ABC

Marak Penggunaan Doping di Kalangan Atlet Muda Australia

Riset terbaru yang dilakukan sejumlah peneliti dari dua universitas terkemuka di Australia menemukan banyak atlit muda elit Australia berusia 12 tahun menggunakan obat penambah stamina alias doping.

Para peneliti dari Universitas Canberra dan Universitas Griffith Queensland ini menghabiskan waktu selama 3 tahun untuk mewawancara atlet-atlet muda dalam riset ini.

Adapun yang atlet yang dilibatkan berjumlah lebih dari 900 orang dengan usia rata-rata 12-17 tahun, seluruhnya merupakan atlet muda papan atas  Australia.

Temuan dari riset ini antara lain menyatakan hasilnya lebih dari 4 persen atlet muda ini mengaku telah menggunakan obat-obatan penambah stamina alias dopping.

Sementara 10 persen lainnya percaya mereka saing melawan atlet muda lainnya yang menggunakan doping, sementara sepertiga lainnya menggunakan suplemen zat gizi.

Dari temuan ini para peneliti khawatir penggunaan doping dikalangan atlet muda Australia meningkat pesat selama satu dekade terakhir.

Salah satu wakil dari peneliti, Dr Stephen Moston dari Universitas Canberra mengingatkan praktek penggunaan doping dikalangan atlet muda ini tidak terdekteksi karena kurangnya dilakukan tes penggunaan doping bagi mereka.

"Faktanya atlet muda ini jarang sekali dites penggunaan doping, sehingga mereka menggunakannya di periode vakum yang diketahui tidak akan ada pelaksanaan tes doping,” katanya.

Dia mengatakan riset ini berhasil mengungkapkan temuan kecenderungan perilaku yang sangat mengganggu.

"Kegandrungan menggunakan doping ini ditemukan pada atlet yang berusia masih sangat muda dan cukup terkenal dalam suatu cabang olahraga tertentu, jadi mereka melakukan segala cara untuk berada didalam kelas elit, dan ini semua mengenai kemenangan,” ujarnya.

"Olahraga muda menjadi lebih lanjut tentang mirroring menang di semua biaya obsesi kita lihat di dunia orang dewasa."

Dr Moston mendesak agar ada pendidikan yang lebih baik bagi atlet-atlet muda agar mereka bisa memerangi penggunaan doping ketimbang memperbanyak tes.

"Mendidik atlet untuk lebih bermoral, untuk lebih berpikir mengenai etika dan apa yang sesunggghuhnya sedang mereka lakukaj,” katanya.