ABC

Minyak Sayur Belum Tentu Kurangi Resiko Penyakit Jantung

Sebuah studi terbaru menemukan, mengonsumsi minyak sayur ketimbang lemak jenuh seperti mentega ternyata tak menurunkan resiko penyakit jantung atau membuat umur anda lebih panjang. 

Temuan penelitian di AS, yang diterbitkan dalam jurnal medis BMJ, ini menantang pedoman diet Australia yang merekomendasikan penggantian lemak jenuh dengan minyak sayur.

Meski demikian, Asosiasi Ahli gizi Australia (DAA) mengatakan, penelitian ini tak mungkin membawa perubahan apapun terhadap pedoman itu.

Julie Gilbert, dari DAA, mengatakan bahwa studi ini telah membuat sejumlah anggota asosiasi mempertanyakan beberapa saran yang mereka sampaikan kepada warga, tetapi penelitian lebih lanjut itu diperlukan.

"Ini tentu bidang yang berkembang, dan kami jelas perlu memeriksanya. Namun terkait itu, kami masih mendukung pedoman diet Australia, karena saat ini mereka didasarkan pada bukti kuat yang tersedia bagi kami,” jelasnya.

Ia menambahkan, "Dan pedoman itu masih merekomendasikan masyarakat untuk membatasi jumlah makanan yang tinggi lemak jenuh, seperti mentega dan krim serta minyak sawit."

Kepercayaan bahwa mengganti lemak jenuh dengan minyak sayur lebih baik untuk kesehatan jantung berasal dari bukti yang menunjukkan bahwa hal itu mengurangi kadar kolesterol darah.

Lennert Veerman, dosen senior di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Queensland, menulis sebuah editorial tentang penelitian di BMJ dan mengatakan, studi lebih lanjut diperlukan sebelum Pedoman Diet Australia bisa diubah.

"Bukti lain, dan itu lebih memantau masyarakat dan melihat apa yang mereka makan dan kemudian melihat resiko penyakit jantung, kemudian mendukung hipotesis bahwa menghindari lemak jenuh itu baik bagi kesehatan," kata Dr Lennert.

Ia menyebut, rekomendasi diet nasional mungkin perlu dikritik sedikit.

"Tapi sekali lagi, para ahli perlu membahas itu dan mempertimbangkan semua bukti yang ada, sehingga untuk saat inim hal yang terbaik untuk tetap mengikuti apa yang kita miliki," ujar snag ilmuwan.

Jangkauan studi terbatas, mungkin tak berlaku pada seluruh populasi

Penelitian di AS ini didasarkan pada percobaan yang dilakukan pada tahun 1970-an.

Selama lebih dari empat tahun, hampir 9.500 orang Amerika yang tinggal di rumah sakit jiwa dan panti jompo diberi menu makan yang membuat mereka mengonsumsi lemak jenuh, seperti mentega, atau mendapat lemak dari minyak nabati.

Julie mengatakan, itu adalah kelompok studi yang terbatas.

"Kami perlu melihat kelompok populasi yang diamati penelitian ini. Dan penelitian ini fokus pada peserta yang berada di rumah sakit jiwa atau lingkungan rumah jompo,” jelasnya.

"Jadi kami perlu tahu ... apakah itu hanyalah kelompok populasi yang unik atau apakah itu berlaku untuk keseluruhan populasi secara umum?,” imbuhnya.

Ia mengatakan, "Ketika kami berbicara tentang pedoman diet Australia, mereka berlaku untuk seluruh penduduk."

DAA menyebut, warga Australia harus mencoba untuk menghindari makan terlalu banyak lemak, karena itu membantu merka menjaga berat badan yang sehat dan melindungi mereka dari penyakit kronis.