ABC

Konsul RI di Kawasan Utara Australia Prioritaskan Peningkatan Hubungan Dua Negara

Konsulat Jendral Republik Indonesia di Kawasan Utara yang baru bertugas, Andre Siregar akan memprioritaskan peningkatkan hubungan antara Indonesia dan Australia. Termasuk diantaranya adalah membuat perjanjian dagang baru. 

Kawasan Utara Australia, atau Northern Territory adalah wilayah Australia yang paling terdekat dengan Indonesia.

Bali hanya berjarak dua setengah jam penerbangan dari kota Darwin, ibu kota Kawasan Utara.

Australia dan Indonesia sudah menjadi mitra dagang yang penting, tapi Konsul Indonesia di Kawasan Utara Australia, Andre Siregak mengaku kalau Kawasan Utara Australia telah memiliki hubungan yang lebih erat dengan Indonesia, dibandingkan dengan negara-negara bagian lainnya. 

"Kita sudah punya hubungan yang kuat di Abad ke 17, para nelayan asal Makassar telah berlayar ke Australia dan bertemu dengan warga pribumi Australia," ujarnya.

"Menakjubkan melihat bagaimana Indonesia dan Australia selalu punya ikatan bersama," kata Andre Siregar kepada Nadia Daly dari ABC News. "Seperti yang dikatakan PM Tony Abbott, [Australia dan Indonesia adalah] tetangga terdekat, tetapi peranan penting yang dimiliki Kawasan Utara Australia akan memperkuat hubungan ini." 

Andre Siregar, Konsul RI baru di Kawasan Utara Australia. ABC News: James Purtill

Menurut Andre, ada banyak kesempatan untuk memperkuat hubungan dagang dan budaya antar kedua negara.

"Banyak potensi yang dapat di gali dan menguntungkan kedua negara. Tidak hanya di peternakan, tetapi juga budaya dan kerjasama pendidikan," katanya.

Bertambahnya jumlah kelas menengah di Indonesia telah menjadi berita yang baik bagi Australia. Daging sapi Australia di Indonesia telah dianggap sebagai produk premium.

Andre melihat adanya pertumbuhan yang stabil dari industri ternak Australia, dengan kondisi di Indonesia yang terus mencari cara untuk bisa memenuhi konsumsi daging yang terus meningkat. 

Menurutnya hubungan dagang bisa diperkuat dengan kesepakatan perdagangan bebas, yang sudah dituangkan dalam kerjasama kemitraan ekonomi Australia dan Indonesia.

Kerjasama ini rencananya akan diumumkan oleh duta besar Indonesia di Australia, Nadjib Riphat Kesoema dalam beberapa waktu kedepan.

Sebelumnya para peternak di Australia telah menekan pemerintah Australia untuk membuat kesepakatan perdagangan bebas dengan Indonesia, seperti yang dilakukan dengan Cina.

Sementara itu, nelayan ilegal di perairan Kawasan Utara Australia telah menyebabkan tekanan perbatasan wilayah. Begitu pula dengan kebijakan pemerintah Australia untuk menggembalikan perahu-perahu pencari suaka yang berangkat dari Indonesia.

Menyikapi hal ini, Andre menilai bahwa Indonesia mencoba upaya terbaik mengatasi masalah-masalah ini, tetapi ini merupakan "persoalan bersama".

"Saya lihat bukanlah hal yang mudah bagi Australia dan indonesia, yang sering dijadikan tempat transit. Banyak sekali orang-orang miskin dari kawasan lain yang berangkat melalui Indonesia," jelas Andre. "Sangatlah penting untuk mencari solusi bersama."

"Australia akan selalu menjadi mitra [Indonesia]. Kita ingin agar kawasan menjadi aman."

Andre yakin keamanan dan kestabilan di kawasan akan tercipta jika bisa menghindari kesalahan komunikasi antara Australia, Indonesia, dan kekuatan besar di Asia, yakni Cina.

Australia tidaklah terlalu asing bagi Andre Siregar

Andre mungkin masih merasa baru di Kawasan Utara Australia, tetapi Australia dan urusan diplomasi bukanlah hal yang asing baginya.

"Saya besar di Australia, pernah belajar di Vacluse di Sydney," ungkap Andre. "Saya tamat sarjana di Wellington, Selandia Baru dan mendapat gelar master di Melbourne."

Sebelum jabatannya sebagai konsul jendral RI di Kawasan Utara, ia pernah menjadi penerjemah bagi mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Megawati Sukarnoputri, juga mantan perdana menteri Australia, John Howard.

Sebelumnya pun ia pernah berkunjung ke Kawasan Utara Australia di tahun 2012 bersama SBY dan bertemu dengan perdana menteri Australia saat itu, Julia Gillard.

"Saat saya kesini di tahun 2012, saya merasa kota ini bisa menjadi tempat yang enak untuk ditinggali," ujarnya. "Saat melihat Darwin, saya melihat esensi sebenarnya dari Australia, warga yang bekerja keras, tapi di saat yang sama menghargai kehidupan dan pedalaman."

Andre mengaku kalau kesempatan ini akan digunakan sebaik-baiknya untuk mendapatkan pengalaman kehidupan Australia yang sebenarnya.

"Saya pernah berkata pada diri sendiri, kalau saya beruntung dan ditugaskan disini, saya dapat fokus pada substansi. Tapi di saat yang bersamaan juga hidup seperti warga Australia, menikmati pedalaman, mempelajari warisan Pribumi Australia, bahkan berkunjung ke Uluru."