Komunitas Indonesia di Melbourne Membahas Isu Terorisme
Setiap bulannya, komunitas warga Indonesia di Melbourne, Australia, yang tergabung dalam Indomelb, menggelar diskusi dan obrolan santai. Obrolan ini membahas topik-topik yang sedang hangat dibicarakan.
Menurut Bagas Dwipantra Putra, ketua komunitas Indomelb, tujuan dari diskusi santai ini adalah sebagai kegiatan untuk saling bertukar pikiran.
"Selain membahas masalah yang sedang hangat di Indonesia, obrolan santai ini pun menjadi ajang silaturahmi dan ketemuan sesama warga," ujar Bagas.
"Karena kami sedang tinggal jauh dari Indonesia, jadi salah satu bentuk kontribusi yang bisa dilakukan adalah dengan menyumbangkan pemikiran."
Komunitas Indomelb memiliki anggota dari berbagai kalangan, mulai dari pekerja dan pelajar.
Termasuk aktivis dan mereka yang duduk di pemerintahan dan kebetulan sedang melanjutkan studi di sini.
"Lewat diskusi seperti ini, kita mendapat kesempatan untuk melakukan brainstroming, bertukar pikiran, dan diharapkan dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah di masa depan," tambah Bagas saat dihubungi Erwin Renaldi dari ABC International.
Diskusi yang diberi nama "Bincang Santai Indomelb" kali ini adalah membahas masalah terorisme, menyusul aksi serangan mematikan yang terjadi di Jakarta pada bulan Januari lalu.
Noor Huda Ismail, kandidat Doktor di bidang Politik dan Hubungan Internasional dari Monash University menjadi pembicaranya. Ia juga adalah founder dari Institute For International Peace Building. Huda pun kini sedang menggarap film dokumenter 'Jihad Selfie'.
Di filmnya nanti, Huda akan mencoba menceritakan kenapa beberapa anak muda, termasuk dari Indonesia mudah tertarik bergabung dengan kelompok ekstrimisme, seperti kelompok yang menamakan diri Islamic State.
Dalam disksui yang digelar di kampus University of Melbourne, hari Senin (08/02), Huda membahas kompleksitas masalah teroris di Indonesia.
"Setelah diskusi soal terorisme, selanjutnya kami akan membahas isu LGBT, yang juga belakangan ini ramai dibicarakan di media," kata Bagas.