ABC

Ketika Satwa Asli Australia Berjuang Dari Gempuran Katak Tebu

Setelah diperkenalkan lebih dari 80 tahun lalu untuk mencoba dan mengontrol kumbang pada tanaman tebu, katak tebu akhirnya membuat Australia mengalami kondisi yang merugikan bagi banyak spesies asli. Tapi tampaknya tak semua spesies asli Australia menderita berkat ancaman katak tebu.

Profesor Rick Shine dari Universitas Sydney mengatakan, ular piton berkepala hitam, yang ditemukan di Australia utara, tampak meningkat jumlahnya dan merupakan salah satu pengambil keuntungan dari invasi katak tebu.

"Mereka dulu sangat jarang ditemukan, kami dulu sangat senang jika kami melihat salah satu dari mereka tiap beberapa tahun. Belakangan ini, kami melihat mereka setiap minggu," ujarnya, seraya menambahkan bahwa hal itu kemungkinan karena biawak sendiri, yang makan telur piton, merupakan korban dari katak tebu.

“Ketika anda mengacaukan sebuah sistem seperti dengan membawa masuk katak tebu, itu mungkin membahayakan beberapa spesies tapi mungkin sebenarnya mereka bermanfaat bagi spesies lain,” jelas Profesor Shine.

Biawak, ular coklat raja, buaya air tawar dan quoll (marsupial karnivora) asal Australia utara semuanya memangsa katak tebu sebagai sumber makanan ketika spesies ini hadir di habitat mereka.

Tapi itu mengakibatkan penurunan besar dalam populasi satwa-satwa ini, di beberapa tempat bahkan hingga 95 persen, mengingat racun yang tersimpan dalam kelenjar parotis di bahu katak bisa menyebabkan serangan jantung fatal bagi hewan-hewan yang sensitif terhadapnya.

Helen Pereira mengamati penelitian yang dilakukan untuk membantu spesies asli Australia yang beradaptasi dengan ancaman katak tebu.

Skip YouTube Video

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

YOUTUBE: Cane toads vs native animals

Simak artikel ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterbitkan: 09:30 WIB 13/03/2017 oleh Nurina Savitri.