ABC

Menilik Rekam Jejak Keselamatan Penerbangan Lion Air

Kecelakaan pesawat Lion Air yang diyakini telah menewaskan 189 orang telah menimbulkan pertanyaan tentang rekam jejak maskapai itu yang tidak terlalu mengesankan jika menyangkut keselamatan, dan siapa sosok di belakang perusahaan tersebut.

Terlepas dari popularitasnya di Indonesia, Lion Air memiliki serangkaian insiden keselamatan dan keamanan yang menghiasi sejarah operasinya selama 18 tahun.

Perusahaan induk Lion Air juga memiliki maskapai lain - yang mengoperasikan dua penerbangan sehari antara Australia dan Indonesia.

Lion Air Boeing 737 jatuh di laut setelah melampaui landasan di bandara utama Denpasar pada April 2013.
Lion Air Boeing 737 jatuh di laut setelah melampaui landasan di bandara utama Denpasar pada April 2013.

Twitter

Siapa pemilik Lion Air?

Maskapai ini adalah bagian dari Grup Lion Air, yang memiliki beberapa maskapai lain, termasuk:
- Wings Air - maskapai penerbangan domestik murah di Indonesia
- Batik Air - maskapai penerbangan domestik dan internasional layanan penuh yang dipasarkan ke penumpang kelas menengah
- Lion Bizjet - menyediakan charter jet pribadi 24-jam
- Malindo Air - berbasis di Malaysia
- Thai Lion Air - berbasis di Thailand

Grup ini juga memiliki bisnis pengiriman barang yang bernama Lion Parcel, dan bisnis perhotelan dengan nama Lion Hotel and Plaza, di Manado, Sulawesi Utara.

CEO Grup Lion, Rusdi Kirana, memulai perusahaan dengan saudaranya Kusnan pada tahun 1999 dengan modal $ 1,2 juta (atau setara Rp 12 miliar).

Sebelum dua bersaudara ini memulai Grup Lion Air, Rusdi memulai karirnya sebagai penjual mesin tik dan kemudian menjadi penjual bahan kue.

Dua bersaudara itu kemudian menjalankan sebuah perusahaan yang membantu para pelancong untuk mendapatkan paspor dan visa - sebuah usaha yang memungkinkan mereka untuk mendirikan agen perjalanan bernama Lion Tour di mana pekerjaan Rusdi adalah menyambut para penumpang di gerbang kedatangan.

Setelah menyadari munculnya tiket daring akan membuat mereka terdepak dari bisnis itu, dua bersaudara tersebut memutuskan untuk mengumpulkan tabungan mereka dan membeli pesawat pertama mereka.

Forbes melaporkan modal awal sekitar $ 900.000 (atau setara Rp 9 miliar) itu digunakan untuk menyewa pesawat pertamanya, sebuah Boeing 737-300. Untuk menghemat uang, Rusdi merancang logo maskapai dan seragam pramugari.

Kini, Lion Air memiliki lebih dari 110 pesawat dan terbang lebih dari 180 rute. Tahun lalu, Forbes memperkirakan dua bersaudara ini memiliki kekayaan senilai $ 1,4 miliar (atau setara Rp 14 triliun).

Pada tahun 2014, Rusdi menjadi wakil ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Rusdi terpilih sebagai Duta Besar Indonesia untuk Malaysia pada tahun 2017 setelah menjabat sebagai salah seorang anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jokowi.

Tak benar-benar sukses

Dari tahun 2002 hingga 2013, setidaknya ada 19 insiden yang melibatkan Grup Lion di Indonesia. Termasuk yang paling serius:

- 14 Januari 2002: Lion Air nomor penerbangan 386 jatuh setelah mencoba lepas landas. Semua orang selamat tetapi seluruh pesawat rusak.
- 30 November 2004: Penerbangan Lion Air 538 jatuh di Surakarta, menewaskan 25 orang.
- 4 Maret 2006: Lion Air dengan nomor penerbangan 8987 jatuh setelah mendarat dan tergelincir dari landasan pacu. Tidak ada yang meninggal tetapi pesawat itu rusak berat.
- 13 April 2013: Lion Air penerbangan 907 melampaui jalur pendaratan dan jatuh ke air di dekat Denpasar. Penumpang dan kru dievakuasi.

Lion Air dilarang terbang ke Amerika Serikat dan Uni Eropa pada tahun 2007, tetapi kedua larangan itu telah dicabut.

Rute ke Australia

Lion Air tidak memiliki rute ke Australia tetapi Batik Air, maskapai lain yang dimiliki oleh Grup Lion Air, saat ini punya rute terbang antara Perth dan Denpasar.

Pesawat Batik Air melalui fasilitas pemeliharaan yang sama di Pulau Batam yang dilakukan Lion Air. Sebagai mantan koresponden Asia Tenggara, Samantha Hawley, mengatakan dalam analisisnya, Batik Air adalah Lion Air, hanya dengan branding yang berbeda.

Seorang juru bicara CASA mengatakan bahwa maskapai penerbangan dianggap sebagai perusahaan yang terpisah - terlepas dari perusahaan induk mereka - dan karena Lion Air tidak memiliki penerbangan masuk atau keluar dari Australia, mereka tidak memiliki alasan atau yurisdiksi untuk menyelidiki Batik Air.

Namun demikian, juru bicara mengatakan CASA sedang mengamati kejadian tersebut secara seksama dan dengan penuh antusias, tetapi mengatakan terlalu dini untuk berspekulasi tentang penyebab kecelakaan terbaru mengingat pencarian akan reruntuhan pesawat masih berlangsung.

Mantan konsultan penerbangan yang kini menjabat komisaris Nauru Airlines Corporation, Trevor Jensen, mengatakan setiap celah dalam manajemen dan prosedur keselamatan harus diselidiki.

Pertanyaan tentang pesawat, Boeing 737 MAX 8 yang baru, juga muncul. Pesawat ini diterbangkan untuk pertama kalinya pada 15 Agustus, dan disertifikasi layak terbang oleh maskapai penerbangan itu sebelum penerbangan pada hari Senin (29/10/2018) oleh seorang insinyur yang merupakan spesialis dalam model pesawat Boeing.

CEO Lion Air, Edward Sirait, mengatakan bahwa pesawat itu sempat mengalami masalah lain pada penerbangan sebelumnya dari Bali ke Jakarta, tetapi mengatakan bahwa masalah itu telah "diselesaikan sesuai prosedur".

Mengenai kecelakaan itu, Edward Sirait mengatakan: "Kami juga bingung tentang alasannya, karena itu adalah pesawat baru".

Jensen mengatakan para peneliti pasti akan mengamati sistem data udaranya.

"Kecepatan dan ketinggian Anda membutuhkan tekanan statis dan dinamis. Panel-panel itu ada di sisi pesawat," katanya.

Jensen mengatakan jika pemeliharaan semalam tidak mencabut semua pengikat di pesawat, panel bisa diblokir.

"Ketika Anda melihat jalur penerbangan yang dilaluinya, ada konsistensi dengan kecepatan dan ketinggian udara yang tak bisa diandalkan," katanya.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.