ABC

Pelecehan Ekonomi Juga Banyak Terjadi di Australia

Menurut sebuah penelitian terbaru, sekitar 11 persen warga Australia – baik pria dan wanita – menderita pelecehan ekonomi dari pasangan mereka, dan banyak yang tidak menyadari ini adalah bentuk lain dari kekerasan dalam rumah tangga.

Istilah economic abuse (pelecehan secara ekonomi) adalah situasi dimana seseorang tergantung secara ekonomi pada pasangannya, sehingga mereka tergantung pada orang yang kadang memperlakukan mereka dengan buruk.

Para peneliti dari RMIT University di Melbourne mengatakan sejauh ini sangat sedikit sekali data mengenai hal tersebut, sehingga mereka kemudian menganalisa data yang didapat dari Biro Statistik Australiayang melakukan survei terhadap 17 ribu warga Australia.

Peneliti utama Jozicka Kutin mengatakan mereka menemukan bahwa 16 persen perempuan yang disurvei memiliki sejarah pelecehan ekonomi tersebut, sementara 7 persen pria mengalami hal yang sama dalam hubugan mereka sebelumnya.

Perempuan dengan masalah kesehatan panjang, atau difabel paling besar kemungkinan menjadi korban pelecehan ekonomi tersebut.

Kutin mengatakan warga sering kali pergi ke dokter, bank atau badan layanan sosial, namun tidak sadar bahwa mereka mengalami keadaan pelecehan ekonomi tersebut.

“Bank bisa menjadi tempat yang aman, sebagai contoh untuk perempuan menyelesaikan beberapa masalah ini.” katanya.

“Di sanalah staf bisa bertanya mengenai sesuatu yang salah, misalnya ‘kemana saja uang anda digunakan selama ini.” dan dari itu persoalannya bisa diketahui.

Tetapi Kutin mengatakan setelah itu sulit bagi staf bank atau orang lain untuk melakukan langkah berikutnya.

“Di sinilah masalahnya.Karena orang ini beranggapan ini adalah bentuk kekerasan dalam rumah tangga, mereka tidak mencari bantuan ke layanan semacam itu, mereka juga tidak akan mencari di internet karena tidak ada istilah semacam itu.” katanya.

‘Ayah saya menguasai semuanya’

Menurut Kutin, soal pelecehan ekonomi ini juga dirasakannya sendiri.

“Ibu saya adalah migran baru di Australia dan kami berasal dari kelas pekerja.” katanya.

“Hal yang lebih sulit lagi bila ada yang berulang tahun, atau ibu saya memerlukan baju baru, betapa susahnya meminta uang dari ayah.”

Tetapi Kutin juga terkejut melihat hal yang sama juga terjadi di kalangan teman-temannya dan bahkan anak-anak mereka.

“Mereka padahal adalah lulusan universitas yang memiliki pasangan yang profesional dan pintar.” katanya.

“Dan mendengar ini juga terjadi pada anak-anak yang lebih muda, hal ini sangat mengejutkan.”

Para peneliti RMIT sekarang memusatkan perhatian pada masalah pelecehan ekonomi dalam hubungan keluarga muda yang berusia antara 18 sampai 29 tahun, dan berusaha menyarankan strategi untuk pencegahan dan bagaimana mengatasinya.

Diterjemahkan pukul 13:00 AEST 2/3/2017 oleh Sastra Wijaya dan simak beritaya dalam bahasa Inggris di sini