ABC

Kesempatan Menjadi Pendamping Pengajar Bahasa Indonesia di Australia

Program Pendampingan Bahasa yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Indonesia Perth (BBIP) memungkinkan guru muda dari Indonesia untuk menjadi pendamping guru Australia. Kini, program ini kembali dibuka untuk periode 2019. ABC Indonesia berbicara dengan dua alumni yang pernah terlibat dalam program ini.

Tahun depan, empat guru muda asal Indonesia berkesempatan untuk menjadi pendamping guru Australia dalam mengajarkan bahasa Indonesia di Australia Barat.

Lewat Program Pendampingan Bahasa (PPB) atau Language Assistant Program yang diselenggarakan BBIP, guru muda Indonesia bisa mempromosikan pembelajaran bahasa Indonesia dan mengenalkan budaya Indonesia kepada murid-murid Australia selama setahun. Untuk periode 2019, pendaftaran program ini akan dibuka hingga pekan terakhir bulan Juli.

“Yang perlu ditegaskan, ini adalah program pendampingan, mendampingi guru bahasa Indonesia yang ada di sekolah itu, bukan untuk menjadi guru di Australia seperti yang dimuat forum-forum beasiswa,” kata Karen Bailey, kepala Balai Bahasa Indonesia Perth atau BBIP.

“Gaji mereka didanai oleh Departemen Pendidikan Australia Barat,” imbuhnya.

Lebih dari 35 guru pendamping asal Indonesia telah ditempatkan di sekolah-sekolah Australia Barat sejak tahun 2008 untuk mengikuti program itu.

“Mereka harus mendapat special language assistant visa yang disponsori oleh Departemen Pendidikan di Australia Barat,” sebut Karen.

Tahun lalu, Jessica Wijayanti berkesempatan untuk mengikuti program tersebut. Rasa ingin tahu dan kemauan untuk berbagi menjadi motivasinya ketika mendaftar.

Di sisi lain, ia mengaku belajar banyak tentang Australia.

“Selama saya mengikuti program, banyak kegiatan yang diikuti seperti mengikuti seminar dan pengembangan diri yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Australia Barat, Balai Bahasa Perth, Westralian Indonesian Language Teachers' Association (WILTA), menghadiri acara-acara yang diselenggarakan oleh KJRI, hingga mengikutsertakan siswa dalam kompetisi NAILA (National Australia Indonesia Language Awards).”

Dian Leggett
Dian Leggett (kanan) telah mengajar bahasa Indonesia di Perth selama sekitar 10 tahun.

Supplied

Kerjasama antar individu juga menjadi salah satu hal yang berkesan bagi Jessica.

“Saya berbagi ide kepada mereka (guru Australia) seperti permainan, alat bantu belajar, membagi pengetahuan yang mungkin mereka juga kurang pahami. Kami saling melengkapi satu sama lain,” tuturnya.

Sebagai individu yang pernah terlibat dalam pengajaran bahasa Indonesia di Australia, Jessica mengatakan, kehadiran penutur asli atau native speaker seperti dirinya sangat membantu.

Jessica Wijayanti mengikuti Program Pendampingan Bahasa di tahun 2017.
Jessica Wijayanti mengikuti Program Pendampingan Bahasa di tahun 2017.

Supplied

“Menurut saya, kedatangan native speaker sangat menguntungkan bagi pembelajaran bahasa Indonesia di kelas (Australia). Para siswa bisa belajar mendengarkan dan berbicara langsung dengan native speaker sehingga para siswa terbiasa mendengarkan logat dan cara pengucapan kata-kata dari orang Indonesia langsung,” ujar lulusan Universitas Katolik Atmajaya ini.

Tak hanya itu, keberadaan penutur asli dalam ruangan kelas Australia juga bisa memberitahu perubahan-perubahan terbaru tentang bahasa maupun kabar dari Indonesia, kata Jessica.

Dian Leggett juga pernah terlibat dalam program serupa yang dijalani Jessica. Bedanya, ia terlibat sebagai mentor dari penutur asli seperti Jessica yang datang dari Indonesia.

Dian sendiri adalah guru bahasa Indonesia yang telah mengajar di Perth, Australia Barat, selama kurang lebih 13 tahun.

Menurut pengalamannya, ada tantangan tersendiri yang ia rasakan selama mengajarkan bahasa Indonesia di Australia, meski ia sendiri adalah penutur asli.

“Kita harus cari tahu, apa sih yang dibutuhkan anak-anak itu, itu tantangannya, karena saya kan bukan belajar bahasa Indonesia, tapi mengajar,“ ucap mantan guru bahasa Inggris ini.

Ia mengatakan, terlepas dari kendala logat, guru Australia dinilainya lebih tahu strategi mengajarkan bahasa Indonesia kepada murid Australia.

“Mereka (guru Australia) lebih seperti teman, jadi tidak ada jarak antara guru dan murid. Itu yang akhirnya saya pahami, ‘oh begini toh’,” aku Dian kepada ABC.