ABC

Lautan Perlu Dipupuki Kotoran Ikan Paus

Kotoran paus ternyata sangat kaya nutrisi yang penting mendorong pertumbuhan plankton yang berperan besar menjaga ketersediaan rantai makanan bagi biota laut. Itu tak lain karena kotoran ikan paus mengandung zat besi dengan kadar 10 juta kali lebih tinggi dibandingkan air laut itu sendiri, yang berperan sebagai pupuk bagi plankton. Masalahnya adalah saat ini tidak tersedia cukup kotoran paus lagi di lautan.

 
Kotoran ikan paus merupakan kunci dari kesehatan biota laut.
 
Kandidat PhD dari Universitas Tasmania, Lavenia Ratnarajah mengatakan dari riset yang dilakukannya menunjukan kotoran ikan Paus sangat berperan dalam meningkatkan kadar zat besi di lautan.
 
"Kotoran Ikan Paus mengandung zat besi yang jumlahnya 10 juta kali lebih tinggi dari kandungan zat besi di dalam air laut, dan ironisnya populasi Ikan Paus menurun tajam dalam beberapa dekade terakhir," kata Ratnarajah kepada ABC Hobart.
 
"Penurunan tajam populasi ikan paus itu menyebabkan kandungan zat besi di dalam air laut juga menjadi ikut berkurang,” katanya.
 
Selain dari kotoran ikan paus, kandungan zat besi di dalam  air laut juga bersumber dari daratan di pesisir lautan, gunung api bawah laut, gunung es dan lapisan es yang mencair, namun itu semua menurut Ratnarajah tidak cukup.
 
"Ternyata kotoran ikan paus itu sangat penting. Kotorannya sangat kaya nutrisi dan berpotensi berperan sebagai pupuk penyubur yang membuat tanaman dibawah laut menjadi subur,” katanya.

Tanaman bawah laut yang dimaksud oleh Ratnarajah adalah plankton laut, yang diketahui luas sangat vital bagi sebagian besar mahluk hidup di lautan.
 
"Plankton merupakan organisme kecil yang berperan seperti hutan hujan tropis di lautan dan keberadaannya sangat penting karena menjadi dasar dari keberlangsungan rantai makanan di lautan. Jadi planktonlah yang memberi makan bagi semua mahluk hidup yang ada di samudera,” papar Ratnarajah.

"Mereka juga memproduksi lebih dari setengah kandungan oksigen di dunia, jadi setiap tarikan nafas kita ini juga berasal dari lautan,” tegasnya.
Untuk sementara waktu ketika sumber zat besi lain di lautan masih tersedia dengan baik, menurut Ratnarajah, jumlah zat besi yang terdapat di lautan mengalami penurunan yang digambarkan seperti berkurangnya luas kolam renang di event Olimpiade.

"Saat ini jumlah kadar zat besi di seluruh kawasan laut di bagian Selatan berkurang dan banyak kawasan yang terletak jauh dari seluruh sumber zat besi selain kotoran ikan paus, sehingga tak heran jika kadar zat vesi di perairan tersebut sangat rendah,” katanya.
 

Kotoran ikan paus mengandung zat besi yang kadarnya 10 juta kali lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan zat besi pada air laut.

Aspek lainnya adalah ikan paus memiliki kemampuan untuk menyebarkan kotoran mereka ke seluruh kawasan di laut, tidak seperti sumber lainnnya yang hanya bisa terkonsentrasi di satu tempat tertentu saja.

"Ketika ikan paus berenang, mereka membuang kotoran dan kotoran itu akan menyembul ke permukaan air laut yang kita kenal dengan bubur apung dan itu kemudian akan berpencar di sepanjang permukaan air laut,” katanya.

Kotoran itu kemudian akan tenggelam ke dasar lauran dan akan larut dalam air dan menambah kadar nutrisi yang diperlukan untuk mahluk hidup biota laut untuk berkembang biak.

Periode migrasi bagi ikan laut juga ternyata memainkan peran penting dalam proses alami penyebaran zat besi dari kotoran mereka ke wilayah yang jauh letaknya oleh mamalia besar tersebut.

Ratnarajah mengatakan, meskipun temuan dari risetnya penting, namun dia kerap mendapatkan tatapan aneh dan sepele setelah menjelaskan hasil temuannya ini.

"Sering kali orang tertawa ketika mendengarkan hasil riset PHD saya ini, padahal riset ini mengungkapkan fakta yang sangat penting dan akhirnya memberi saya kesempatan untuk membuka percakapan mengenai perubahan iklim dan pentingnya menyikapi masalah tersebut,”