ABC

#MosqueMeToo Ungkap Pelecehan Wanita Muslim

Seorang wanita Muslim asal Melbourne, Kauthar Abdulalim, secara terbuka menceritakan pelecehan seksual yang pernah dialaminya setelah terinspirasi kampanye hashtag #MeToo.

Perempuan berusia 26 tahun ini melakukan hal itu melalui postingan di Facebooknya menggunakan hashtag #MosqueMeToo.

Kauthar mengatakan dia baru berumur 10 tahun ketika dilecehkan secara seksual di Kota Mekah, Arab Saudi.

“Di hotel tempat kami menginap, ada dapur bersama dan orang itu tinggal di lantai yang sama dengan keluarga kami,” katanya.

“Dia menggerayangi punggungku dan mengatakan hal-hal yang sangat tidak biasa dan sangat tidak nyaman,” ujarnya.

“Rasanya tidak benar. Itulah pengalaman paling mengerikan yang pernah kurasakan,” tambah Kauthar.

Kauthar looking into the distance with city backdrop
Kauthar Abdulalim mengaku mendapatkan kekuatan dari gerakan hashtag #MeToo dalam mengungkap apa yang dialaminya di Mekah.

Supplied

Ketika dia memposting apa yang pernah dialaminya itu ke laman Facebooknya, sejumlah pihak mempertanyakan integritas Kauthar dan alasannya mengapa sampai dia ungkapkan sekarang.

Namun ada juga orang yang justru mulai berbagi pengalaman mereka sendiri.

“Seksualitas dan keintiman adalah hal yang sangat pribadi, bahkan tidak dibahas,” katanya.

“Bahkan jika Anda terbuka diri kepada siapa pun dan bahkan jika mereka mengakui hal itu salah, mereka akan tetap mengatakan ‘jangan beritahu siapa pun, ini antara kita sendiri’,” tuturnya.

Selama musim haji Kota Mekah dipadati jutaan orang sehingga kaum perempuan tak selalu aman dari tindakan pelecehan.
Selama musim haji Kota Mekah dipadati jutaan orang sehingga kaum perempuan tak selalu aman dari tindakan pelecehan.

Supplied: Mark Zed

Perubahan sikap

Rajab Ali dari Riverland Migrant Resource Centre Settlement begitu paham dengan budaya masyarakat konservatif, karena dia baru pindah dari Pakistan tiga tahun lalu.

Rajab mengatakan di negara asalnya hukum tentang pelecehan dan serangan seksual umumnya diabaikan. Orang sudah terbiasa melihat dan mendengar pelecehan dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang terburuk, perempuan tetap diam karena berpikir jika membukanya orang lain akan tahu, dan dia akan disalahkan,” katanya.

“Rasa malu jadi faktor utama. Jika anak perempuan mengalami pelecehan seksual dan memberi tahu orang tuanya, justru dia yang akan paling menderita,” tambah Rajab.

Dia menyarankan pemuka masyarakat dan agama harus mengutuk tindakan pelecehan untuk mengubah mentalitas mereka yang tumbuh dengan sikap patriarki.

“Jika berasal dari ulama, itu akan lebih efektif,” katanya.

“Jika topik yang sama disampaikan psikolog Eropa terkenal, orang-orang ini akan mengatakan ‘dia tidak tahu budaya kita’,” tambahnya.

Hafsa holding book outside university campus
Hafsa Khan berharap hashtag mengenai pelecehan seksual akan memaksa komunitas Muslim untuk membicarakannya.

ABC Riverland: Sowaibah Hanifie

Dialog

Hafsa Khan, mahasiswa PhD yang meneliti interaksi antara budaya dan Hukum Islam, mengatakan gerakan hashtag telah memaksa masyarakat untuk membicarakan permasalahan ini.

“Alasan mengapa kita terkejut ketika mendengar hal-hal itu adalah karena adanya budaya untuk tidak membicarakannya,” kata Hafsa.

“Ada orang yang diharuskan patuh pada hal-hal yang tidak seharusnya mereka patuhi,” katanya.

“Di bawah prinsip-prinsip hukum Islam, kita berhak untuk melindungi kehidupan, pikiran, properti,” ujarnya.

“Seringkali sikap dan norma-norma budaya akan memaksa orang dalam situasi rentan untuk bersikap memaafkan,” kata Hafsa.

Kauthar and friend stand in front of graffiti wall.
Kauthar Abdulalim (kiri) mengatakan generasi baru wanita Muslim tidak akan tunduk pada tekanan hal-hal yang tabu.

Supplied

Baik Hafsa maupun Kauthar percaya gerakan hashtag #MeToo telah menjadi sumber kekuatan bagi perempuan.

Kauthar mengatakan generasi baru wanita Muslim yang akrab dengan gerakan-gerakan ini tidak akan lagi dibungkam rasa malu terkait pelecehan seksual.

“Ini hal yang lebih besar,” katanya. “Kita mulai membicarakan suatu masalah dan pelan-pelan mengarah ke perubahan masyarakat dan budaya di sekitar kita.”

“Keyakinan kami tidak mengizinkan untuk menerima segala bentuk penindasan. Jadi mengapa kita tidak membicarakannya,” katanya.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di ABC Australia.