ABC

Mantan Tentara Australia yang Gabung Al Qaeda Kini Bertempur di Suriah

Seorang tentara Australia yang berbalik mendukung Al Qaeda diduga muncul kembali sebagai komandan tempur senior yang melawan pasukan Barat di Suriah.

Pada tahun 2001, Mathew Stewart- yang kini berusia akhir tiga 30an -melarikan diri dari Australia ke Afghanistan yang dilanda perang, tempat di mana ia bergabung dengan Al Qaeda pada bulan-bulan sebelum serangan 11 September.

Sejak saat itu, kabarnya tak terlalu terdengar.

Tapi hal itu berubah pada Minggu (25/10) malam, ketika Al Qaeda menerbitkan majalah online terbaru mereka tentang Suriah, ‘Al Risalah’.

Mantan prajurit Australia, Mathew Stewart, bergabung dengan Al Qaeda pada tahun 2001.
Mantan prajurit Australia, Mathew Stewart, bergabung dengan Al Qaeda pada tahun 2001.

Majalah ini menampilkan wawancara dengan anggota Al Qaeda yang dikenal sebagai Abu Hamza Australi.

Ia digambarkan bekerja sebagai pelatih militer dengan proksi Al Qaeda di Suriah, Jabhat Al Nusrah.

Dalam wawancara itu, Abu Hamza membahas latar belakangnya, mengatakan ia berasal dari Queensland, bergabung dengan Al Qaeda 15 tahun yang lalu, dan sebelumnya bertugas di militer Australia.

Deskripsi yang sangat persis dengan sosok Mathew Stewart.

Polisi Federal Australia menolak untuk mengomentari wawancara majalah tersebut.

Seorang pejabat penegak hukum, yang berbicara tanpa bersedia dikutip namanya, mengatakan, pihak berwenang di Australia menyadari adanya wawancara itu dan tengah bekerja untuk melihat apakah mereka bisa mecocokkan sosok Abu Hamza dengan Mathew Stewart.

Percayai metodologi Al Qaeda

Kabar tentang wawancara itu dimuat pada (26/10) oleh situs AS ‘The Long War Journal’, meski mereka tak mengetahui hubungan antara Abu Hamza dengan Mathew Stewart.

Peran baru Mathew, jika terbukti, membuatnya sebagai salah satu warga Australia paling berperingkat yang bertempur di Suriah.

Warga Australia lainnya, Moustafa Mahamad - juga dikenal sebagai Abu Sulayman al Muhajir – juga merupakan anggota senior Jabhat Al Nusrah, meski ia sebagian besar memainkan peran teologis dan motivasi.

Dalam wawancara dengan media Risalah, Abu Hamza membahas perbedaan antara Jabhat Al Nusrah dengan ISIS.

Sejak akhir 2013, kelompok Al Nusrah dan ISIS telah bermusuhan akibat interpretasi Islam mana yang lebih benar, dan siapa pemimpin yang sah dari sekian banyak kelompok Islam militan di Suriah, yang melancarkan pemberontakan terhadap diktator Suriah, Bashar al-Assad.

Al Qaeda khawatir pihaknya digantikan oleh ISIS sebagai garda depan perjuangan Islam militan global melawan Barat, dan berusaha untuk menggambarkan kelompok mereka sebagai kekuatan yang lebih moderat dan Islam yang lebih benar di antara dua kelompok.

"Saya benar-benar percaya bahwa metodologi Al Qaeda adalah cara yang tepat, jalan penuh rahmat, penuh pengampunan ... jalan kekuatan, dan kekuatan tak hanya tentang pembunuhan," kata Abu Hamza dalam wawancara itu.

Ia juga menjelaskan perannya sebagai pelatih militer.

"Melatih secara taktis, bekerja di ... saya benci menggunakan kata 'komando' ...kecil, taktik infanteri berstandar tinggi, patroli jarak jauh, patroli pengintaian, menyergap, serangan, sabotase, kekerasan di belakang garis musuh, reaksi tempur, bagaimana melawan musuh dalam skenario perang gerilya, menarget konvoi, bagaimana menarget instalasi di belakang garis musuh tanpa bantuan apapun, dan sebagainya,” terangnya di wawancara itu.

Ia menambahkan, "Ini adalah beberapa hal yang saya latih selama beberapa tahun dengan militer Australia, dan kemudian mengalaminya [di medan perang] selama hampir 15 tahun di Afghanistan dan di sini di Suriah."