Merayakan Natal Sambil Belajar Daur Ulang Sampah
Dengan semakin dekatnya perayaan Natal, sebuah sekolah di Queensland Utara berusaha membingkai ulang musim Natal yang sering kali mubazir.
Sekolah pemerintah ‘Mackay Central State School’ pekan ini meluncurkan hiasan Natal hemat energi dan daur ulang, dimana orang tua dan relawan komunitas menggunakan limbah daur ulang untuk menciptakan negeri ajaib Natal.
Proyek ini bertujuan mendorong praktek pengelolaan limbah, sekaligus menghormati keragaman budaya di sekolah itu.
“Kami memiliki pohon Natal utama yang terbuat dari botol air minum bekas, ada juga gulungan kabel yang telah kami ubah, dan kemudian tutup botol yang digunakan untuk menghias pohon Natal itu,” Wendy Baynton, guru di sekolah tersebut menjelaskan proyek Natal istimewa mereka.
“Kami juga memiliki pohon Natal yang terbuat dari roda, kita punya pohon Natal yang terbuat dari ban, ada juga pohon Natal sungguhan dan juga [ada] pohon Natal yang seluruhnya terbuat dari lentera.
“Pohon Natal daur ulang itu saja menghabiskan 1.294 botol plastik,”
Baynton mengatakan gagasan untuk menciptakan negeri ajaib Natal dari bahan daur ulang di sekolah mereka tidak hanya bersumber dari motivasi untuk menjadi sekolah yang ramah lingkungan.
“Komite orang tua dan masyarakat kami ingin menunjukan apa yang bisa digunakan dengan menggunakan barang-barang daur ulang ..tapi kegiatan ini juga sedikit memiliki latar belakang kebudayaan,’ paparnya.
“Komunitas Filipina kami, di negara asal mereka, tidak memiliki uang untuk membeli barang-barang hiasan Natal yang sering dilakukan di masyarakat Barat,” katanya.
“Jadi mereka muncul dengan gagasan menghubungkan masa muda mereka di negara asal mereka, sambil mendidik sekolah kami dan juga siswa-siswa kami mengenai hal-hal luar biasa yang dapat dilakukan dengan menggunakan seluruh limbah daur ulang yang biasanya kita buang begitu saja,”
Menciptakan komunitas
Lebih dari setengah murid yang bersekolah di Mackay Central State School berasal dari latar belakang masyarakat asal Filipina, mereka telah beremigrasi ke Australia sejak pendidikan pendidikan formal.
Relawan di sekolah itu, Dolor Santiago mengatakan membangun hiasan Natal daur ulang membantu menghubungkan sebagian anak-anak di sekolah ini dengan latar belakang mereka.
“Di Filipina, kita benar-benar memilih untuk menggunakan bahan yang didaur ulang karena kami benar-benar memiliki masalah dengan pengelolaan sampah, “kata Santiago.
“Untuk membantu pemerintah, sekolah memilih menggunakan bahan yang didaur ulang, tidak membeli yang baru.”
Santiago mengatakan dengan membawa tradisi Filipina ke Mackay, sekolah telah membantu menciptakan sebuah komunitas yang bersatu.
“Dengan melakukan hal seperti ini, dengan menjangkau keluarga Filipina yang lain, Anda dapat menghadirkan Filipina kembali ke sini di Australia – perasaan kemeriahan Natal, perasaan berbagi hadiah, perasaan berbagi bakat,” ucapnya.
“Pada dasarnya sini di Mackay Central, mereka memberikan penekanan secara multikultural, jadi meskipun kami orang Filipina, kita tidak terbuang di sekolah [ini], meskipun kami jauh dari rumah kami.”
Siswa kelas 6 diperkenalkan dengan daur ulang
Siswa kelas 6, Teisha Pope mengaku menghias pohon Natal merupakan sesuatu yang selalu dia nantikan setiap tahunnya.
“Pohon Natal ini terlihat hijau, dan kami menghiasnya bersama dengan staf di sekolah kami sehingga terlihat mirip dengan pohon Natal,” ungkapnya.
“Kami mendapatkannya dari kotak istimewa dan menghiasnya.”
Sementara Teisha mengaku dia tidak terpikir menggunakan barang bekas sebagai hiasan Natal sebelumnya, dia tetap mengaku ini gagasan yang bagus.
“[Kemudian] anda tidak perlu membuah sampah,” ucapnya.
Pelajaran berharga bagi siswa
Baynton mengatakan hiasan ini dijadwalkan akan dipamerkan selama 2 pekan mulai dari tanggal 21 Novemberm dengan upacara peluncuran akan dimulai tepat pukul 18:30 waktu setempat.
Menurut nya sementara masyarakat setempat akan mendapatkan hiburan dengan mengunjungi pameran Natal mereka, membuat hiasan ini secara bersama-sama telah mengajarkan para siswa sebuah pelajaran yang amat penting.
“Kita benar-benar banyak membuang barang, dan dengan menggunakannya kembali barang-barang tersebut kita bisa memberkan kehidupan kedua bagi benda itu dan pada saat yang bersaman bisa menghibur masyarakat,” ungkap Baynton.
“Saya kira para siswa belajar kalau anda dapat menggunakan ulang seluruh produk yang kita buang, Sampah bisa menjadi barang berharga.
Diterjemahkan pada pukul 22:00 WIB, 30/11/2016, oleh Iffah Nur Arifah dari artikel Bahasa Inggris disini.