ABC

Medali Milik Pahlawan Australia Disumbangkan ke Museum Perang di Canberra

Keluarga pahlawan perang yang dipenjarakan oleh Jepang telah menyumbangkan medali ‘George Cross’ yang langka ke Museum Perang Australia (AWM).

Kapten Lionel Colin Matthews, yang dikenal sebagai ‘The Duke’, dianugerahi medali ini atas keberanian ekstrim dan tanpa pamrih-nya selama menjadi tawanan perang dalam Perang Dunia II.

Saat ditahan di pusat tawanan perang Sandakan di pulau Kalimantan, Kapten Lionel seringkali melarikan diri untuk membantu menyelundupkan obat-obatan dan makanan kepada sesama tentara.

Letnan Russ Ewin (kiri) dan David Matthews menyerahkan medali Kapten Lionel Matthews ke Museum Perang (AWM) di Canberra.

Kapten Lionel bisa saja lolos selama kampanye bawah tanah melawan Jepang, tetapi ia selalu datang kembali untuk membantu rekan-rekannya.

Anak Kapten Lionel, David Matthews, menghormati perjuangan ayahnya sembari menampilkan medali ‘George Cross’, bersama dengan salib militer dan medali kampanye lainnya, yang diperoleh selama bergabung dengan institusi militer Australia ‘Signal Crops’, hingga ke AWM di Canberra.

"Saya bangga memberi mereka ke Museum Perang, mereka telah saya miliki sejak saya masih kecil. Ini adalah perpisahan dalam banyak hal, tetapi untuk alasan yang tepat," ujarnya.

Hingga dewasa, David hampir tak mengenal ayahnya tapi mempelajari prestasi legendarisnya dari lulusan ‘Signal Corps’ yang kembali.

"Saya bayangkan ia adalah orang yang hampir tak bisa dihancurkan sama sekali, yang benar-benar tak kenal takut, sekarang saya tak berpikir ini benar," jelasnya.

Ia menambahkan, "[Sebagai tahanan] Ayah sering pergi keluar untuk acara kerja dan menyelinap pergi serta bertemu orang-orang dan kembali lagi - pengaturan yang sangat rahasia.”

Serah terima medali ini bertepatan dengan peringatan ke-71 tahun eksekusi Kapten Lionel oleh Jepang.

Sebagai tanda penghormatan dari para penculiknya, Kapten Lionel dimakamkan dengan penghormatan penuh ala militer di Kalimantan.

"Mereka mengenakan pakaian militer Jepang komplit, yang merupakan kehormatan untuk ayah saya," ungkap David Matthews.

Letnan Russ Ewin, 98 tahun, adalah anggota terakhir dari gerakan bawah tanah Kapten Lionel, yang bekerja sama dengannya selama penahanan mereka.

"Saya pikir ia adalah seorang pria yang hebat. Ia memiliki kumis halus dan ia tampak seperti ‘Duke of Gloucester’ dari keluarga kerajaan yang sangat populer pada waktu itu, sehingga ia dikenal sebagai The Duke," kenangnya.

Letnan Russ adalah salah satu dari enam warga Australia yang diizinkan untuk menghadiri pemakaman Kapten Lionel.

"Ia bekerja dengan sangat baik, kemampuan organisasinya luar biasa. Tapi tak terelakkan bahwa dalam jangka panjang, organisasi bawah tanah yang besar akan berakhir. Ia sadar akan hali itu, ia tahu, jika ia ditangkap, maka ia akan dibunuh,” utaranya.

Ia menyambung, "Saya seringkali menangis karena kami menyaksikan peti mati dibawa dengan darah yang mengucur dari bagian belakangnya."

Sebelum penangkapannya, Kapten Lionel sempat membantu mengelola Kepolisan Inggris di Kalimantan dan seorang rekan sipil lokal di pulau itu.

Medalinya dipamerkan di ‘Hall of Valour’, di AWM.