ABC

Mantan Jurnalis di Australia Ingin Bunuh Orang Kristen Untuk Balas Serangan di Christchurch

Seorang mantan jurnalis di Canberra, Australia, ingin memancing penganut agama Kristen ke rumahnya dan memerangi mereka sebagai pembalasan atas pembantaian jamaah masjid di Christchurch.

Demikian yang terungkap dalam persidangan terdakwa James Michael Waugh (28) di pengadilan setempat, hari Selasa (30/4/2019).

Terdakwa ditangkap polisi awal bulan April dan diajukan ke pengadilan dengan tuduhan mengancam keselamatan masyarakat, mengancam orang lain serta memiliki senjata untuk membunuh.

Mantan jurnalis Queanbeyan Age ini dalam persidangan mengajukan permohonan tahanan luar namun ditolak oleh hakim.

Jaksa Rae-ann Khazma dalam persidangan menyatakan sejak penangkapan terdakwa, semakin banyak informasi yang muncul terkait kasus ini.

Khazma menjelaskan bahwa terdakwa telah menemui dokter dalam tahanan dan menyampaikan “niatnya untuk memancing calon korban ke rumahnya” sebagai tindakan balasan atas apa yang terjadi di Christchurch.

“Dia jelas-jelas menyatakan ingin berperang, menjadikan dirinya seorang martir atau menjadikan lawannya tampak buruk,” jelasnya.

“Terdakwa juga menyatakan penggunaan pedang tergantung pada berapa banyak orang Kristen yang datang dan apakah mereka bersenjata,” kata jaksa Khazma.

Terdakwa yang tak pernah mengalami penyakit kejiwaan ini, kata jaksa, juga tidak mengakui keabsahan pemerintah Australia serta percaya bahwa hukum negara ini tidak berlaku atas dirinya.

A post on the Canberra House of Prayer Facebook page that reads: I'm going to kill every single one of you dog polytheist c****.
James Waugh beberapa kali memposting ancaman, salah satunya ke grup FB Canberra House of Prayer.

Facebook

Jaksa Khazma menyebutkan bahwa terdakwa Waugh berniat meninggalkan Canberra untuk mempersiapkan “Hari Pembalasan” dengan cara mendatangi pedalaman Queensland bersama saudaranya.

Pemeriksaan komputer milik terdakwa, katanya, menunjukkan adanya pencarian online lokasi-lokasi di Queensland dan Australia Tengah.

Menurut jaksa, berdasarkan informasi ini maka terdakwa tidak boleh mendapatkan status tahanan luar dan harus tetap berada di wilayah hukum Canberra.

Namun pengacara terdakwa Helen Hayunga berdalih permohonan kliennya untuk tahanan luar harus dikabulkan karena tidak ada bukti bahwa dia akan mewujudkan ancamannya.

“Berbeda antara melontarkan ancaman dan bertindak melaksanakan ancaman itu,” katanya.

“Kesulitan tuntutan ini yaitu tidak adanya bukti bahwa terdakwa akan melaksanakan ancamannya,” ujar Hayunga.

“Selain kepemilikan senjata,” tukas hakim Peter Morrison menimpali pengacara terdakwa.

Menurut Hayunga, tidak ada bukti bahwa kliennya melakukan kontak dengan penjahat, tidak ada bukti bahwa dia telah bertindak memancing orang ke rumahnya, serta polisi juga sudah menyita telepon dan komputer terdakwa.

“Dia tentu saja akan memiliki akses internet yang sangat terbatas jika dibebaskan bersyarat,” katanya.

Terdakwa tetap ditahan menunggu persidangan selanjutnya pada bulan Mei.

Simak berita selengkapnya dalam Bahasa Inggris di sini.