ABC

Navicula Bicara Masalah Lingkungan Indonesia di TV Australia

Band beraliran rock asal Bali, Navicula sedang melakukan tur keliling Australia. Selain akan berkolaborasi dengan musisi Aborigin di Melbourne, ia juga bertemu dengan sejumlah komunitas lokal di Australia untuk membahas masalah-masalah dunia, khususnya isu lingkungan.

Sudah hampir lebih dari 20 tahun, band yang dikenal dengan istilah Green Grunge Gentlemen ini mengangkat masalah lingkungan lewat lirik di sejumlah lagunya.

Band yang dibentuk tahun 1996 ini sudah banyak bekerjasama dengan berbagai yayasan, baik di Indonesia maupun mancanegara. Sebut saja Greenpeace, Rainforest Action Network, Walhi, juga beberapa lembaga seperti KPK.

"Pertama karena saya sangat cinta musik, dan kedua karena kita peduli soal lingkungan dan masalah-masalah sosial," ujar Gede Robi, vokalis Navicula saat diwawancara oleh program ABC TV, The World.

Apa yang dilakukan oleh Robi dan rekan-rekannya adalah mencoba menjadi musik sebagai alat untuk mendidik.

"Misi kita adalah untuk menggaungkan masalah-masalah yang kita peduli, khususnya soal isu sosial dan lingkungan di Indonesia."

"Jika mereka tidak menyukai liriknya, mereka masih bisa menikmati musiknya. Ada pula mereka yang tidak suka musik rock, karena terlalu berisik, tapi mereka peduli dengan isinya dan apa yang kita lakukan," ujar Robi yang juga pernah mengikuti program Asia Society Young Leaders di tahun 2016.

Di acara televisi yang juga disiarkan di kawasan Asia Pasifik tersebut, Robi menjelaskan soal dampak lingkungan akibat pembangunan yang dilakukan.

Skip YouTube Video

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

Anda bisa menonton cuplikan wawancara Robi di acara The World lewat tautan berikut.

"Saya bukan anti pembangunan... saya sekarang sadar jika Indonesia butuh lebih banyak uang untuk membangun infrastruktur," kata Robi.

"Tapi, kadang solusinya adalah hanya menebang hutan dan membuat lebih banyak kelapa sawit."

Navicula sempat melakukan sesi latihan bersama musisi lokal Australia
Navicula sempat melakukan sesi latihan bersama musisi lokal Australia

Foto: Koleksi Navicula

Mencari solusi bersama

Bersama dengan organisasi Kopernik, yang dikenal dengan teknologi inovatif untuk perubahan di desa-desa di Indonesia, Navicula telah berbagi pengalaman dan bertukar pandangan dengan para seniman dan tokoh-tokoh dari sejumlah komunitas lokal di East Gippsland, Victoria. Diantaranya, bertemu dengan organisasi seni untuk perubahan sosial, seperti FLOAT dan Wurinbeena untuk mengagas ide-ide baru.

"Kesempatan untuk berkolaborasi dengan musisi Aborigin mengingatkan kami akan akar budaya kami di Bali dan pentingnya untuk tetap menghargai dan terhubungan dengan budaya leluhur dalam mencari solusi masalah saat ini, termasuk isu konservasi alam, yang seringkali solusinya sudah dilakukan komunitas suku asli," jelas Robi.

Musisi Aborigin yang berkolaborasi bersama Navicula adalah Kutcha Edwards dan Robbi Bundle, dimana mereka akan tampil di acara Mapping Melbourne tanggal 8 hingga 9 Desember mendatang.

"Suku Wurinbeena menyambut baik musisi Indonesia Navicula untuk berkolaborasi bersama komunitas kami, dan penyanyi kami Kutcha Edwards dan Robbie Bundle. Pastinya!" ujar Lannie Hayes, seorang seniman.

Navicula juga sempat tampil di acara Indonesia Forum di University of Melbourne.
Navicula juga sempat tampil di acara Indonesia Forum di University of Melbourne.

Foto: Windu Kuntoro

Sejumlah kegiatan lain yang sudah dilakukan Navicula selama di Melbourne adalah menjadi pembicara di Indonesia Forum di University of Melbourne.

Rabu malam kemarin (29/11) mereka juga tampil bersama beberapa band lokal Melbourne di The TOTE, sebuah pub ternama di Melbourne khusus bagi penikmat musik rock, untuk menggalang dana korban meletusnya Gunung Agung, Bali.

Selain di Melbourne, Navicula juga rencananya akan berada di Sydney dan Brisbane di lima hari pertama di bulan Desember.