ABC

Mahasiswa Indonesia Teliti TB d Australia

Heni Muflihah adalah kandidat doktor bidang kedokteran asal Indonesia yang kini tengah mengembangkan vaksin TB (tuberkulosis) baru di Universitas Sydney. Sebagai ilmuwan kesehatan, Heni meyakini bahwa Indonesia mampu terbebas dari jeratan penyakit akibat kuman itu, hanya jika semua pihak turut berpartisipasi.

Sebagai negara dengan jumlah kasus TB terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki pekerjaan rumah di bidang kesehatan masyarakat. Pekerjaan rumah yang dinilai Heni Muflihah, kandidat doktor di Universitas Sydney, memotivasinya untuk terus meriset vaksin baru untuk memperbaiki kekebalan tubuh.

“Banyaknya penduduk, apalagi dengan pemukiman yang padat dimana rumah dihuni oleh banyak orang, apalagi tidak cukup cahaya matahari masuk, akan sangat memudahkan penularan TB,” ujar penyuka kegiatan outdoor ini tentang faktor penyebab berkembangnya TB di Indonesia.

Saat ini, Heni bersama tim pembimbingnya tengah mencoba membuat vaksin TB baru dengan menggunakan virus influensa sebagai pembawa bagian tubuh kuman TBC agar bisa dikenali oleh sistem kekebalan manusia.

Heni Muflihah
Heni melakukan penelitian untuk pengembangan vaksin TB di Program Penelitian TB, Institut Centenary, Fakultas Kedokteran, Universitas Sydney.

Australia Awards

Penelitiannya mencakup uji coba pemberian vaksin langsung ke paru-paru, lokasi utama kuman TB –yang bisa tinggal bertahun-tahun tanpa bisa dikenali oleh sistem kekebalan tubuh.

“Virus influensa dikenal sangat ampuh untuk memacu sistem kekebalan tubuh di paru. Jadi, kita coba melawan kuman TB yang pandai bersembunyi dengan membangkitkan sistem kekabalan tubuh menggunakan virus influensa yang sangat aktif,” jelas perempuan beljilbab ini kepada Australia Plus.

“Saat ini saya sedang menguji manfaat vaksin ini pada tikus,” tambahnya.

Sejak melakoni studi sarjana, Heni sudah memilih bidang ilmu kedokteran. Namun ketertarikannya pada riset vaksin TB baru muncul saat ia menjalani program pasca sarjana.

“Sejujurnya, saya masuk ke kedokteran awalnya karena mengikuti keinginan orang tua. Dan ketertarikan saya untuk meneliti TB bermula saat saya melanjutkan S2 dan berkawan dekat dengan teman yang bekerja di laboratarium di rumah sakit paru,” cerita ilmuwan yang mulai menjalani studi doktoral di Australia sejak tahun 2013 ini.

“Dia bercerita tentang tingginya kuman TB yang sudah resisten atau bisa bertahan hidup dengan obat anti-TB,” sambung perempuan yang sejak tahun 2005 telah menjadi dosen Pegawai Negeri Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) Wilayah IV (Jawa Barat).

Dari situlah, Heni bertekad untuk mendalami vaksin TB. Baginya, Indonesia tak mustahil untuk bisa terbebas dari penyakit akibat kuman tersebut. Terlebih, jika masyarakat mau menjaga kesehatan pribadi dan lingkungan sekitar.

“Bisa, tapi perlu kerja keras dari semuanya. Masyarakat harus melakukan perilaku hidup sehat, dan menjalani pengobatan paripurna bila sakit, tenaga kesehatan dan pemerintah melakukan kontrol program penanggulan TB dengan benar dengan tujuan utama memberantas TB,” jelas lulusan kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Universitas Padjajaran ini bersungguh-sungguh.

Ia kemudian merinci, kepatuhan pengobatan oleh pasien dan manajemen pengobatan oleh dokter juga menjadi faktor penting.

“Saat evaluasi program, kita perlu jujur dengan apa yang sudah kita capai, mengetahui sampai ke akarnya masalahnya dimana, dan kita semua berkomitmen mendahulukan tujuan pemberantasan TB ini,” imbuhnya sembari menekankan bahwa kondisi lapangan yang biasa dihadapinya bisa menjadi kompleks.

Heni Muflihah
Menurut Heni, tak semua dokter harus melakukan riset.

Australia Awards

Pengalaman belajar di Australia memberi Heni wawasan baru sebagai seorang ilmuwan, termasuk untuk memperhatikan hal-hal terperinci.

“Saya melihat ilmuwan di sini tidak hanya menguasai konsep atau teori tapi juga ahli dalam melakukan hal-hal detil, sehingga ketika ingin melakukan riset itu tahu betul bagaimana proses detail mewujudkan yang dituju, tidak hanya dalam ranah konsep atau ide,” ungkap pencinta aktivitas berkemah di kala senggang ini.

Ia menerangkan lebih lanjut, “Misalnya saya belajar tentang antibodi, itu sampai bisa membuat sendiri stok antibodi untuk riset saya. Selain belajar pengetahuan dan kemampuan teknik di lab tentang immunologi TB, saya juga terlibat dalam networking atau kerja sama lintas institusi yang ternyata itu penting untuk memperkaya dan mempermudah riset. “

Menanggapi maraknya penolakan vaksin dan imunisasi yang belakangan ini beredar, Heni memiliki pendapat tersendiri.

“Betul tubuh kita diberikan sistem kekebalan tubuh yang lengkap, ada banyak jenis sel yang dan organ tubuh yang terlibat, dan mereka bekerja bersama-sama tapi tidak sama persis."

Ada sistem kekebalan yang secara alami bisa mengenali apa-apa saja yang membahayakan tubuh secara umum dan melawannya. Sayangnya, ada banyak juga kuman atau penyakit yang bisa lolos dari sistem alami ini,” terangnya.

Kuman yang lolos itu, menurut Heni, hanya bisa dimusnahkan oleh sistem kekebalan adaptif yang memiliki kemampuan mengingat dan melawan dengan kuat kuman yang diingat ini.

“Tentu, sistem ini harus dilatih dulu dengan mengenali kuman tertentu saja, sehingga mereka siap melawan saat ada serangan kuman yang sama nanti. Inilah prinsip utama vaksinasi, kuman atau sedikit bagian dari kuman dikenalkan ke tubuh agar tubuh menjadi kebal,” ujarnya kepada Nurina Savitri dari Australia Plus.