ABC

Makan Pagi Gratis Bagi Warga Kota Darwin

Program memberi makanan bagi tunawisma dan kaum lemah di Kota Darwin, Australia, dipandang perlu untuk diperluas jangkauannya. Pasalnya, program yang tadinya darurat pelan-pelan berubah bukan sekadar memberi makanan tapi juga bantuan kesehatan dan kesejahteraan lainnya.

Program yang dilaksanakan badan amal Salvation Army itu bermula pertengahan 2016 lalu di beranda kantor mereka di Kota Darwin.

“Sebenarnya awalnya tidak formal,” ujar Kris Halliday, seorang staf di badan amal tersebut.

“Ada beberapa warga setempat yang tak bisa datang ke pusat kota untuk mendapatkan layanan makan pagi, dan meminta makanan di sini. Jadi tadinya kami hanya siapkan roti bakar dan mie,” kata Kris.

"Resepsionis kami di sini selalu sibuk tiap pagi menyiapkan mie instan bagi warga. Kami melihat adanya kebutuhan dan memulainya dari sana," jelas Kris.

Enam bulan kemudian, badan amal itu telah menyajikan makan pagi gratis enam hari seminggu, dengan pengunjung hingga 30 orang setiap harinya.

Warga yang mencari makan pagi gratis di beranda badan amal tersebut termasuk mereka yang menggelandang, kaum lemah, serta korban kekerasan.

Pada Senin pagi pekan ini, di antara warga yang menikmati sosis dan roti bakar tersebut adalah Edward Gaykamangu dan Agnes Simons. Kedua orang ini tidak bisa lagi memasak di rumahnya karena listriknya diputus gara-gara mereka tak mampu membayar tagihan.

“Kami tak punya uang membayar tagihan listrik,” ujar Agnes Simons.

a woman pouring herself coffee
Badan amal Salvation Army menggelar program breakfast di Darwin.

105.7 ABC Darwin: Emilia Terzon

Menurut Kris Halliday pemutusan listrik merupakan isu paling umum ditemui di kalangan warga yang menerima layanan makan pagi tersebut. Makanya, badan amal ini sering juga membagikan voucher supermaket agar warga bisa membeli tabung gas untuk memasak.

Dari makanan ke layanan kesehatan

Di antara warga yang datang ada pula yang mengalami isu cedera dan kesehatan kronis.

Untuk warga seperti itu, perawat Nicole Anderson sudah siap menanti mereka dengan segala perlengkapan pertolongan pertama seperti kapas dan anti infeksi.

“Kami menemui orang bisulan, jari kaki yang luka karena sepatu yang buruk, infeksi kulit, cedera akibat alkohol – segala macam masalah,” ujar Nicole.

Dia mulai jadi voluntir setelah mendengar adanya isu kesehatan di antara warga penerima layanan makan pagi. Sejak itu dia pun sibuk mulai dari mengantar orang ke ruang gawat darurat hingga membuatkan laporan polisi dan merujuk mereka ke klinik terdekat.

“Pada dasarnya warga datang mencari makanan. Itu kebutuhan yang mendorong mereka datang ke sini,” kata Nicole.

“Tapi kami melihat mereka memiliki isu kesehatan yang tidak ditangani sebab hal itu bukan prioritas utama ketika Anda sedang berhadapan dengan tunawisma, kurangnya makanan, penginapan dan hal semacam itu,” tambahnya.

“Ini menyangkut perlunya bertindak sebelum orang benar-benar sakit dan harus masuk gawat darurat,” katanya.

“Saya menemukan warga yang membalut lukanya dengan kertas toilet dan tisu. Aku cukup menghabiskan waktu membersihkan lukanya dari kertas toilet sebelum bisa menanganinya,” ujar Nicole lagi.

“Apalagi kalau luka akibat pukulan, orang panik dan ingin menyembunyikannya saja,” katanya,

Nicole Anderson mengaku tadinya tidak mau tanya-tanya namun lama-lama ada beberapa orang yang mulai terbuka menceritakan kekerasan yang dialami dari pasangan mereka.

a woman administering first aid
Perawat Nicole Anderson jadi voluntir di badan amal Salvation Army.

105.7 ABC Darwin: Emilia Terzon

“Ada perempuan yang mengalami kekerasan berkali-kali. Dia mengalami cedera yang ingin dia periksa,” kata Nicole.

“Saya membawanya ke rumahsakit dan berbicara dengan seizin dia karena dia kesulitan bicara,” tambahnya.

Perluas layanan di seluruh Darwin

Menurut Kris Halliday, pemberian makanan setiap hari merupakan mekanisme untuk terlibat dalam kehidupan warga yang rentan. Beberapa yang datang mencari makanan juga mendapatkan bantuan layanan kecanduan, transportasi dan perumahan dari Salvation Army.

“Kami sama sekali tidak tahu saat bolak-balik di koridor kantor membuat mie enam bulan lalu, bahwa kami akhirnya akan menawarkan layanan kesehatan dan membangun hubungan dengan warga ,” katanya.

Kris mengatakan badan saat ini tidak punya rencana memperluas layanan, namun ia menyambut baik kemitraan dengan penyedia layanan lainnya.

“Layanan seperti ini benar-benar diperlukan di seluruh Darwin,” katanya.

Diterbitkan Pukul 11:00 AEST 25 Januari 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris.