ABC

Pakar Pendidikan Ragukan Masa Depan TAFE di Australia

Sejumlah pakar pendidikan di Australia mengatakan institusi pendidikan TAFE (Technical and Further Education), setingkat dengan sekolah kejuruan atau politeknik, berada di ujung tanduk.

Alasannya, karena sejumlah sekolah tidak mampu bersaing dengan sekolah-sekolah swasta, atau private college, yang kini lebih disukai pemerintah untuk dijadikan contoh.

Aaron Ngo, usia 20 tahun, adalah salah satu siswa yang sedang belajar memasak di sebuah TAFE di Sydney.

"Saya cukup bahagia dengan apa yang saya kerjakan, dan senang bagaimana TAFE memperlakukan saya," ujarnya yang bercita-cita menjadi juru masak.

"Dari yang saya lihat TAFE lebih menyalurkan siswa-siswanya ke pasar kerja, ketimbang universitas atau college."

Tapi keadaan ini mungkin akan berubah di masa depan, seperti yang disampaikan Profesor Leesa Wheelahan, dari University of Melbourne.

"Jika kita tidak mengubah sistemnya dan tidak menghargai TAFE, maka kita akan kehilangannya dalam waktu lima tahun," ujarnya kepada program radio PM ABC.

"Posisi kita saat ini ada dua, yakni membiarkannya hilang atau menyelamatkannya, dan harus keputusan harus diambil sekarang."

Profesor Leesa mengatakan tanpa perubahan dan kebijakan, TAFE beresiko tak akan ada lagi.

"Masalahnya, sekolah kejuaran ini berlandaskan pada pasar, dan ini pasar yang sepenuhnya tentu untuk mencari keuntungan... dan ini akan menyebabkan hal-hal yang tidak baik."

"Yang perlu kita perhatikan adalah membuat TAFE sebagai sebuah sektor, menjadi inti dalam sebuah sistem, yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan sosial."

Ia menganjurkan agar semua yang terlibat dalam TAFE, termasuk pemerintah, pekerja, dan serikatm untuk duduk bersama dan membicarakan peranan TAFE.

Anak muda tidak lagi butuh keahlian yang terbatas

Sementara itu, Direktur Eksekutif dari lembaga TAFE Directors Australia mengatakan jika tidak ada perubahan, TAFE bisa menjadi bom waktu.

Lembaga yang berisi para direktur dari institusi dan sekolah TAFE mengadakan pertemuan di Sydney untuk membicarakan agar mereka bisa bertahan.

"Apa yang saya dengar adalah perlu adanya membawa pendidikan kembali ke institusi kejuruan dan pelatihan, sudah terlalu lama hanya terfokus pada memberikan sejumlah keahlian yang terbatas untuk pekerjaan masa kini," ujar Craig Robertson, Direktur Eksekutif TAFE Directors Australia.

"Jadi tidak perlu terkejut jika kita khawatir dengan keahlian yang dimiliki dalam pasar tenaga kerja kita."

Menurut Craig apa yang dibutuhkan adalah investasi dan pelatihan yang lebih luas dan mendalam bagi anak-anak muda.

Karen Andrew, asisten menteri bidang pendidikan kejuruan dan keahlian mengatakan pemerintah Australia terus mendukung TAFE. Salah satunya dengan mengucurkan dana tambahan $1,5 miliar, sekitar Rp 15 triliun per tahunnya.

Simak beritanya dalam bahasa Inggris lewat program radio PM dari ABC disini.