucapnya, "Mereka khawatir mengenai keselamatan diri mereka."

Saat ini , lebih dari 2.200 pencari suaka tengah ditahan di wilayah milik Australia di Samudera Hindia. Jumlah ini mengkhawatirkan karena dianggap memadati pusat detensi, ditambah lagi dengan kondisi sanitasi buruk di tengah musim hujan.

Seorang juru bicara untuk Menteri Imigrasi Australia, Scott Morrison, telah menyatakan bahwa saat ini tak ada rencana mentransfer laki-laki dewasa yang belum menikah ke dalam kompleks yang sama.

Namun penduduk di Christmas Island mengatakan bahwa ada rencana untuk memindahkan laki-laki yang belum menikah ke dalam kompleks tahanan keluarga, dalam rangka program reuni keluarga.

Saat ini, terdapat 11 staf yang bertugas di malam hari di kompleks tersebut. Jumlah ini, menurut Thomson, "tidak cukup."

Ia memperkirakan terdapat "ratusan" orang di pusat detensi Aqua dan Lilac, namun jumlah pastinya tak tersedia.