ABC

Merasa Upahnya Dicuri, Ribuan Pekerja Universitas di Australia Mogok Kerja

Pengajar ilmu komputer University of Melbourne, Grady Fitzpatrick, adalah satu dari ribuan staf universitas yang mogok kerja pekan ini.

Setelah menjadi tenaga lepas atau pekerja kontrak di universitas tersebut selama sembilan tahun, ia berisiko kehilangan pekerjaan jika berani berbicara apa yang terjadi padanya.

Selama ini ia tidak bisa merencanakan masa depan atau mendapatkan pinjaman untuk membeli rumah.

"

"Bila saya mengajukan pinjaman, tidak ada bukti kuat jika saya pernah kerja terus menerus di universitas selama hampir 10 tahun, juga tidak ada kepastian akan bisa tetap bekerja selama 12 bulan ke depan," kata Grady.

"

Aksi mogok kerja mulai hari ini juga dilakukan oleh staf akademis dan karyawan di Newcastle University, University of New South Wales, Deakin University, Latrobe University, Melbourne University, Monash University, dan Federation University.

Aksi yang sama direncanakan akan berlangsung selama dua hari ke depan di University of Queensland dan James Cook University, serta berlanjut di Newcastle University.

Serikat Pekerja Perguruan Tinggi Nasional (NTEU) memperkirakan, dari 10 posisi yang ada di universitas saat ini, hanya tiga yang bersifat permanen.

"Ketika seseorang memiliki pekerjaan yang tidak stabil, ini tidak saja memengaruhi kariernya namun juga seluruh hidupnya," kata Presiden NTEU Alison Barnes .

"Rasanya tidaklah berlebihan berharap memiliki kondisi ekonomi yang aman, sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan seperti berobat saat sakit, berlibur, atau membeli rumah."

"Pekerja universitas sudah muak karena terus-terusan diminta untuk berkorban."

"Kami layak mendapatkan jaminan kerja, beban kerja yang beralasan dan keuangan yang jelas, dan kami akan terus berjuang untuk itu."

Tergantung pada pendanaan pemerintah

Asosiasi Industri Pendidikan Tinggi Australia (AHEIA), yang membela pihak universitas soal status kerja di perguruan tinggi.

Menurut mereka, angka resmi menunjukkan 55 persen staf di universitas berstatus karyawan tetap, sementara 45 persen berstatus kontrak dengan waktu tertentu atau pekerja lepas.

"

"Universitas bersedia memberikan status permanen, tetapi kami tidak bisa melakukannya karena pendanaan pemerintah untuk penelitian bersifat jangka pendek atau menengah," kata direktur eksekutif AHEIA, Craig Laughton.

"

"Bila kami mendapatkan lebih banyak kepastian pendanaan, besar kemungkinan akan lebih banyak posisi permanen."

Keluhan bekerja tanpa dibayar

NTEU mengatakan ketidakpastian kerja dan pencurian upah terjadi bersama-sama. 

Diperkirakan staf dan karyawan universitas sudah mendapat pembayaran tambahan sebanyak AU$80 juta, dengan jumlah terbanyak sejumlah AU$32 juta dibayarkan oleh Melbourne University.

Bulan Februari lalu, Fair Work Ombudsman mengajukan pihak universitas ke pengadilan dengan tuduhan para pemimpin universitas mengetahui pekerja lepas yang tidak mendapat bayaran yang sesuai.

"Bila saya bekerja tetap, dan bukannya pekerja lepasan, waktu yang saya habiskan bekerja akan lebih akurat sesuai bayaran yang saya terima," kata Grady.

"

"Meski saya mendapat bayaran tambahan AU$6 ribu baru-baru ini dalam kasus pencurian upah, ada begitu banyak jam di masa lalu tapi tidak dibayar dan saya tak lagi memiliki catatannya."

"

Profesor di bidang hukum, Joo-Cheong Tham, adalah salah satu staf permanen yang hadir untuk mendukung aksi mogok yang dilakukan rekan-rekannya dari University of Melbourne.

"Bagi banyak staf, model kerja yang tidak aman ini menjadi bagian penting dari krisis kondisi kerja yang ada dan juga krisis kepercayaan terhadap manajemen senior," kata Profesor Tham.

"Kemarahan dan rasa tidak puas terhadap manajemen senior, menurut beberapa staf yang sudah bekerja puluhan tahun, merupakan yang terburuk yang mereka alami selama ini."

Profesor Tham yang sudah lama menjadi akademisi mengatakan pekerjaan yang ada di universitas sebenarnya bisa dilakukan secara permanen, tapi sengaja dibuat bersifat sementara,

"Bukanlah hal yang aneh jika pekerjaan tetap yang kemudian dilakukan oleh pekerja lepasan merusak kualitas pengajaran dan riset," katanya.

"Banyak rekan-rekan saya pekerja lepas mengalami pencurian upah seperti yang ditekankan oleh Fair Work Ombudsman, dan ketidakamanan kerja menjadi faktor pembayaran yang tidak layak."

Juru bicara University of Melbourne mengatakan pihaknya akan terus bekerja sama dengan para staf dan karyawan mengenai kesepakatan yang baru sambil memperkecil dampaknya bagi para mahasiswa.

"Kami mengantisipasi dampak pemogokan terhadap mahasiswa dan staf seminimal mungkin."

"Namun, kami tetap menyayangkan dampak yang ditimbulkan dan dirasakan oleh mahasiswa dan komunitas lain di kampus."


Artikel ini dirangkum dan diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.