ABC

Masalah Pernafasan Bayi Prematur Bisa Diatasi dengan Kafein

Sebuah penelitian di Australia mengungkapkan bahwa bayi prematur yang diberi terapi kafein menunjukkan peningkatan fungsi pernapasan dan paru-paru mereka dalam jangka panjang.

Penelitian melibatkan dokter di RS Royal Women's Hospital di Melbourne yang melacak perkembangan sekitar 140 bayi prematur, setengah di antaranya diberi dosis kafein reguler saat mereka lahir.

Kafein diberikan dalam bentuk suntikan atau dicampurkan ke susu, melalui tabung makanan, sekali sehari.

Profesor Lex Doyle, penulis utama penelitian tersebut, mengatakan bahwa anak-anak kemudian diperiksa kembali fungsi paru-paru dan pernapasannya saat berusia 11 tahun.

"Dari anak-anak yang diberi kafein saat masih bayi, separuh dari jumlah tersebut diperiksa kembali fungsi paru-paru mereka saat berusia 11 tahun," jelasnya.

Bayi prematur mengalami kesulitan bernafas.

Memberi mereka kafein akan membantu mengatur pernapasan dengan merangsang bagian otak yang mengatur paru-paru untuk mengembang.

"Mereka tidak harus memiliki bantuan pernafasan untuk waktu lama. Mereka tidak memerlukan banyak oksigen tambahan yang ditambahkan ke udara yang mereka hirup. Mereka bisa pulang ke rumah lebih cepat," kata Prof. Doyle kepada ABC.

Namun efek jangka panjang pada pernapasan mereka belum diketahui sampai sekarang.

"Ini temuan yang menyenangkan, karena kami khawatir kafein dapat menimbulkan masalah jangka panjang. Sejauh ini, kami belum menemukan masalah jangka panjang apa pun," kata Prof. Doyle.

Dia menambahkan bahwa temuan tersebut menunjukkan bahwa "orang tua dapat diyakinkan" tentang pemberian kafein kepada bayi prematur mereka.

Sophie and Tilly with their mum. The girls are holding photos of them as newborns.
(Dari kiri) Sophie Snowdon, ibunya Meredith Capp, dan saudaranya Matilda (Tilly) Snowdon.

ABC News: Michael Barnett

Warga Australia Sophie dan Tilly Snowdon ikut serta dalam penelitian ini.

Si kembar lahir ini pada usia 25 minggu dalam kandungan. Mereka menghabiskan enam bulan di bangsal perawatan intensif RS Royal Women's Hospital sampai mereka cukup sehat untuk pulang ke rumah.

Orangtua mereka tidak diberitahu apakah anak-anaknya ini diberi kafein atau plasebo.

Sophie mengalami kesulitan bernafas saat dia lahir.

Menurut ibunya, Meredith Capp, Sophie cenderung kehabisan napas dan memiliki demam lebih parah saat masih kecil, dibandingkan dengan saudaranya.

"Tapi sekarang, pernapasan kedua gadis ini baik-baik saja," katanya.

Dia mengatakan, sebagai orangtua, temuan penelitian ini menggembirakan.

"Sangat luar biasa jika mengingat bagaimana mereka dulu dan bagaimana sekarang. Mereka kini anak-anak bahagia dan sehat," kata Meredith.

"Senang mengetahui bahwa kami melakukan hal terbaik buat mereka saat masih bayi," tambahnya.

Kedua anak gadis ini juga mengatakan senang mengambil bagian dalam penelitian tersebut.

"Saya bangga penelitian ini membantu orang lain dan menyelamatkan kehidupan. Senang sekali mengetahui hal itu," kata Sophie.

"Saya suka karena ini membantu anak-anak lain," kata Tilly menambahkan.

Para peneliti mengatakan hasil ini sangat penting karena bayi prematur berisiko mengalami kerusakan paru-paru dalam jangka panjang.

Temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine.

Diterbitkan Senin 17 Juli 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.