ABC

Kreativitas Tidak Cukup Bagi Musisi Indonesia

Di jaman sekarang, lagu dan konten musik mudah didapat lewat internet atau media digital. Tapi secara ekonomi musisi Indonesia masih memperjuangkan dampak ekonomi dari kemudahan teknologi tersebut.

Kemudahan teknologi memberikan dampak pada pendistribusian lagu dan konten musik secara tidak legal, yang pada ujungnya merugikan seniman.

Demikian dikatakan Yovie Widianto, musisi ternama sekaligus pendiri kelompok musik Kahitna saat ditemui di acara konferensi pers Soundsekerta, yang digelar di kantor KJRI Melbourne.

"Dampaknya secara ekonomi masih diperjuangkan oleh kami, dan masih menjadi masalah yang hangat akhir-akhir ini," ujar Yovie kepada Erwin Renaldi dari Australia Plus.

Menurut Yovie permasalahnya bukan hanya pendistribusian yang tidak legal, tetapi perlu adanya upaya agar masyarakat lebih menghargai karya seni musik.

"Ini juga menjadi tantangan kami kepada seniman agar lebih paham bagaimana memasarkan produk seni di era digital," tambahnya. "... Supaya warga bisa menikmatinya dengan baik, menghargainya secara ekonomi."

Indonesia sebenarnya sudah memiliki Badan Ekonomi Kreatif, yang salah satunya untuk mendukung seniman-seniman dan pekerja di industri kreatif, seperti musisi. Badan yang dikepalai oleh Triawan Munaf ini adalah bagian dari Kementerian Pariwisata,

"Di bidang film, hasilnya mungkin sudah bisa dikatakan terlihat, tetapi di bidang musik ini baru dimulai dan butuh perjuangannya panjang," jelas Yovie.

"Yang lebih terpenting bukan saja niatnya saja, tapi juga implementasinya ke lapangan, inilah tantangannya bagi Badan Ekonomi Kreatif. Selain itu bagaimana mereka bisa mengakselerasinya dengan dukungan kami."

Yovie berharap jika kedepannya Indonesia sudah memiliki strategi yang bagus soal pasar musik digital serta implementasi yang menyuluruh, maka profesi seniman bisa sangat menjanjikan mengingat luasnya pangsa pasar dari dalam negeri, dan bahkan di luar negeri.

"Semoga dalam lima tahun yang akan datang, cita-cita menjadi seniman menjadi cita-cita yang favorit bagi masyarakat Indonesia," tegas Yovie.

Yovie juga berpendapat jika musisi Indonesia memiliki peluang besar untuk bekerja sama dengan musisi Australia, mengingat kedua negara memiliki kelebihan yang berbeda-beda.

"Dari beragam sisi, kami merasa lebih unggul dari Australia, stasiun TV, kreativitas, dan keberagam musiknya. Tapi dari akses, kedekatan ke dunia luar, Australia lebih unggul karena lebih dekat dengan Eropa,". kata Yovie.

Dari tantangan-tantangan yang berbeda inilah Yovie menganggap kedua negara bisa saling bekerja sama, yang pada akhirnya tidak hanya sebagai alat diplomasi.

"Sejak 10 atau 15 tahun, musik sebenarnya sudah dijadikan alat diplomasi, tapi teknisnya lebih pada budaya dan kultur yang tradisional. Sebenarnya pop culture itu menjadi upaya diplomasi yang paling mudah diterima dan Indonesia punya potensi seperti K-Pop, misalnya."

Menurut Yovie, jika Australia melihat Indonesia sebagai pangsa yang besar, maka perlu adanya pemahaman yang setara antara Australia dan Indonesia dalam mengapresiasi musik dan karya musisi kedua negara.