ABC

Merayakan Kemerdekaan RI di Pohon Setinggi 75 Meter

Terinspirasi oleh apa yang dilakukan oleh seorang pelaut asal Nusantara di Australia di tahun 1945, dalam menyambut HUT RI ke-71, Akhdian Reppawali mahasiswa Phd di Australia Barat menaiki sebuah fire look out pohon tertinggi di dunia di Taman Nasional Warren, sekitar 336 km dari Perth. Mengapa dia melakukannya?

Bulan Augustus 1945, di Woolloomooloo, salah satu suburb di Sydney, sekelompok pelaut asal nusantara memantau dengan tekun siaran radio gelombang pendek yang dipancarkan oleh Batavia Radio.

Saat berita proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 akhirnya terdengar, kegembiraan meledak, negara baru telah lahir - Indonesia.

Kegembiraan juga meliputi Tukliwon, seorang pelaut Indonesia pada salah satu kapal Belanda. Tukliwon turut kapal Belanda yang melarikan diri saat terjadi invasi Jepang tahun 1942 hingga tiba di Australia.

Sehari setelah kabar kemerdekaan diterima, Pemuda usia 20 tahun ini meneruskannya ke Asosiasi Pelaut Australia (Seamen’s Union of Australia) yang telah berjanji memberikan dukungan.

Berita dari Tukliwon menjadi awal terjadinya peristiwa Black Armada. Peristiwa pemboikotan kapal-kapal Belanda yang hendak kembali ke Indonesia dengan amunisi dan logistik.

Pemboikotan oleh pekerja pelabuhan di Australia merupakan bentuk solidaritas dan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa ini tidak hanya terjadi di pelabuhan Sydney tetapi juga menyebar sampai ke Brisbane, Melbourne dan Fremantle.

Sebuah nukilan sejarah yang dituliskan kembali oleh Dr. Stephen Gapps di blog Australian National Maritime Museum terkait dengan ikhwal kedekatan hubungan para pelaut Indonesia di Australia dengan koleganya di masa awal kemerdekaan Indonesia. Hubungan yang memberi sumbangsih yang tidak kecil bagi sebuah negara baru saat itu.

Semangat Tukliwon dan para pelaut Indonesia menjalin solidaritas dan simpati di Australia masa itu rasanya ikut terbawa saat saya membawa merah putih menapaki satu demi satu batang-batang besi menuju puncak Dave Evans Bicnentennial Tree di Warren National Park, Western Australia.

Dengan tinggi 75 meter, pohon Karri ini terlihat menjulang ke angkasa. Ada 165 pijakan batang besi tanpa pengaman yang harus dilalui untuk mencapai puncak fire lookout tree tertinggi di dunia ini.

Menapaki batang2 besi menuju puncak
Akhdian Reppawali harus menaiki 165 pijakan besi untuk bisa sampai ke puncak pohon.

Foto: Akhdian Reppawali

Di ketinggian tertentu, selalu ada godaan untuk berhenti meneruskan pemanjatan. Hembusan angin dan perasaan gamang saat memandang ke bawah seringkali membuat lutut bergetar.

Saat seperti ini yang terbayang adalah wajah imajinatif Tukliwon dan para pelaut Indonesia di pelabuhan Sydney yang menolak saat diperintahkan oleh pihak Belanda untuk kembali berlayar ke Pulau Jawa membawa keperluan perang, ada semangat perlawanan.

Dengan semangat yang sama, saya terus mendongak, satu demi satu batang-batang besi terlalui sampai tiba di puncak, sebuah balkon dari susunan papan untuk berdiri dan beristirahat diantara cabang-cabang pohon.

Di balkon yang dinaungi atap sebagai pelindung, pandangan sangat lega berkeliling menelusuri pucuk-pucuk hutan Karri.

Sepasang pengunjung yang datang belakangan tidak berani meyusul naik sampai ke puncak. Mereka hanya naik beberapa langkah, berfoto, lalu pergi meninggalkan saya sendiri yang masih betah berada di balkon.

Saya memang ingin berlama-lama di puncak pohon, merayakan hari kemerdekaan Indonesia tanpa gangguan.

Di puncak fire lookut tree tertinggi di dunia ini, saya ingin mengibarkan bendera merah putih. Saat mengeluarkan merah putih dari tas punggung, angin yang menderu mengibaskan bendera kesana kemari.

Saya biarkan merah putih menempel di jaring kawat yang berfungsi sebagai pagar pembatas. Angin yang bertiup kencang mampu menahan bendera membentang tanpa pengikat.

Ada perasaan bangga sekaligus haru melihat merah putih membentang kuat di pelosok Australia. Lagu tanah airku berkumandang dengan lirih dari dalam hati.

Dari puncak pohon Karri, di samping bendera yang membentang, saya memandang jauh ke timur, jauh sekali ke pelabuhan Sydney yang tidak mungkin tampak dari pelosok hutan Western Australia.

Dari tempat ini, saya mengenang Tukliwon dan para pelaut Indonesia yang mungkin pelan-pelan mulai terlupakan oleh sejarah. Saya hanya bisa berucap “terima kasih” diikuti selafal do’a. Sebuah perayaan hari kemerdekaan yang sentimentil.   

Dirgahayu Indonesia! 

*Akhdian Reppawali, saat ini sedang menyelesaikan risetnya di School of Business, Curtin University, Western Australia dan bekerja sebagai auditor pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) di Indonesia.