ABC

Pekerja Konstruksi Perempuan Diganjar Ganti Rugi Senilai Rp12 miliar

Seorang pekerja konstruksi perempuan yang menjadi korban penyerangan dan pelecehan seksual, bullying dan ancaman perkosaan di tempatnya bekerja di Melbourne memenangkan gugatan ganti rugi senilai $1,3 juta atau senilai Rp12 miliar.

Warga Melbourne, Kate Mathews menggugat perusahaan kontraktor bangunan tempatnya bekerja Winslow Constructors atas kekerasan, bullying dan pelecehan seksual yang dia alami selama dua tahun bekerja di perusahaan tersebut.

Pengadilan Tinggi Victoria mendengar keterangan bahwa selama bulan Agustus 2008 hingga Jul 2010,  rekan kerja wanita itu telah mengancam akan memperkosa, menyentuhnya dengan tidak pantas dan mengejeknya mengenai perangkat seks dan juga tindakan seksual.

Dalam satu kesempatan salah seorang rekan kerjanya menegaskan : "Apapun yang mengeluarkan darah setiap bulan harus ditembak,"

Rekan yang lain mengatakan : "Saya akan mengikuti kamu pulang, melepaskan pakaian kamu dan memperkosa kamu."

Kate Mathews mengatakan sejumlah pekerja yang lain menariknya dan berpura-pura melakukan tindakan seksual terhadapnya, dia juga seringkali ditepuk dibagian belakangnya dipertunjukan gambar-gambar porno dan ditanya "apakah kamu mau melakukan ini?"

Dia mengatakan selama bekerja di perusahaan itu dia merasa direndahkan setiap hari.

Dia mengatakan ketika dia melamar pekerjaan di Winslow dia memang sudah menduga akan masuk ke lingkungan kerja yang penuh budaya pria tapi dia tidak suka dengan perlakukan yang dilakukan terhadapnya.

"Yang saya dapatkan adalah tindakan hardcore yang merendahkan, "katanya.
 
"Saya sudah mencoba untuk mengabaikan mereka dan hanya mengabaikannya, menggelengkan kepala."
 
Dia juga biasa disebut "tidak berguna, kejang dan bimbo".
 
Dia mengatakan ketika dia mencoba untuk melaporkan penyalahgunaan ini kepada atasannya, tidak ada yang dilakukan.

"Mereka tidak menanggapi, itu sebabnya aku saya mengajukan gugatan ," katanya.
 

Kuasa hukumnya,  Liberty Sanger, mengatakan Mathews berusaha keras untuk melaporkan agar perlakuan yang dialaminya mendapatkan perhatian majikannya tapi keluhannya hanya ditertawakan.

"Ada pesan yang sangat keras dalam kasus ini bagi semua pengusaha kalau Anda tidak boleh mentoleransi sedikitpun pendekatan bullying dan pelecehan seksual di lingkungan kerjanya," kata Sanger.

Sanger mengatakan meski ganti rugi $1,36 juta yang didapatkan kliennya tidak menjadi rekor, namun jumlah itu merupakan pembayaran ganti rugi tertinggi untuk kasus pelecehan seksual.

Dalam penilaiannya, Hakim pengadilan Victoria, Terry Forrest sepakat kalau Mathews adalah karyawan yang baik dan sekarang menderita penyakit kejiwaan kronis.

Dia  sepakat dengan saran kedokteran  yang menyarakan tampaknya Mathews tidak mampu lagi bekerja.

Mathews mengatakan dia belum tahu apa rencananya di masa depan namun dia akan berusaha untuk memfokuskan diri agar menjadi lebih baik. 

Namun dia menyarankan agar siapa saja yang mengalami pelecehan seksual di lingkungan kerja untuk bertindak.

"Jangan diam saja, lakukan sesuatu," katanya.

"Jika bos Anda tidak mendengarkan, laporkan.

"Ini bukan soal uang, tapi soal mampu bekerja dimana saja yang saya inginkan dan mereka telah merampas kebebasan itu dari saya,"