ABC

Museum Brisbane Tampilkan Foto Eksotis Penduduk Aborigin Abad 19

Sebuah pameran di Museum of Brisbane, Australia, menampilkan foto-foto bumiputera Aborigin yang diambil pada abad ke-19. Diperkirakan, para bumiputera tersebut diminta berpose secara eksotis di studio agar gambar mereka bisa dijual sebagai kartu pos, dan diberi imbalan.

Foto-foto yang ditampilkan dalam pameran berjudul 'Captured' tersebut merupakan hasil penelitian Michael Aird, yang berkeliling dunia selama 30 tahun demi mencari ribuan foto-foto kuno kaum Aborigin.

Foto-foto yang ditampilkan dalam pameran tersebut menunjukkan cara pandang masa itu. "Ini merupakan cara melihat sejarah Aborigin melalui, saya rasa, mata yang bersifat sangat Eropa," kata Aird.

Koleksi yang ditampilkan merupakan hasil karya empat fotografer: John Watson, William Knight, Thomas Bevan dan Daniel Marquis. Keempatnya memiliki studio di daerah pusat kota Brisbane pada tahun 1860an dan 1870an.

"Saya rasa...orang-orang Aborigin tertarik pada lampu-lampu kota pada waktu itu..." cerita Aird, "Yang saya tak bisa jawab adalah mengapa mereka terdorong masuk studio-studio foto ini. Inilah bagian besar penelitan ini, ini buktinya. Mereka masuk ke dalam studio, mereka pun berpose."

Dengan teknologi fotografi yang terbatas pada masa itu, sebagian orang terpaksa harus berpose hingga 60 detik agar gambar bisa diambil. Terkadang, agar mereka tak bergerak, kepala dan leher mereka harus dipasangi alat bantu.

"Saya curiga orang-orang Aborigin masa lalu ini tahu bahwa sang fotografer mengambil untung dari gambar ini, jadi saya sangat curiga mereka meminta semacam bayaran dari sang fotografer atas penggunaan gambar mereka, dan mereka pun menurut," ucap Aird.

Pada tahun 1865, kota Brisbane baru berusia 40 tahun. Para fotografer tengah asyik dengan teknologi baru, yaitu kamera multilensa yang bisa menghasilkan 8 hngga 12 foto berukuran kecil sekaligus.

Foto-foto yang dihasilkan dari teknik ini disebut "Carte de Visite", atau "Kartu Kunjungan". Dengan kata lain, semacam kartu pos yang bisa dijual.

Menurut Aird, para fotografer ingin menjual foto mereka pada orang-orang yang datang dan pergi dari Queensland.

"Para fotografer ingin agar orang-orang Aborigin itu tampak seeksotis atau seliar mungkin, agar ada hal menarik yang dijual di kartu-kartu pos ini," ucapnya.

Sekitar 170 kartu pos ditampilkan dalam pameran ini. Ada yang datang dari jauh, seperti Peru.

Dalam satu foto, tampak sekelompok laki-laki seolah-olah berkelahi dengan menggunakan bumerang. Salah satu terlihat akan memukul kepala yang lain.

Aird saat ini sudah mengenali subyek-subyek foto tersebut. Menurutnya, banyak dari mereka yang muncul di foto-foto atau studio-studio lain.