ABC

Kerepotan Bagi Perokok di Melbourne

Seperti di banyak kota lain di dunia, di Melbourne, ruang bagi mereka yang suka merokok semakin dibatasi. Dicky Martias staf ABC Australia Plus Indonesia di Jakarta baru-baru ini berkunjung ke Melbourne dan sebagai perokok merasakan berbagai pembatasan tersebut.

“Siapa bilang Melbourne kota paling layak dihuni sedunia..?” Jangan kaget. Jika ada kalimat keberatan seperti itu, hampir pasti dia yang menyatakannya adalah perokok kuat.

Karena hanya perokok berat lah yang akan sangat kesulitan menyesuaikan keinginan merrokoknya dengan kota Melbourne yang nyaris bebas rokok.

Info mengenai Melbourne yang nyaris anti rokok sudah lama diketahui orang banyak. Bahwa harga sebungkus rokok yang hanya 20ribu per pak berisi 20 batang di Indonesia, di Melbourne harganya bisa 20 dollar atau sekitar 200ribu rupiah.

Harga yang tak pernah terbayangkan bagi para perokok Indonesia. Kabar harga rokok naik menjadi 50ribu saja sudah membuat jutaan perokok Indonesia berteriak berjamaah, apalagi menjadi 200ribu perbungkus.

Tapi harga rokok yang mencekik leher tak berpengaruh bagi traveller Indonesia yang hanya akan berkunjung singkat, apalagi berombongan. Pasti akan membawa rokok sebanyak-banyaknya.

Ah, tapi sayang Australia membatasi bawaan rokok terbanyak hanya 50 batang atau 2 setengah bungkus tiap orang. Tapi ya sudahlah, itu pilihan terbaik yang dimiliki smoker traveller Indonesia

Singkat kata, sampailah kami di Melbourne. Kota yang berturut-turut, seolah ditakdirkan menjadi kota paling layak huni di dunia. Bulan September yang harusnya memasuki musim semi, temperature udara rata-rata hanya sekitar 10 derajat celcius diluar ruangan.

Hal pertama yang dilakukan seorang traveller perokok ketika sampai ditempat tujuan, tidak lain tidak bukan pastinya merokok!

Tapi dimana? Dan bagaimana? Semua ruangan dalam hotel melarang siapapun menyalakan rokok. Dan konon di luar ruangan, di tempat terbuka atau tempat umum larangan merokok bahkan diancam dengan denda hingga 1,5 juta rupiah.

Nah dimulailah kerepotan di Melbourne.

Pengalaman konyol dan memalukan seorang traveller perokok dari negeri kretek terjadi di jam pertama kunjungannya di Melbourne di suatu di musim semi. Saat ceck-in, dari balik kaca lobby hotel terlihat banyak sekali orang lalu lalang.

Hampir semuanya berbaju tebal kecuali beberapa beberapa wanita yang tampak santai memakai rok mini dengan baju terbuka.

Tanda larangan merokok disertai berbagai ancaman ‘ganas’ tertempel di dinding luar lobby. Namun anehnya hanya 2 meter dari tanda larangan itu terdapat sebuah drum sampah yang dilengkapi semacam asbak besi, dua orang pria perokok tampak mengelilingi tempat sampah itu sambil tampak sangat santai menikmati rokoknya. Ah ternyata tidak separah yang dibayangkan...

Dicky Martias dengan tanda larangan merokok di Melbourne
Dicky Martias dengan tanda larangan merokok di Melbourne.

Foto: Istimewa

Segera setelah check-in dan meletakkan barang di kamar, segera saja saya mengganti pakaian memakai t-shirt dan celana pendek panama. Kalau wanita saja tidak masalah memakai rok mini kenapa mesti ragu memakai celana pendek dan t-shirt, begitu pikir saya.

Namun belum lagi melawati pintu lobby sepenuhnya, saya telah menyesal meremehkan udara Melbourne. Saya lupa serangan dingin tidak hanya menyerang kaki dan tangan tetapi juga sangat tidak bersahabat bagi pemilik kepala tanpa rambut. Dingin yang mendadak menyergap kepala, membuat saya nyaris pingsan.

Namun karena gengsi dan malu, saya tetap berlagak santai menyalakan rokok sambil berpeganganan tiang lampu jalan menahan dingin agar tidak jatuh. Banyak orang yang lalu lalang memperhatikan penampilan saya.

Mungkin mereka takjub dengan kemampuanku menahan dingin. Padahal? Mungkin mereka kira saya baru datang dari kutub selatan.

Detik demi detik sergapan udara dingin makin merasuk ke tulang dan terutama kulit kepala yang terpapar langsung ini. Belum pernah aku merokok setersiksa ini.

Sama sekali tidak ada kenikmatan seperti yang dipamerkan di iklan iklan rokok. Durasi sebatang rokok yang normalnya sekitar 7 menit akhirnya terpaksa kupersingkat menjadi hanya 3 menit. Tidak lebih. Lebih dari 3 menit dalam kostum ini di pinggiran jalan Melbourne yang temperaturnya hanya 10 derajat Celcius, artinya mengundang masalah. Betapa bersyukurnya ketika saya bisa kembali ke dalam kamar hotel yang hangat.

Bak sampah untuk perokok semacam ini terdapat di hampir tiap 200 meter trotoar jalanan pusat kota Melbourne. Inilah oasis para perokok yang sulit menahan nafsu rokoknya.
Bak sampah untuk perokok semacam ini terdapat di hampir tiap 200 meter trotoar jalanan pusat kota Melbourne.

Foto: Istimewa

Sejak saat itulah nafsu merokok yang sebelumnya sulit untuk ditaklukkan, tampaknya harus menyerah dengan kerepotan Melbourne.

Bayangkan, hanya untuk menghisap sebatang rokok kami harus repot ganti baju tebal, berkaus kaki tebal bersepatu dan yang penting memakai tudung kepala wool.

Setelah kostum memadai kami harus keluar ruangan mencari cari tempat layak untuk merokok yang biasanya ditandai dengan bak sampah khusus. Merokokpun harus berdiri dan terburu-buru.

Tidak bisa lagi merokok nikmat dan santai sambil minum kopi dan duduk santai layaknya di Indonesia. Itulah ‘Kerepotan Melbourne’ yang akhirnya berhasil menaklukkan nafsu merokok yang biasanya arogan tak mempan itimidasi atas nama kesehatan atau lainnya.

Yang pasti, untuk anda yang ingin berhenti merokok. Datang dan tinggallah di pusat kota Melbourne. Dan untuk anda yang ingin bersantai menikmati rokok, pikir-pikir lagi sebelum ke Melbourne.

*Dicky Martias adalah staf ABC Australia Plus Indonesia di Jakarta, dan baru-baru ini berkunjung ke Melbourne.