ABC

Mantan Tahanan Imigrasi Menjadi Pakar Bedah Ortopedi

Begitu Dr Munjed Al Muderis mendarat di Baghdad, dia tiba-tiba mempertanyakan apakah dia telah membuat keputusan yang tepat untuk kembali.

"Saya merasakan perasaan merinding," katanya kepada ABC.

"Apa yang telah saya lakukan? Saya kembali ke tempat dari mana saya pernah melarikan diri."

Delapan belas tahun yang lalu, ahli bedah ortopedi yang diakui ini  berhasil lolos dari kebrutalan rezim Saddam Hussein.

Dia terpaksa melarikan diri dari tanah airnya di Irak pada tahun 1999 setelah dia menolak untuk memotong telinga para desertir angkatan darat sebagai dokter peserta pelatihan muda di sebuah rumah sakit di Baghdad, Irak.

"Kepala departemen menolak secara terbuka, dan mereka membawanya ke luar ke tempat parkir, dan mereka menembakan peluru ke kepalanya," kenang dokter tersebut.

"Saya dihadapkan pada sebuah keputusan, apakah saya akan mematuhi perintah dan hidup dengan rasa bersalah sepanjang sisa hidup saya?

Dokter muda tersebut datang ke Australia dengan kapal, menghabiskan waktu selama 10 bulan dalam tahanan imigrasi yang dia gambarkan sebagai "neraka di Bumi".

Dr Munjed Al Muderis
Munjed Al Muderis adalah salah satu ahli bedah ortopedi paling handal di Australia.

ABC News

"Saya dilucuti dari identitas saya sebagai manusia, Kami terkunci di balik kabel berduri," katanya dari Pusat Penahanan Curtin yang sekarang telah ditutup di Australia Barat yang terpencil.

Karena dia bisa berbicara bahasa Inggris dengan baik, dia akan membela tahanan lain jika dia merasa diperlakukan tidak adil. Akibatnya dia diberi label sebagai pembuat onar dan sering dihukum karena bersikap vokal.

"Saya ditandai dengan spidol permanen di bahu saya dengan sebuah angka, 982. Saya dimasukkan ke dalam kurungan isolasi," katanya.

"Tidak peduli pembelaan apa yang saya katakana, saya tidak akan diberikan keadilan."

Dua bulan setelah dibebaskan dari pusat penahanan Curtin, Dr Al Muderis memenuhi syarat sebagai dokter untuk mempraktikkan pengobatan di Australia, dan menerima cek gaji pertamanya.

10 hari melakukan operasi pembedahan

Dr Munjed Al Muderis
Dr Munjed Al Muderis melihat foto sinar X-ray Ali Bassam

ABC News

Di tahun 2017 ini setelah bertahun-tahun bekerja keras membangun kembali hidupnya di Australia, dia menjadi salah satu ahli bedah ortopedi terdepan di Australia.

Namun kehidupan baru Dr Al Muderis ini tiba-tiba terganggu pada awal tahun ini saat dia menerima telepon dari kantor Perdana Menteri Irak.

Mereka telah membaca tentang pekerjaan luar biasa yang telah dia lakukan di "osseointegration" - jenis operasi yang relatif baru yang membantu mereka yang diamputasi untuk dapat berjalan kembali dengan menggunakan implan robot.

Perdana Menteri Irak bertanya apakah dia bersedia mempertimbangkan untuk kembali ke tanah airnya dan mengulurkan tangan.

korban perang Irak
Psikiater Australia Greg Keane membantu korban selamat Irak yang trauma akibat perang, kengerian ISIS, dan perjuangan sehari-hari untuk mendapatkan makanan dan uang.

"Irak memiliki salah satu dari jumlah terbesar orang-orang yang diamputasi dan orang-orang cacat karena perang Irak telah berlalu dan akan terus berlanjut," papar dokter tersebut.

"Saya bilang ya, saya akan lebih dari senang untuk membantu."

Dokter bedah yang berbasis di Sydney itu mengumpulkan sekelompok staf relawan untuk pergi ke Baghdad dan membantunya di sana.

ABC mendampingi tim bedah ortopedi ini untuk merekam kesibukan  saat mereka bekerja sepanjang waktu, melakukan operasi selama 10 hari yang mengubah hidup para pasiennya.

Ali Bassam, seorang mantan tentara berusia 29 tahun, adalah salah satu pasien pertama yang dirawat.

"Saya terluka saat mereka menyerang kami dengan bom mobil bunuh diri."

Ketika Ali Bassam kehilangan kakinya, istrinya meninggalkannya, khawatir dia tidak dapat menghidupinya sebagai keluarga.

Dia dibiarkan membesarkan putra mereka Hussein sendirian.

Kesempatan kedua untuk hidup normal

Ali Bassam
Ali Bassam adalah salah satu pasien pertama yang dirawat oleh Munjed Al Muderis saat dia kembali ke Irak.

ABC News

Sekarang berkat Dr Al Muderis, Ali Bassam telah memiliki kesempatan untuk mendapatkan mobilitasnya kembali, menjadi orang pertama di Irak yang menerima operasi implan osseointegrasi.

"Mereka memanggil saya dan mengatakan bahwa kita bisa melakukan operasi implan sehingga Anda bisa mendapatkan kaki baru!" kenang Ali Bassam dengan gembira.

"Saya sangat bahagia, syukurlah."

Ghadban, 22, kehilangan kedua kakinya awal tahun ini saat dia sedang berjalan ke perguruan tinggi di Mosul dan sebuah mortir menghantamnya.

"Saya katakan kepada mereka bahwa saya ingin mati dan tidak ingin kedua kakinya diamputasi," kata mahasiswa muda itu.

Ghadban dari Mosul
Ghadban kehilangan kedua kakinya awal tahun ini saat dia sedang berjalan ke perguruan tinggi di Mosul dan sebuah mortir menghantamnya.

ABC News

Putus asa ingin mampu berjalan lagi, Ghadban mengetahui tentang pekerjaan Dr Al Muderis setelah melakukan penelusuran di internet dan melihat video orang-orang yang pernah diamputasinya dapat berjalan dengan kaki baru mereka.

"Saya pikir 'inilah orang yang akan membuat saya dapat kembali berjalan semaksimal mungkin'," kenang Ghadban sambil tersenyum.

"Dia tergolong yang terbaik di dunia, saya dapat berjalan kembali dengan normal, saya sangat bahagia.

Ghadban dan ibunya Amira
Ghadban telah berencana untuk melamar seorang gadis yang dicintainya sebelum kejadian yang membuat kakinya harus diamputasi.

ABC News

Mahasiswa muda itu bermimpi bahwa jika operasinya berjalan mulus, dia mungkin dapat memiliki kesempatan untuk mencoba dan menjalani kehidupan normal.

"Saya jatuh cinta dengan seorang gadis," kata Ghadban pelan.

"Saya akan melamarnya setelah kami menyingkirkan ISIS, tapi ketika saya terluka, ibunya berkata kepadanya bahwa ini tidak mungkin terjadi. Orang itu lumpuh.

"Pacar saya berkata kepada saya jika Anda mulai berjalan ... mungkin saat itu ibu saya akan setuju.

"Saya mencoba melakukan operasi untuk berjalan normal lagi, saya akan melamarnya saat itu."

Menghadapi korban perang langsung

Dr Munjed Al Muderis melihat Ali Bassam belajar berjalan lagi
Munjed Al Muderis telah melihat langsung kengerian dampak dari perang Irak.

ABC News

Selama kunjungan mereka, Dr Al Muderis dan stafnya melakukan lusinan operasi yang berusaha membantu sebanyak mungkin pasien, seperti Ali dan Ghadban, sebisa mungkin, sebelum kembali ke Australia.

Perjalanan tersebut merupakan pengalaman yang emosional dan membuka mata bagi Dr Munjed al muderis, karena dia menghadapi langsung bahaya mengerikan yang terjadi akibat perang dan pertempuran yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di Irak.

"Saya tidak bisa berhenti menyembunyikan keterkejutan saya terhadap tingkat keparahan dan kerumitan luka yang dimiliki orang-orang ini dan dengan suara bulat, setiap anggota tim saya, begitu mereka melihat sebuah gambar mereka akan berkata 'oh Tuhan, apa yang akan kita lakukan dengan ini? '"kata Dr Al Munjed al Muderis.

"Melihat jumlah orang yang putus asa, tapi apa yang Anda lakukan? Cobalah melakukan sebanyak yang saya bisa."

Beberapa hari yang lalu, ABC diundang untuk melakukan perjalanan kembali ke Irak bersama Dr Munjed Al Muderis, saat ia terus menemui pasien dan melatih tim dokter dan staf medis Irak untuk melakukan operasi jenis ini dan melanjutkan pekerjaan tanpa dia.

Saatnya untuk melihat apakah operasi yang dia lakukan pada ali Bassam dan Ghadban telah berhasil dan apakah akan membuat mereka mampu menjalani kehidupan normal dalam bentuk apa pun.

Ini menjadi bagian yang sangat membahagiakan bagi Dr Munjed Al Muderis untuk bisa mengamati pasien yang sebelumnya hanya duduk di kursi roda nyaris sebagian besar dari waktu mereka, karena betapa sulitnya untuk dapat melangkah dengan prostesis kuno, akhirnya mampu membuat langkah pertama ke masa depan mereka

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.