ABC

Kenangan Tak Terlupakan sebagai Mahasiswa Internasional di Melbourne

Tiap mahasiswa internasional, suatu saat nanti, harus menghadapi kenyataan untuk kembali pulang ke negara asal. Faridah Wu membagi pengalamannya selama tinggal di Melbourne dan menceritakan bagaimana rasanya kembali ke 'kehidupan lama', sebagai pribadi yang telah berubah.

Faridah (keempat dari kiri) dan teman-temannya. (Foto: Wei Jin Lim)

Tik.

Aku melihat jam.

Menghitung waktu yang telah berlalu.

Tok.

Waktu berjalan. Aku menghabiskan begitu banyak waktu untuk bergegas menelusuri dinding-dinding gedung seni tua ini. Tapi aku tak pernah mendengar suara pelajar yang biasanya berjalan melalui koridor ini. Suara-suara mereka yang telah lulus dan sukses, baik dalam bidang studi mereka atau lainnya. Mereka mungkin sudah lama pergi tapi cerita mereka ketika di sekolah terus bertahan, memori mereka tentang masa sekolah sepenuhnya terjaga.

Tik.

Dalam waktu satu tahun, dinding ini akan mulai bercerita tentang kisahku juga. Suaraku akan bergabung dengan hiruk-pikuk kenangan yang menjelajahi lorong ini. Mahasiswa baru akan mendengar kisahku, bagaimana aku mengarungi samudera untuk menggapai Melbourne dan berjuang sendirian menghadapi fase hidup berikutnya.

Tahap awal kedatanganku di sini sungguh mengerikan. Aku harus menyesuaikan dengan tempat baru, dengan negara baru yang sama sekali tak seperti negara asalku, dan dengan teman sebaya yang sepertinya sudah lebih menyesuaikan diri ketimbang aku. Mahasiswa yang jauh lebih muda dariku terlihat lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Tapi buat aku, beberapa bulan pertama dihabiskan untuk berpikir...apakah aku membuat keputusan yang tepat untuk meninggalkan zona nyaman di kampung halaman?.

Dan tentu saja, di luar apa yang nampak, kita semua memiliki masalah masing-masing. Sebagai orang yang berasal dari negara berbahasa Inggris, aku melihat orang lain di sekitarku berjuang untuk mengekspresikan diri dalam bahasa kedua, atau bahkan bahasa ketiga atau keempat mereka. Aku tak bisa membayangkan berada di posisi mereka. Aku benar-benar tak bisa.

Tok.

Tapi kita semua punya perjuangan masing-masing. Australia akan selalu mencerminkan satu tahap kehidupan kita, tempat di mana kita hidup jauh dari rumah, bahkan untuk beberapa orang, pertama kalinya jauh dari rumah. Kita semua melalui anehnya mengawali pertemanan baru, mengatur waktu antara sekolah dan kerja, lantas menjalani hidup di sebuah negara yang bertradisi baru dan berbeda dari lingkungan asal.

Tapi tak semua perjalanan ini tentang perjuangan. Kita melupakan persahabatan yang menghapus batas geografis, kita bergabung dengan kelompok yang membantu kita mendalami hobi yang menyenangkan, bahkan beberapa dari kita mencapai posisi kepemimpinan di organisasi itu.

Dan bagi beberapa teman, ini adalah tempat yang mampu menerima kepribadian mereka yang unik.

Faridah (barisan depan, baju putih) berada di tengah rekan-rekannya. (Foto: Faridah Wu)

Tik.

Kita sungguh beruntung. Dalam berbagai cara, kita diberi kesempatan untuk mengejar pendidikan di Melbourne. Kesempatan untuk memperluas cakrawala, tak hanya lewat pengetahuan teoritis tapi sekaligus menceburkan diri ke dalam sebuah budaya yang berbeda dari tempat asal.

Di kota multikultural ini, kita tak hanya belajar soal budaya Australia tapi juga berbagai budaya lainnya. Kita mengetahui agama dan tradisi lain dan bagaimana tiap identitas itu membentuk cara hidup mereka.

Dan hanya ketika kita jauh dari rumah, kita menyadari akan budaya yang kita tinggalkan dan apa yang kita lalui begitu saja.

Tok.

Pulang ke rumah untuk selamanya, bisa jadi lebih sulit ketimbang menjejakkan kaki pertama kali di sebuah negara baru. Itu karena ketika kita pulang, segala sesuatu yang lazim tiba-tiba menjadi tak lazim.

Pulang ke Singapura ketika liburan semester membuatku sadar betapa aku sepertinya tak bisa kembali ke 'kehidupan lama'. Jauh dari rumah telah mengubahku dalam cara yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, tapi orang-orang di rumah mengharapkanku kembali seperti sedia kala.

Pada masa-masa seperti itu, aku tergoda untuk menyerah begitu saja, kembali dan menjalani kehidupan lama. Tapi kemudian aku sadar bahwa perjuanganku juga merupakan awal dari proses pendewasaan, dari proses pelepasan zona nyaman yang aku diami.

Belajar di luar negeri membuat kita menjadi lebih peduli terhadap kejadian di sekitar kita, baik di tingakt lokal maupun global. Ini membuatku mencintai Melbourne akan apa yang ia miliki dan di saat yang bersamaan, membuatku menghargai apa yang aku punya di tempat asal. Berada dan tinggal di lingkungan baru serta belajar beradaptasi cara hidup di negara baru, bisa membuka pikiran kita dalam cara yang tak pernah bisa didapat hanya dengan bepergian.

Faridah dengan keluarganya, termasuk saudara laki-lakinya, keponakan perempuannya dan ayahnya sebagai latar. (Foto: Tracy Lim)

Tik.

Kini, saat kelulusan sudah dekat, ada sebuah kondisi yang mendesak. Aku mulai meninggalkan zona nyaman di rumah, tapi hari ini, zona nyaman itu ada di sini. Sejauh ini, aku menikmati hidupku di Australia, dan akan lebih menikmatinya karena aku sadar, tiap permulaan selalu ada akhir yang menyertai.

Masalahnya, langkahku belum mau keluar dari tempat ini, memberiku ratusan arah yang berbeda, dan dua benua.

Tiap detik dan menit yang berlalu, jam yang berganti hari, ini rasanya seperti mimpi yang perlahan memudar. Dan, aku mulai terbangun. Aku tahu, kepergianku sudah dekat.

Aku hanya tak tahu seberapa dekat.

Aku telah banyak memetik pengalaman dari perjalanan ini dan dengan pengalaman itu, terbersit kesadaran untuk menghargai tiap detik yang aku lalui.

Tapi kenanganku tentang Melbourne tak akan lekang oleh waktu. Bayanganku akan terus hadir di sudut-sudut tempat belajarku, di kedai kopi favoritku, dan di koridor tempat aku banyak menghabiskan waktu. Bayanganku akan menolongku untuk mengenang Melbourne sebagai tempat yang memberiku rumah kedua, walau hanya sesaat.

Fari Wu berjalan di tengah pekarangan Universitas Melbourne. (Foto: Anwar Wu)

Faridah Wu adalah lulusan program pasca sarjana Komunikasi Media Global di Universitas Melbourne. Menyebut Singapura sebagai rumah pertamanya selama 23 tahun, Melbourne telah mengubah perspektif hidupnya. Fari adalah seorang editor produksi di Majalah Meld dan kontributor rutin untuk majalah kota 'Really Melbourne'.

Tulisan ini pertama kali terbit di Majalah Meld, situs berita mahasiswa internasional di Melbourne, dan telah diterbitkan ulang atas seizin mereka.