ABC

Laporan Awal Sebut Ambruknya Mezzanine BEI Akibat Sambungan Longgar

aporan awal yang disampaikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Indonesia mengatakan, sambungan yang longgar atau mengalami korosi kemungkinan menyebabkan ambruknya lantai mezzanine di dalam gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pekan ini, insiden yang membuat puluhan mahasiswa jadi korban.

Lebih dari 70 orang terluka dalam insiden hari Senin (15/1/2018), yang terekam dalam kamera CCTV, itu. Di dalam rekaman terlihat lantai mezzanine yang serupa jembatan ambruk, menjatuhkan dan menimpa mahasiswa yang tengah berkunjung, beberapa bahkan terjebak di bawah beton dan reruntuhan lainnya.

Insiden yang terjadi kawasan niaga terpadu Sudirman (SCBD) ini begitu mengejutkan banyak pihak, meski standar keselamatan bangunan di Indonesia dinilai beberapa pihak seringkali longgar.

Laporan Kementerian Pekerjaan Umum itu mengatakan, lantai mezzanine ambruk karena beberapa rantai kabel penyangga terlepas dari langit-langit akibat 'konsentrasi massa' di salah satu titik di mana hampir 100 mahasiwa yang tengah melakukan kunjungan berkumpul.

Kesimpulan awalnya, runtuhnya lantai mezzanine tersebut disebabkan oleh 'baut yang longgar atau terkorosi' atau 'sambungan yang bergeser'?

Laporan itu juga menyebutkan, jalur gantung di lantai mezzanine itu adalah struktur asli, yang dibangun di akhir tahun 1990an, bukan struktur tambahan.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengatakan, laporannya didasarkan pada sejumlah hasil wawancara dengan manajemen gedung, pengamatan visual dan analisa rekaman CCTV di media sosial, namun menambahkan bahwa tim-nya belum punya akses langsung ke lokasi.

"Pengamatan lebih jauh dan lebih dekat dibutuhkan di lokasi, begitu pula dokumen konstruksi," sebut mereka.

Biro pers Kementerian itu mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Kami sampaikan bahwa laporan tersebut masih berupa laporan awal hasil kajian staf Kementerian PUPR yang bersifat unofficial atau tidak resmi."

Gedung berlantai tinggi itu adalah bagian dari kompleks dua menara yang dimiliki dan dibangun oleh PT Danayasa Arthatama Tbk, bagian dari grup Artha Graha.

Gedung ini menampung puluhan kantor termasuk Bank Dunia cabang Indonesia.

Juru bicara perusahaan itu sebelumnya menolak berkomentar atas insiden tersebut. Tak ada satupun dari perusahaan itu yang bisa dimintai keterangan atas temuan laporan awal.

Bagi beberapa dari 92 mahasiswa akuntansi dari Palembang yang tengah melakukan kunjungan belajar, insiden itu terasa seperti gempa bumi yang kuat.

Salah satu orang mengatakan, sejumlah mahasiswa, yang sadar akan kemacetan jakarta, datang lebih awal dan mencari mushola sebelum memulai kunjungan ke lantai bursa.

Lebih dari 70 orang terluka akibat runtuhnya lantai mezzanine di dalam gedung BEI.
Lebih dari 70 orang terluka akibat runtuhnya lantai mezzanine di dalam gedung BEI.

AP

Banyak juga yang berencana terbang ke Bali untuk liburan setelah kunjungan mereka di Jakarta.

"Saya pikir itu gempa dan saya langsung teriak ketika saya melihat banyak teman saya berdarah dan dipenuhi debu," ujar Betride Septiani.

"Kami tak merasakan pertanda apapun seperti lantai yang goyang atau sejenisnya, itu semua terjadi tiba-tiba."

Rekaman CCTV yang ditayangkan TV lokal dan tersebar di media sosial menunjukkan, lantai mezzanine tempat mahasiswa berjalan tiba-tiba runtuh dalam sekejap.

Betride mendarat dengan punggungnya satu lantai di bawah mezzanine tapi hanya menderita luka ringan. Mahasiswa lainnya pinhsan atau mengalami patah tulang dan gegar otak dan masih dirawat di rumah sakit.

Tim forensik kepolisian menyisir lokasi kejadian untuk menemukan petunjuk mengapai lantai gantung itu ambruk dan mewawancarai manajemen gedung pada hari Selasa (16/1/2018).

Kompleks BEI sempat menjadi target bom mobil pada bulan September 2000.

Polisi menegaskan bahwa penyebab insiden itu bukanlah bom.

Menara dua gedung BEI dibuka kembali pada hari Selasa (16/1/2018) dan menara tempat insiden runtuhnya lantai mezzanine juga berencana dibuka segera.

Salah satu pakar mengatakan, laporan awal tadi memiliki 'kesimpulan yang beralasan' dan bahwa insiden seperti itu bisa sulit untuk diprediksi.

"Itu mungkin terjadi karena degradasi material seiring berjalannya waktu dan karena gempa, dan untuk mencegah hal itu kami harus mengembangkan material dan sambungan yang lebih tahan banting," kata Davy Sukamta, kepala komunitas insinyur sipil dan struktur Indonesia.

"Jika sebuah bangunan memiliki konstruksi spesial seperti ini, harusnya ini diperiksa lebih berkala untuk melihat adanya kerusakan."

Polisi membantah runtuhnya lantai mezzanine itu akibat bom.
Polisi membantah runtuhnya lantai mezzanine itu akibat bom.

Reuters: Darren Whiteside

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.