ABC

Konsumsi Makanan Berlebihan Hamburkan Seperlima Pangan Global

Perilaku makan berlebihan ternyata memiliki dampak yang lebih besar dari hanya sekedar memengaruhi ukuran pinggang anda. Sebuah kajian terbaru menyatakan, populasi dunia telah mengkonsumsi 10% makanan lebih banyak dari yang mereka butuhkan, Sementara hampir 9% makanan dibuang percuma atau disisakan.

Tim dari Universitas Edinburg mengatakan, upaya untuk mengurangi miliaran ton makanan yang terbuang ini bisa meningkatkan ketahanan pangan global, memastikan semua orang memiliki akses terhadap makanan bergizi yang aman dan terjangkau serta membantu mencegah kerusakan lingkungan.
Para ilmuwan di Edinburgh meneliti 10 tahapan kunci dalam sistem pangan global, termasuk konsumsi makanan dan pertumbuhan dan panen tanaman, untuk mengukur sejauh mana kerugian terjadi.
Menggunakan data yang dikumpulkan terutama oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), tim peneliti menemukan bahwa lebih banyak makanan yang terbuang dari sistem dari yang diperkirakan sebelumnya.
"Mengurangi kerugian dari sistem pangan global akan meningkatkan ketahanan pangan dan membantu mencegah kerusakan lingkungan. Sampai saat ini, tidak diketahui bagaimana dampak konsumsi makanan yang berlebihan ini terhadap sistem tersebut," ungkap Dr Peter Alexander, dari Sekolah Geosains dan Sekolah Pertanian Skotlandia.

Para peneliti mengatakan, hampir setengah dari hasil panen – atau sekitar 2,1 miliar ton -terbuang melalui konsumsi berlebihan, limbah konsumen dan inefisiensi dalam proses produksi.

Sebuah laporan Rabobank pada bulan September mengatakan, warga Australia menghambur-hamburkan uang lebih dari $10 miliar untuk makanan setiap tahunnya, dengan angka limbah pangan nasional yang meningkat dibandingkan tiga tahun sebelumnya.
Tim peneliti dari Universitas Edinburg juga menemukan, produksi peternakan merupakan proses yang paling tidak efisien, dengan kerugian mencapai 78 persen atau 840 juta ton.
Sebanyak 1,08 miliar ton bahan makanan yang dipanen digunakan untuk memproduksi 240 juta ton produk hewani yang dapat dimakan termasuk daging, susu dan telur.
Tahapan ini sendiri menyumbang 40 persen dari seluruh kerugian hasil panen, ungkap para peneliti.
Para peneliti menyebut, peningkatan permintaan akan beberapa makanan, terutama daging dan produk susu, dapat menurunkan efisiensi sistem pangan dan bisa mempersulit upaya memberi makan populasi dunia yang semakin meluas dengan cara-cara yang berkelanjutan.
Memenuhi permintaan ini bisa menyebabkan kerusakan lingkungan dengan meningkatkan emisi gas rumah kaca, menghabiskan pasokan air dan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati.
Tim peneliti mengatakan, mendorong orang untuk mengkonsumsi lebih sedikit produk hewani, mengurangi limbah dan tidak berlebihan memenuhi kebutuhan gizi mereka bisa membantu membalikkan tren ini.
Diterjemahkan pada pukul 13.50 WIB, 22/2/2107 oleh Iffah Nur Arifah dari artikel Bahasa Inggris disini.