ABC

Mahasiswa Aborijin Ini Menggali Kembali Astronomi Leluhurnya

Puluhan ribu tahun silam penduduk asli Australia memandang ke langit untuk membaca rasi bintang demi mencari panduan atau navigasi mengenai lingkungan mereka.

Belakangan ini meski terdapat polusi ringan di pinggiran kota-kota besar, setelah hari gelap seorang warga keturunan Aborijin Wiradjuri, Kirsten Banks, menggunakan metode untuk menyebarkan pengetahuan mengenai astronomi orang Aborijin.

Pemandu wisata dan pengajar astronomi berusia 20 tahun di Observatorium Sydney ini memiliki ketertarikan pada ruang angkasa. Namun dia tidak banyak mengetahui hubungan antara kebudayaannya sendiri dengan bidang sains ini.

Dia memutuskan menambah pengetahuannya setelah melewati peta sebaran penduduk asli Australia di koridor tempatnya bekerja di Observatorium Sydney.

"Saya tahu bahwa saya memiliki latar belakang sebagai warga Aborijin. Namun saya tidak tahu asal saya. Jadi ketika melihat hal itu saya pikir, 'Keluargaku berasal dari sana'," kata Kirsten kepada ABC.

Mengikuti latar belakang budayanya sendiri sambil belajar lebih banyak mengenai alam semesta, Kirsten Banks mulai tertarik dengan dongeng-dongeng yang pernah didengarnya ketika masih kanak-kanak.

Koneksi dengan lansekap

Kirsten menjelaskan astronomi Aborigin adalah bagaimana rasi bintang secara intrinsik terhubung dengan lansekap di Australia.

Rasi burung emu dalam astronomi masyarakat Aborijin
Rasi burung emu di angkasa sejajar dengan pahatan lukisan batu di New South Wales.

Supplied: Barnaby Norris


"Konsep yang sangat penting dalam astronomi atau kebudayaan Aborijin adalah apa yang ada di langit dan juga apa yang ada di bumi," katanya.

"Semuanya merupakan budaya yang kompleks, yang menakjubkan," ujarnya.

Salah satu rasi bintang favoritnya adalah rasi berbentuk burung Emu, yang menurutnya bisa terlihat di bagian gelap Bima Sakti.

"Begitu melihatnya, Anda tidak dapat mengabaikannya," katanya.

"Tubuh emu adalah pusat dari Bimasakti. Atau sebagaimana orang melihatnya, terkadang ketika letaknya di atas setelah matahari terbenam kita melihatnya seperti telur emu di dalam sarangnya," urainya.

Kirsten mengatakan rasi Emu digunakan untuk berbagai hal, termasuk mencari sumber makanan.

"Rasi ini memberitahu kapan kita bisa mencari telur emu," dia menjelaskan.

Berkarir di arkeoastronomi

Mahasiswa fisika tahun ketiga ini sekarang ingin berkarir di bidang komunikasi sains dan arkeoastronomi, yaitu studi tentang astronomi kuno.

"Ketika Anda mengatakan kuno, rasanya seperti sudah mati. Namun pengetahuan astronomi ini masih berlangsung. Sampai sekarang," kata Kirtsen.

Kristen baru mengambil mata kuliah astrofisika pertamanya semester ini. Satu hal yang dia sukai dari lapangan adalah selalu lebih banyak hal yang dapat dipelajari dari orang lain.

"Saya ingin berbagi minat dengan orang. Melihat mereka senang dan bersemangat mengenai antariksa sebagaimana juga saya. Hal itu sangat menyenangkan, sangat menggembirakan," kata Kirsten.

Begitu lulus nanti Kirsten berencana melanjutkan studi PhD di bidang fisika. Dia ingin melakukan penelitian dengan para tetua Aborijin di seluruh Australia, belajar tentang astronomi mereka.

"Saya menantikan kesempatan pergi ke berbagai negara bagian, belajar langsung semua pengetahuan astronomi Aborijin itu," kata Kirsten.

"Banyak daerah adat Aborijin di luar sana. Ada lebih dari 250 kelompok berbeda. Jadi mungkin perlu waktu lama mempelajari astronomi Aborijin," ujarnya.

Teleskop tertua yang masih difungsikan
Dengan menggunakan teleskop tertua yang masih difungsikan di observatorium Sydney Observatory, Kirsten Banks mengajarkan masyarakat mengenai astronomi Aborijin.

ABC: Lisa Clarke

Kirsten akan menyelenggarakan serangkaian workshops selama Pekan Sains Nasional di Sydney. Dia ingin mengajari anak-anak bagaimana kebudayaan Aborijin dan Torres Strait Islander menavigasikan angkasa dan bumi melalui dongeng dan berbagai penanda.