ABC

Orang yang Tak Suka Berkonflik Ternyata Bahagia Ketika Melajang

Iklan kencan online mungkin menyebut bahwa hidup melajang itu menyebalkan, tapi sebuah studi terbaru mengungkap, banyak dari mereka yang tak terikat suatu hubungan, hidup sangat bahagia - terutama jika mereka benci untuk berdebat.

Penelitian yang dilakukan Universitas Auckland di Selandia Baru dan melibatkan 4.000 responden, menemukan bahwa orang-orang yang takut akan terlibat konflik dalam suatu hubungan merasakan kebahagiaan melajang yang sama dengan ketika mereka berada dalam suatu hubungan.

Peneliti utama, Yuthika Girme, mengatakan, hal ini bertentangan dengan mayoritas temuan dari penelitian serupa sebelumnya.

"Ini adalah temuan yang terdokumentasi dengan baik bahwa para lajang cenderung kurang bahagia dibandingkan dengan mereka yang punya pasangan, tapi itu mungkin tak berlaku bagi semua orang," jelasnya.

"Lajang juga bisa punya kehidupan yang memuaskan," sambungnya.

Menjadi lajang adalah berkah bagi banyak orang. (Foto: Flickr, RelaxingMusic)
Menjadi lajang adalah berkah bagi banyak orang. (Foto: Flickr, RelaxingMusic)

Penelitian, yang diterbitkan dalam jurnal Ilmu Psikologi Sosial dan Kepribadian, ini mengungkap bahwa orang yang menghindari ‘kompromi sosial’ yang tinggi - yang berarti mereka berusaha keras untuk menghindari perbedaan pendapat – sama bahagianya ketika mereka melajang.

Penelitian ini menyebut, menjadi lajang bisa menghapus beberapa kecemasan yang dipicu oleh konflik hubungan bagi orang-orang tersebut.

Tapi mereka yang tak begitu khawatir tentang pasang surut sebuah hubungan, kurang bahagia ketika melajang.

Konselor hubungan di lembaga Kesehatan Seksual Australia, Desiree Spierings, mengatakan, seseorang bisa memiliki dua jenis tujuan sosial yang berbeda: tak suka kompromi atau mengusahakan kompromi.

"Apakah Anda berfokus pada memaksimalkan hasil positif dalam hubungan Anda, yang merupakan kompromi, atau Anda fokus pada meminimalkan hasil negatif, yang disebut dengan menghindari kompromi?" tanyanya.

Ia menjelaskan, "Penting untuk dicatat bahwa meskipun beberapa orang mungkin cenderung lebih suka kompromi dan lainnya mungkin lebih menghindari kompromi, Anda akhirnya bisa memilih jenis tujuan apa yang Anda sukai.”

"Terutama karena ada jalur yang berbeda di otak," tambahnya.

Desiree mengatakan, hubungan romantis di mana kedua pasangan memiliki tujuan kompromi yang tinggi menuai manfaat terbesar.

"Orang-orang seperti itu lebih puas dengan hubungan mereka, hasrat seksual mereka tak menurun seiring berjalannya waktu, mereka merasa lebih dekat dengan pasangan mereka, dan kurang mungkin untuk berpikir tentang putus hubungan," sebutnya.

Ia mengungkapkan, masyarakat bisa memberi tekanan agar orang-orang berada dalam suatu hubungan, karena itu dianggap "norma".

"Jika semua teman-teman kita mulai bertemu seseorang, hidup bersama, menikah, dan punya bayi, kadang-kadang kita merasa hidup di luar lingkaran," utaranya.

Desiree menambahkan, penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa seseorang tak membutuhkan pasangan hanya untuk bahagia.

"Kita bisa memiliki atap di atas kepala kita, tertawa dengan teman-teman kita, menikmati makanan di meja, menikmati hidup dan benar-benar bahagia tanpa ada pasangan," katanya.