ABC

Komunitas Islam Victoria Boikot Pertemuan dengan PM Abbott

Dewan Islam wilayah negara bagian Victoria (ICV), yang mewakili lebih dari 150.000 Muslim, mengatakan, pihaknya telah memboikot pertemuan terjadwal dengan Perdana Menteri Tony Abbott di Melbourne, setelah sang PM mendesak komunitas Muslim untuk bergabung dengan “Tim Australia.”

Awal bulan Agustus, Tony Abbott dan George Brandis mengumumkan langkah perlawanan baru terhadap aksi terorisme. (Foto: AAP: Lukas Coch)
PM Abbott mengagendakan pertemuan tersebut dengan komunitas Muslim Melbourne untuk membahas undang-undang kontra-terorisme yang tengah diajukan, setelah pertemuan serupa digelar di Sydney pada Senin, 18 Agustus.

Namun sebelum pertemuan hari Senin dilangsungkan, PM Abbott berbicara di Radio Macquarie Sydney bahwa ia akan mendesak para pemimpin komunitas untuk terang-terangan melawan Islam radikal.

“Tiap orang harus berada di Tim Australia. Tiap orang harus menempatkan negara ini, kepentingannya, nilai-nilai yang dianutnya dan rakyatnya di urutan teratas, dan jangan migrasi ke negara ini kecuali anda ingin bergabung dengan tim kami,” terang Tony Abbott di radio tersebut.

Sekretaris Dewan Islam, Ghaith Krayem, menggambarkan komentar PM Abbott tersebut sebagai informasi yang pincang dan menyulut kemarahan.

“Kalimat ini, jika anda tak suka di sini kembalilah, atau jika anda seorang imigran maka anda harus bergabung di Tim Australia atau jangan datang ke sini sama sekali, ini sepenuhnya tak pantas bagi seorang perdana menteri untuk menempatkan seluruh komunitas dalam kategori itu dan itu bahkan tak benar,” ujar Ghaith kepada ABC.

Ia mengatakan, pertemuan di Melbourne dijadwalkan dengan pemberitahuan yang sangat mendadak dan sedikit informasi mengenai agendanya.

“Pada akhir pekan, kami mendapat undangan untuk menghadiri pertemuan hari ini (19/8) yang tak disebutkan apa agendanya, jadi kami tak tahu siapa yang akan hadir,” tutur Ghaith.

Ia mengutarakan, ICV benar-benar ingin berpartisipasi, hingga komentar sang Perdana Menteri mengudara di radio komersil.

“Demi kepentingan silaturahmi dan kerjasama, kami setuju untuk hadir. Kemudian...Perdana Menteri mengudara di Radio Sydney dan berkomentar yang menurut perspektif kami, mengindikasi bahwa pertemuan ini tak lebih dari sekedar pertunjukan media,” kecamnya.

Kantor Perdana Menteri tak diinformasikan mengenai boikot

Juru Bicara Perdana Menteri mengatakan, Manajer Umum ICV, Nail Aykan, telah mengkonfirmasi bahwa ia akan menghadiri pertemuan itu sehingga ‘tak benar jika ICV memboikot’.

Meski demikian, pada 19 Agustus siang, ICV mengatakan bahwa pihaknya belum menginformasikan kantor Perdana Menteri, namun sengaja melakukan hal tersebut sebelum pertemuan dimulai pukul 3.30 sore, 19 Agustus.

Asosiasi Ahlus Sunnah wal Jama’ah Australia kantor cabang negara bagian Victoria juga membatalkan untuk hadir di pertemuan tersebut.

Sedianya pertemuan tersebut dihadiri oleh Asosiasi Multikultur Victoria, Dewan Imam, dan Ketua Masjid Preston, serta Syekh Masjid Dandenong.

Komunitas Muslim telah menyerukan perlawanan terhadap ekstrimisme.

Ghaith mengatakan, separuh dari Muslim Australia dilahirkan di negeri kangguru tersebut dan diberi label ‘komunitas migran’ oleh sang Perdana Menteri, menunjukkan kurangnya pemahaman.

Ia membela kepemimpinan komunitas Muslim mengenai isu ekstrimisme Islam.

“Kami secara murni ingin berkonsultasi, terlibat dengannya pada isu yang kita semua risaukan ini, namun itu semua harus berawal dari posisi di mana pemerintah seharusnya tertarik dengan apa yang ingin kami sampaikan. Kekhawatiran kami saat ini, hal itu tidaklah terjadi. Kami merasa Pemerintah telah memutuskan apa yang ingin mereka lakukan dan semua yang mereka cari hanyalah formalitas persetujuan,” jelas Ghaith.

ICV telah menulis surat kepada pemerintah mengenai kekhawatiran mereka atas undang-undang anti-terorisme yang diajukan, namun hingga saat ini belum menerima jawaban.