ABC

Militer Indonesia Tolak Tuduhan Gunakan Senjata Kimia Di Papua

Militer Indonesia menampik tuduhan "konyol" kalau pihaknya telah menggunakan senjata kimia terlarang untuk menundukkan pasukan separatis di Papua Barat.

Foto yang diterbitkan oleh surat kabar mingguan di Australia - The Saturday Paper - pada Jum'at (21/12/2018) menunjukkan seorang pria dengan luka menganga di kakinya dan luka bakar parah.

Laporan itu juga mengklaim luka-luka tersebut mungkin ditimbulkan oleh fosfor putih, sejenis bahan kimia pembakar yang tidak dapat dipadamkan dan menyebabkan cedera mengerikan.

Dalam pernyataan yang diberikan kepada ABC oleh juru bicara Komando Militer Papua Kolonel Muhammad Aidi, Indonesia menolak laporan itu dan menyebutnya sebagai "propaganda" dan "berita palsu".

Penduduk desa Papua Barat
Militer Indonesia mengatakan akan melanjutkan operasi di Papua Barat.

Supplied: Kampanye Papua Barat Merdeka

"Orang-orang yang menulis propaganda itu adalah orang-orang yang konyol, dan bodoh," kata pernyataan itu.

Pernyataan itu juga mengatakan bom fosfor putih "tidak dapat dibawa oleh helikopter yang membawa pasukan mereka dan harus ditembakkan dari "puluhan atau ratusan kilometer jauhnya, atau dijatuhkan dari udara oleh seorang pembom".

Dikatakan Militer Indonesia (TNI) tidak mengoperasikan pesawat tempur, apalagi pembom.

"Jika TNI menggunakan bom fosfor, Distrik Nduga akan musnah. Semua manusia dan hewan di sana juga akan musnah," tulis pernyataan itu.

Dugaan senjata kimia ditemukan di Nduga
Militer Indonesia dituduh menggunakan bahan kimia fosfor putih yang mengakibatkan pembusukan ditubuh korban dalam senjatanya.

Supplied: Kampanye Papua Barat Merdeka

"Propaganda murah ini sengaja diproduksi oleh KKSB [Kelompok Sipil Bersenjata] sebagai alat penyamaran yang disengaja, untuk mempengaruhi publik dengan tipuan dan propaganda, sehingga orang-orang akan melupakan fakta bahwa kelompok ini [telah menewaskan 28 warga sipil]."

Fosfor putih digunakan dalam granat, mortir, dan peluru artileri untuk menandai sasaran, menyediakan asap, dan sebagai pembakar, menurut lembar fakta dari Federasi Ilmuwan Amerika (FAS).

Senjata pembakar, termasuk fosfor putih, dilarang untuk digunakan terhadap penduduk sipil di bawah Protokol III dari Konvensi Senjata Konvensional Tertentu Badan Perserikatan Bangsa-bangasa (PBB).

Dalam beberapa minggu terakhir, tentara Indonesia telah memburu pemberontak separatis yang dituduh membunuh sedikitnya 17 pekerja konstruksi, yang diserang ketika sedang membangun jalan melalui daerah terpencil Nduga.

Militer Indonesia mengatakan operasi itu hanya bertujuan untuk menemukan mayat pekerja yang terbunuh.

Cangkang peledak ditemukan di Papua Barat
Kepala kepolisian Indonesia mengatakan polisi dan militer tidak menggunakan "bom fosfor atau bom jenis apa pun".

Supplied: Kampanye Papua Barat Merdeka

Gubernur Papua Lukas Enembe menyerukan diakhirinya operasi militer, dan mengatakan "penindakan yang dilakukan ini sudah cukup".

"Saya, sebagai Gubernur Papua, meminta Presiden Jokowi [Joko Widodo] untuk menarik semua pasukan di Nduga," katanya.

Kepala polisi Indonesia di Papua, Inspektur Jenderal Martuani Sormin, mengatakan kepada ABC: "TNI dan polisi tidak menggunakan bom fosfor atau bom jenis apa pun."

"Australia memiliki motif untuk membuat kesan buruk [Indonesia] di hadapan komunitas internasional," katanya.

Ketika ditanya apakah operasi keamanan akan ditunda selama Natal, seperti yang diminta oleh para pemimpin Papua, ia menjawab:

"Tidak ada yang bisa menghentikan tugas polisi dan TNI untuk menjaga dan mengamankan negara, termasuk di Mbua dan Nduga."

Dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui email, seorang juru bicara Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia mengatakan bahwa Pemerintah Australia menyadari akan laporan kekerasan yang berlanjut di Nduga, termasuk "tuduhan yang tidak diverifikasi mengenai penggunaan 'proyektil fosfor'."

"Pemerintah Australia mengutuk semua kekerasan di Papua, yang mempengaruhi warga sipil dan pihak berwenang sejenisnya," kata juru bicara itu.

"Kami terus memantau situasi, termasuk melalui misi diplomatik kami di Indonesia."

Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.