ABC

Pemimpin Khmer Merah Yang Masih Hidup Divonis Bersalah Atas Genosida

Satu-satunya pemimpin senior Khmer Merah yang masih hidup telah terbukti bersalah melakukan genosida dalam sebuah putusan penting oleh pengadilan kejahatan perang yang berlangsung lama di Kamboja.

Nuon Chea, 92 tahun, "Saudara Nomor Dua" bagi Pol Pot, dan mantan Presiden Khieu Samphan, 87 tahun, dinyatakan bersalah atas genosida etnis Vietnam-Kamboja selama era Khmer Merah pada tahun 1970-an.

Meski demikian, para hakim di pengadilan Khmer Merah mengatakan bahwa walau genosida juga dilakukan terhadap minoritas Cham - Muslim yang dipaksa untuk makan daging babi, dilarang sholat, dan membakar Al-Quran mereka - kedua lelaki itu tak memiliki "niat genosida".

Akibatnya, Nuon Chea dinyatakan bersalah melakukan genosida terhadap Cham dengan level "tanggung jawab superior", sementara terdakwa lainnya dibebaskan dari dakwaan.

Vonis pada hari Jumat (16/11/2018) adalah pertama kalinya pengadilan memutuskan bahwa Khmer Merah melakukan genosida.

Diperkirakan 2 juta orang Kamboja meninggal karena kerja paksa, kelaparan dan pembunuhan massal selama era Khmer Merah, yang berlangsung dari April 1975 hingga Januari 1979.

Rezim ultra-Maois yang brutal, yang dipimpin oleh Pol Pot, memindahkan secara paksa penduduk dari daerah dan kota-kota, dan mengirim mereka ke kamp-kamp kerja paksa pedesaan, sebuah eksperimen yang memporak-porandakan bangsa ini.

Nuon Chea, yang dikenal sebagai Saudara Nomor Dua, adalah komandan kedua untuk pemimpin Khmer Merah Pol Pot.
Nuon Chea, yang dikenal sebagai Saudara Nomor Dua, adalah komandan kedua untuk pemimpin Khmer Merah Pol Pot.

Supplied: ECCC

Kedua orang itu telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan pada tahun 2014.

Dalam putusan hari Jumat (16/11/2018), mereka dinyatakan bersalah atas kejahatan lebih lanjut terhadap kemanusiaan termasuk perkawinan paksa, perkosaan, penganiayaan atas dasar agama dan ras, penghilangan paksa dan pemusnahan.

Orang-orang itu - yang mengaku sebagai pemimpin Khmer Merah tetapi menolak tuduhan terhadap mereka - menerima tambahan hukuman seumur hidup, yang akan digabungkan dengan hukuman penjara yang ada.

Banyak pengamat percaya bahwa keputusan itu kemungkinan menandai keputusan akhir untuk pengadilan yang didukung PBB, yang telah menghadapi kecaman karena pengejarannya terhadap keadilan dan ruang lingkup yang terbatas.

Didirikan pada 2006, Kamar Luar Biasa di Pengadilan Kamboja, sebagaimana diketahui secara resmi, sejauh ini hanya menghukum tiga orang dengan nilai lebih dari $ 400 juta (atau setara Rp 4 triliun).

Satu-satunya orang lain yang dihukum adalah Kaing Guev Ek, yang dikenal sebagai Duch, yang mengoperasikan penjara terkenal S21 di Phnom Penh, di mana 12.000 orang tewas.

Khieu Samphan adalah presiden Republik Demokrasi Kamboja, atau yang disebut Khmer Merah di Kamboja.
Khieu Samphan adalah presiden Republik Demokrasi Kamboja, atau yang disebut Khmer Merah di Kamboja.

Supplied: ECCC

Pol Pot meninggal sebagai warga bebas pada tahun 1998, sementara "Saudara Nomor Tiga"-nya, Leng Sary dan istrinya, Leng Thirith, keduanya dituntut tetapi meninggal sebelum mereka dapat diadili.

Pengadilan masih memiliki tanggungan dua kasus, mengenai anggota-anggota dari kelompok berikutnya dalam hierarki Khmer Merah.

Tetapi seiring dengan menuanya terdakwa, pengadilan menghadapi tantangan pendanaan abadi dan oposisi politik yang kuat di Kamboja, tampaknya tidak mungkin mereka akan dituntut.

Perdana Menteri Hun Sen -ia sendiri mantan komandan Khmer Merah - telah lama menjadi penentang keras untuk mengijinkan kasus-kasus itu berlanjut.

Rebecca Gidley, seorang pakar di pengadilan yang berpusat di Australian National University (ANU), mengatakan bahwa Pemerintah Kamboja memiliki banyak hal yang dipertaruhkan.

"Jadi setiap perluasan target tersangka adalah ancaman terhadap narasi yang telah mereka bangun sejak 1979."

Ribuan warga Kamboja telah menyaksikan proses pengadilan di sidang Khmer Merah.
Ribuan warga Kamboja telah menyaksikan proses pengadilan di sidang Khmer Merah.

Supplied: ECCC

Dengan hampir 40 tahun berlalu sejak jatuhnya rezim itu akibat invasi yang didukung Vietnam, banyak orang Kamboja mengatakan mereka sekarang lebih memilih untuk melihat masa depan daripada tinggal di masa lalu.

Hampir 70 persen penduduk Kamboja berusia di bawah 30 tahun, yang berarti sebagian besar penduduk tidak hidup melalui masa tergelap di negara mereka.

Tapi Youk Chhang, direktur Pusat Dokumentasi Kamboja, yang mengkategorikan kekejaman yang dilakukan di bawah Khmer Merah, mengatakan tidak ada yang melarikan diri dari fakta bahwa negara itu sekarang dibentuk oleh "ladang pembantaian" yang terkenal.

Agama dilarang selama era Khmer Merah, dengan para biarawan dan biarawati dipaksa untuk melepaskan jubah mereka.
Agama dilarang selama era Khmer Merah, dengan para biarawan dan biarawati dipaksa untuk melepaskan jubah mereka.

Ia mengatakan, periode itu harus diingat, agar tidak terjadi lagi.

"Tidak seorang pun ingin tinggal di era Khmer Merah, tidak ada yang ingin mengingat Khmer Merah ... tetapi bagaimana Anda bisa melupakan kejahatan yang dilakukan terhadap kerabat Anda, saudara dan saudari Anda sendiri, dan jutaan rekan Anda?," tanya Chhang.

Seorang petugas keamanan pengadilan
Seorang petugas keamanan pengadilan, kanan, membimbing siswa ketika mereka memasuki ruang sidang sebelum sidang melawan Nuon Chea dan Khieu Samphan digelar.

AP: Heng Smith

Chhang, yang juga seorang penyintas Khmer Merah, mengatakan putusan hari Jumat (16/11/2018) adalah tonggak bersejarah bagi Kamboja.

"Kami didorong oleh komunitas internasional untuk menghadapi masa lalu kami yang mengerikan, dan kami melakukan ini," katanya.

"Jadi dengan menghadapi ini - melalui pengadilan, melalui pendidikan - saya pikir Kamboja [menunjukkan] banyak keberanian dan menunjukkan sisi yang lain, yang merupakan ketahanan rakyat Kamboja."

Pengadilan masih memiliki tanggungan dua kasus tentang anggota-anggota dari kelompok berikutnya dalam hierarki Khmer Merah.
Pengadilan masih memiliki tanggungan dua kasus tentang anggota-anggota dari kelompok berikutnya dalam hierarki Khmer Merah.

AP: Heng Sinith


Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.