ABC

Myuran Sukumaran Terharu Mendengar Dukungan dari Warga dan Parlemen Australia

Terpidana Mati Bali Nine, Myuran Sukumaran sangat gembira mendengar dukungan yang disuarakan oleh warga maupun Parlemen Australia terhadap dirinya. Myuran juga mengaku sulit tidur beberapa waktu belakangan karena takut petugas penjara datang dan membawanya untuk dieksekusi mati. Hal ini tuturkan seniman perang Australia, Ben Quilty yang bertemu untuk terakhir kalinya dengan Myuran di Penjara Kerobokan Bali Kamis lalu.

Dalam wawancara emosional dengan program 7.30 di TV ABC, Ben Quilty mengungkapkan Sukumaran tidak bisa tidur karena khawatir di tengah malam dia akan mengalami mimpi buruk dimana staf dari penjara akan datang mengetuk pintu dan mengirimkan dia ke tempat pelaksanaan eksekusi mati.

Sukumaran dan rekannya sesama warga Australia, Andrew Chan dihukum mati atas upaya penyelundupan heroin ke Australia tahun 2004.

Otoritas Indonesia telah menerbitkan izin bagi pasangan ini untuk dipindahkan dari Penjara Kerobokan Bali untuk menjalani eksekusi mati pada hari Kamis (12/2), namun pertemuan yang membahas persiapan pelaksanaan eksekusi mati mereka diyakini telah ditunda pada hari Jum'at ini.

Ben Quilty merupakan guru seni lukis Myuran Sukumaran dan juga teman selama 4 tahun terakhir dan berhasil mengunjunginya setiap pekan selama beberapa bulan terakhir. Namun dia meyakini kalau kunjungannya Kamis kemarin (12/2) sebagai kunjungan terakhirnya.

"Saya merasa dan sepertinya juga Myuran tahu pasti kalau waktu untuknya sudah habis.. dia selalu meminta saya untuk kuat dan tabah dan kemarin merupakan hal tersulit yang pernah saya lakukan yakni meninggalkan dia disana dan saya akhirnya benar-benar mengucapkan selamat tinggal padanya," tutur Ben Quilty dengan nada sedih.

"Saya yakin dia sudah merasa teguh dan menerima atas apa yang menimpa dirinya dan hal itu terlihat jelas seiring dengan persiapan yang dilakukan di dalam penjara untuk melepas dirinya pergi dan saya merasa sangat sulit meninggalkan dia disana,"

Quilty mengatakan perhatian Sukumaran kini beralih kepada keluarganya.

"Saya memiliki adik perempuan dan laki-laki, yang selama 10 tahun telah diabaikannya dan ibunya yang terluka karena perbuatannya dan kini pada saat ini seluruh energi dan waktunya dicurahkan untuk menolong mereka untuk bisa menerima apa yang akan terjadi," katanya.

"Dia tersenyum lebar ketika mendengar pidato Julie Bishop dan Tanya Plibersek di Parlemen dan berkata kepada saya: '? Benny, bisakah kamu percaya ini?

"Saya bilang kepadanya :'Mate (sapaan khas Australia), sudah sering saya bilang kalau masyarakat Australia itu peduli kepadamu'. Pastinya berada diposisi mereka terasa sulit mempercayai kalau ada banyak orang yang peduli kepadanya dan apalagi mendengar dukungan datang dari parlemen Australia itu sangat berarti bagi kedua terpidana mati dan keluarga mereka,'

"Sebagai warga Australia saya bangga menyaksikan hal tersebut terjadi,'

Dalam kunjungan itu Quilty juga sempat membaca surat-surat yang ditujukan untuk Sukumaran dan menurutnya ada banyak surat berisi dukungan untuk dirinya dan Chan, namun tidak sedikit juga yang mendukung eksekusi mati mereka.

"Saya membuka surat Myuran dan salah satu surat yang diterimanya berisi tulisan : 'Saya berharap Anda akan mati perlaha-lahan,"

"Dan saya sangat terkejut membacanya sementra Myuran selama bertahun-tahun membaca surat-surat semacam itu yang bisa membuat Anda merasa sangat kesepian,'

"jadi mendengar ada perempuan pintar, cerdas dan dipandang di dunia yang berpidato dengan penuh emosi mengenai dirinya ..itu sangat membuatnya bahagia dan merupakan hal yang sangat indah bagi keduanya mendengar kata-kata yang mereka ucapkan untuknya.

Quilty mengaku sangat kecewa melihat upaya Sukumaran untuk merehabilitasi dirinya dan juga rekan-rekannya di penjara tidak dipertimbangkan untuk mengurangi hukumannya.

"Ada banyak pria dan wanita dari berbagai negara lain di dunia yang juga melakukan kejahatan yang kemudian dipenjarakan di Kerobokan yang akan kehilangan Myuran,"katanya.

"Karenanya sangat sedih sekali, kecewa melihat dia sudah bekerja keras membangun banyak hal dan semua itu kemudia hancur berantakan,"

"Saya mengucapkan selamat jalan pada Myuran. Saya diberitahu kalau saya tidak dizinkan kembali ke penjara itu dan saya tidak yakin harus berharap apa?

"Bagi keluarganya yang tidak melakukan kesalahan apapun atau adikna yang hidupnya selama 10 tahun telah hancur, beri mereka kesempatan untuk berduka,"

"Mereka sudah berduka jauh sebelum Myuran tiada karena itu biarkan mereka mendapatkan kedamaian,'

Sementara itu mantan hakim konstitusi Indonesia, Laica Marzuki mendesak agar Andrew Chan dan Myuran Sukumaran diselamatkan dari eksekusi mati oleh regu tembak.

Professor Laica Marzuki membacakan penyataan yang ditujukan kepada Presiden Jokowi.

"Bapak Presiden, Anda telah menempuh jalan yang sesat, Anda salah, Anda melanggar konstitusi,"

"Hak untuk hidup adalah Hak Asasi Manusia..yang tidak bisa dibatasi dibawah kondisi apapun,"

Professor Marzuki yang menduduki jabatannya sebagai hakim konstitusi pada tahun 2007 itu mendapati kalau seorang terpidana mati yang telah menjalani hukuman penjara selama 10 tahun dan secara substansial telah menjalani rehabilitasi maka hukuman mereka dapat diubah menjadi hukuman seumur hidup.

"Chan dan Sukumaran tidak boleh ditembak ... karena hukuman mati itu bertentangan dengan konstitusi," katanya.