ABC

Lulusan Dari Keluarga Migran Lebih Susah Dapat Pekerjaan di Australia

Menurut sebuah penelitian terbaru di Australia, pelajar dari keluarga pengungsi dan migran lebih kecil kemungkinan mendapatkan pekerjaan penuh waktu dibandingkan mereka yang dilahirkan di Australia.

Sebuah laporan yang dibuat oleh Departemen Kesehatan negara bagian Victoria (VicHealth), grup Data61 CSIRO, dan Jaringan Advokasi Multibudaya Belia (MYAN) mengatakan hanya 45 persen mahasiswa yang lahir di luar negeri akan mendapatkan pekerjaan paruh waktu setelah tamat dari universitas.

Sementara mereka yang lahir di Australia 69 persen diantaranya mendapatkan pekerjaan.

Koordinator nasional MYAN Nadine Liddy mengatakan para pakar sekarang sudah menemukan beberapa alasan mengapa hal tersebut terjadi.

"Diskriminasi rasial, kurangnya pemahaman akan pasar tenaga kerja dan kurangnya pengakuan akan ketrampilan dan kualifikasi dari luar menjaid alasan utama." katanya.

"Ini membuat anak-anak muda dari latar belakang pengungsi dan migran menjadi paling rentan dalam soal mendapatkan pekerjaan."

Satu dari lima warga Australia antara usia 12-24 tahun lahir di luar negeri dan 25 persen lainnya memiliki paling sedikit satu orang tua yang lahir di luar negeri.

Penelitian juga mengungkapklan bahwa anak muda yang memiliki orang tua yang lahir di luar negeri memiliki kemungkinan mengenyam pendidikan universitas dibandingkan mereka yang memiliki orang tua yang lahir di Australia.

"Saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan"

Lorraine Ngwenya masih remaja ketika dia pindah ke Australia dari Zimbabwe bersama kedua orang tuanya.

Dia menyelesaikan pendidikan sekolah menengahnya di Australia sebelum kemudian melanjutkan ke universitas.

"Namun ketika selesai jadi sarjana kesehatan masyarakat, saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan." katanya.

"Itu berlangsung selama delapan bulan. Saya melamar ke sana kemari namun tidak ada yang memanggil."

Ngwenya mengatakan salah satu hambatan utama untuk mendapatkan pekerjaan adalah mendapatkan pengalaman yang dibutuhkan.

"Banyak pengungsi dan migran yang tidak dibesarkan di Australia tidak memiliki jaringan yang memungkinkan mereka berhubungan dengan orang yang bisa memberikan mereka pengalaman." katanya lagi.

"Mereka yang dibesarkan di sini mungkin kenal dengan orang yang tahu orang lainnya."

Frustrasi dengan kurangnya kesempatan tersebut, Nqwenya yang berusia 28 tahun akhirnya membuat usaha sendiri memban tu anak-anak muda dari berbagai kalangan untuk mendapatkan ketrampilan yang dibutuhkan guna mendapatkan pekerjaan.

"Kadang orang berpikir karena nama keluarga saya terasa asing, berarti saya tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancar." katanya.

"Prasangka seperti ini membuat saya frustrasi dan sesuatu yang harus diatasi."

Meningkatnya rasisme

Penelitian terbaru ini juga menyebutkan adanya peningkatan diskriminasi rasial yang terjadi selama 10 tahun terakhir, dengan rasisme di internet yang memprihatinkan.

"Dari data yang ada, kami tahu bahwa anak-anak muda dari kalangan pengungsi dan migran menghadapi diskriminasi dan sikap rasis setiap hari." kata Liddy.

"Kami prihatin mengenai adanya peningkatan tindak rasis ini dan kami tahu ini memberikan pengaruh kuat terhadap kesehatan mental anak-anak muda tersebut."

Mereka yang berusia antara 18 sampai 24 tahun besar kemungkinan terkena dampak dari tindakan rasis, meskipun penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak muda lebih menerima perbedaan budaya dibandingkan warga lain yang tua.

Ngwenya berharap bawha mereka yang memiliki latar bekakang pengungsi dan migran tidak membiarkan diskriminasi mengganggu ambisi mereka untuk bisa sukses di Australia.

"Saya berharap bahwa kita tidak terpengaruh oleh hal seperti itu." katanya.

"Masih ada ruang bagi orang untuk melihat bahwa pengungsi dan migran, sama seperti yang lainnya, adalah mereka memiliki ketrampilan yang bisa ditawarkan di dunia kerja."

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini