ABC

Menjadi Lebih Bahagia dan Sehat Pasca Perceraian

Perceraian termasuk dalam tiga kejadian dalam kehidupan yang dapat memicu tekanan hidup alias stres, selain kematian orang yang dicintai, pemenjaraan, penyakit dan pindah rumah.

Berkurangnya kesehatan mental dan fisik, masalah-masalah keuangan dan siksaan emosional tampaknya menjadi sesuatu yang kemungkinan besar akan terjadi ketika seseorang mengakhiri pernikahan.

Tapi ada wanita yang mengaku perceraian adalah sesuatu yang memberdayakan dan membebaskan – suatu kelahiran kembali yang tidak perlu ditakuti.

Inilah kisah perjalanan hidup beberapa diantara wanita tersebut di Australia.

‘Saya telah menemukan kembali diri saya’

Renee Catt tidak dapat menahan diri saat menggambarkan perpisahannya dengan suaminya delapan tahun yang lalu.

“Pernikahan saya sangat kacau, saya sangat kacau saat pernikahan saya berakhir, sebuah bayangan tentang diri saya yang dulu,” kata ibu dua anak berusia 45 tahun itu.

“Saya mengalami depresi dan kecemasan karena apa yang sedang terjadi.”

Pasca perpisahan dia memesan perjalanan ke sebuah pusat kebugaran di Thailand, sebuah “retret perceraian”.

Renee berlibur ke Thailand untuk menenangkan diri usai bercerai.
Renee berlibur ke Thailand untuk menenangkan diri usai bercerai.

Supplied: Renee Catt

Di sana ia belajar tentang meditasi dan konsentrasi dan kembali ke Melbourne dengan perspektif baru.

“Saya merenung kembali dan berpikir, bagaimana jika tidak ada yang bisa berlalu? Mengapa dunia harus terasa tidak adil dan membuat anda gagal disaat Anda seharusny merasa bahagia setiap hari?”

Renee mengatakan bahasa yang terkait dengan perceraian memicu rasa takut.

“Perpisahan membuat perceraian terdengar seperti setengah dari Anda menghilang atau patah hati, padahal hati anda tidak rusak, hati anda baik-baik saja.”

Dan meski harus menghadapi kritik lantaran “pandangan alteratifnya” tentang perceraian, inilah yang mendorongnya untuk menjadi mentor bagi wanita lain yang berada dalam posisi yang sama.

“Saya sangat merasa bosan ketika saya menikah … sekarang saya sudah menemukan kembali diri saya baik batin maupun fisik saya.

“Ketika Anda melakukan perjalanan untuk menemukan diri sendiri, itu merupakan hadiah terbesar yang dapat anda berikan pada diri anda sendiri, anda bisa mengenal siapa diri anda yang sebenarnya.”

Casey menikah pada usia 23 tahun.
Casey mengaku karirnya meningkat sejak dia bercerai.

Supplied: Casey

Perubahan menjadi lebih baik

Casey bertemu dengan mantan suaminya di usia 19 tahun, kemudian menikah pada usia 23 tahun dan berpisah pada usia 27 tahun.

Ahli gizi asal Sydney berusia 33 tahun tersebut mengatakan bahwa tekanan untuk memiliki anak saat ia tengah menikmati karir dan kemandiriannya membuatnya berselingkuh.

Perselingkuhan itu merupakan “katalisator” untuk berakhirnya perkawinannya, sesuatu yang Casey katakan sebagai sesuatu yang mengubahnya hidupnya menjadi lebih baik.

“Saya beralih dari berstatus menikah dan tinggal hanya dengan suami saya menjadi hidup bersama dengan 12 orang di London, Inggris” kata Casey. “Saya sering bepergian, saya bertemu dengan banyak orang luar biasa dan teman sejati yang tersebar di seluruh dunia.

“Itu menjadi tahun terbaik sekaligus terburuk dalam hidup saya.”

Meski merasa bersalah karena perselingkuhannya, tapi hal itu mendorong dia melakukan evaluasi ulang terhadap nilai-nilai dan hidupnya.

Casey tinggal di Sydney dan memiliki karir cemerlang di bidang nutrisi.
Casey pindah ke London selama setahun setelah perceraiannya.

Supplied: Casey

“Saya menyakiti banyak orang dan saya belajar dari itu.

“Saya lebih sehat karena sekarang saya ingin tetap bugar dan saya tidak punya orang lain yang harus saya menyesuaikan diri dengannya.”

Lebih sehat setelah berpisah

Casey bukan satu-satu orang yang merasakan manfaat kesehatan pasca perceraian.

Sebuah studi yang melibatkan 80.000 perempuan yang diterbitkan di Journal of Women’s Health awal tahun ini menunjukkan secara keseluruhan para perempuan itu mengaku menjadi lebih sehat setelah berpisah.

Tanda-tanda itu termasuk penurunan BMI, ukuran pinggang dan tekanan darah diastolik, serta pola makan yang lebih baik dan aktivitas fisik yang lebih besar.

“Jika saya tetap menikah, saya pasti akan memiliki kehidupan yang indah, karena mantan suami saya adalah orang yang baik,” kata Casey.

“Tapi saya tahu dalam pikiran saya, saya menginginkan lebih dari hidup daripada sekedar hubungan yang indah.”

Klub Wanita Bercerai

Pelatih kehidupan Jenny Smith dari Klub Wanita Bercerai di Brisbane bekerja dengan wanita untuk “menemukan kembali diri mereka sendiri”.

Secara teratur dia menyaksikan wanita-wanita yang bercerai meningkat kesempatan karir, pengalaman hidup dan koneksi romantis mereka menjadi lebih baik.

“Kesulitan apa pun yang harus dihadapi dalam kehidupan kita memiliki cara untuk membawa diri kita kembali ke hal-hal mendasar dari waktu ke waktu,” katanya.

“Saya tahu ini adalah saat yang menyebalkan dan ada usaha yang harus dilakukan untuk melewatinya, tapi bagian yang menyenangkan di akhir proses itu nantinya adalah di mana saya melihat seorang wanita menyadari bahwa mereka tidak menginginkan pria, mereka tidak membutuhkannya.”

Emma Dignon
Emma Dignon (22) dari Adelaide mengatakan bahwa dia telah belajar kalau hidup tidak semata soal menjalin hubungan dengan pasangan.

Supplied: Emma Dignon

Beberapa penelitian juga mendukung perceraian yang mengarah pada kehidupan yang lebih bahagia.

Sebuah studi tahun 2013 di Inggris dari Universitas Kingston mendapati selama lima tahun setelah perceraian perempuan-perempuan itu menjadi lebih bahagia daripada sebelumnya.

“Kami memperhitungkan fakta bahwa perceraian terkadang memiliki dampak keuangan yang negatif pada wanita, namun demikian hal itu masih membuat mereka jauh lebih bahagia daripada para pria,” kata peneliti Profesor Yannis Georgellis saat itu.

Tapi itu tidak selalu menjadi perubahan yang diharapkan oleh seorang wanita

Pemerintah Australia mengatakan bahwa perceraian dapat memiliki dampak negatif jangka panjang terhadap kesejahteraan yang berlanjut ke kehidupan selanjutnya – terutama bagi perempuan.

Jenny mengatakan beberapa wanita tetap “merasa hidupnya tetap getir dan marah dan tidak mau melepaskannya”.

“Saya tidak ingin menyebut mereka korban tapi mereka memiliki mentalitas kalau perceraian ini terjadi karena kesalahan orang lain.

“Saya pikir hal seperti ini sering terjadi ketika mereka ditinggalkan karena wanita lain, dimana itu sangat hanya menghancurkan harga diri mereka.”

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.