ABC

Nenek Moyang Kanguru Ternyata Tak Bisa Melompat

Dua spesies kanguru purba, yang tak melompat, telah muncul sebagai nenek moyang dari penerus mereka di era modern, dan diyakini telah mengalahkan spesies lain yang memiliki taring, dalam lomba evolusi untuk bertahan hidup.

Kanguru, yang bisa menjadi nenek moyang dari semua kanguru modern dan walabi di Australia, itu ditemukan oleh tim ilmuwan dari Museum Australia Barat, Universitas Queensland (UQ) dan Universitas New South Wales.

Kurator Mamalia di Museum Australia Barat, Dr Kenny Travouillon, mengatakan, spesies itu hidup sekitar 15-23 juta tahun yang lalu.

"Mereka cukup kecil dibandingkan dengan kanguru modern, mereka seukuran walabi. Kanguru ini bergerak dengan merangkak, kami tahu mereka tak bisa melompat karena kaki dan pergelangan tulang mereka bentuknya tak tepat," jelasnya.

Spesies baru ini ditemukan dari pemeriksaan fosil yang dikumpulkan oleh mahasiswa PhD UQ, Kaylene Butler, dari wilayah Warisan Dunia Riversleigh di barat Queensland.

Dr Kenny mengatakan, spesies itu tergolong genus baru dari hewan yang disebut ‘Cookeroo’.

"Dua spesies baru dalam genus itu merupakan Cookaroo bulwidarri, yang hidup sekitar 23 juta tahun yang lalu dan Cookaroo hortusensis, yang hidup 20-18 juta tahun yang lalu," terangnya.

"Dua spesies ini, khususnya, muncul satu demi satu ... mereka memberitahu kami tentang evolusi yang berkelanjutan dari genus kanguru dan lintasan serta evolusi kanguru secara bersamaan,” imbuhnya.

"Kami tahu sangat sedikit tentang evolusi marsupial sebelum 26 juta tahun yang lalu. Penemuan ini, pada dasarnya, mengisi kekosongan untuk memberitahu kami bagaimana mereka berevolusi," sambung Dr Kenny.

Tim ini percaya, spesies baru tersebut bersaing langsung dengan kelompok kedua kanguru, disebut ‘balbarid’ atau kanguru bertaring, yang juga tinggal di Riversleigh pada saat itu.

"Tampaknya spesies baru selamat dan keturunan mereka berkembang, kami percaya itu berkembang menjadi spesies kanguru lompat dan walabi modern, sementara sepupu mereka yang bertaring, punah," jelas Dr Kevin.

Ia mengemukakan, "Setiap kali kami menemukan spesies baru itu menambahkan pohon keluarga, dan kami bisa menganalisis serta memproses pemahaman kami sehingga itu terus berubah karena penemuan-penemuan baru."