ABC

Kelompok Anti-Vaksin Indonesia Skeptis Vaksin Bisa Cegah Wabah Difteri

Coretan tangan anak-anak memenuhi dinding sebuah rumah di Jakarta. Gambar sederhana terpampang, ada pula tulisan huruf pertama dari nama seorang anak yang berusaha mengeja namanya.

Poin utama:

  • Wabah difteri di Indonesia telah menginfeksi ratusan anak dan menewaskan 44 lainnya
  • Warga yang menyatakan anti-vaksin, Dewi Hestyawati, percaya bahwa metode bekam bisa mengatasi wabah difteri
  • Vaksinasi mencegah wabah difteri di Australia

"Faris," nama itu tertulis berkali-kali di dinding.

"Dia mau jadi astronot," kata ayah Faris, Zarkasih.

"Ia mau saya belikan dia baju astronot untuk pergi ke bulan."

"Saya bisa bilang apa -saya kangen. Dia selalu menggandeng saya dan mencium saya tiap kali saya pergi kerja."

Ibunda Faris, Atilah, mengatakan, " Saya masih mendengar suaranya."

"Rumah ini terasa kosong sekarang."

Faris menghembuskan nafas terakhir akibat penyakit difteri, yang dulunya merupakan masalah besar di Australia tapi telah menghilang berkat vaksinasi.

Kini, sejumlah praktisi kesehatan alternatif dan beberapa kalangan Muslim di Indonesia yang menganggap imunisasi tidak Islami berusaha mengabaikan kampanye vaksinasi melawan difteri.

Salah satu justifikasi mereka adalah bahwa vaksinasi dikembangkan menggunakan produk yang berasal dari binatang "haram" seperti babi dan anjing.

Salah satu aktivis kampanye anti-vaksin itu adalah Dewi Hestyawati, yang menyebut dirinya seorang aktivis kesehatan Islam holistik.

Ia mengatakan, penyakit seperti difteri dan polio bisa dicegah dan ditangani dengan pola makan serta terapi alternatif.

"Rasul menunjukkan kepada kita bahwa imunisasi seharusnya berasal dari konsumsi makanan sehat harian yang rutin: madu, herbal, minyal zaitun, kurma dan susu kambing. Jila kita tidak mengikuti itu, kta bisa dengan mudah terserang penyakit," jelasnya.

Sekitar 5 kasus difteri baru dilaporkan terjadi tiap harinya.

Ayah Faris, Zarkasih, berduka atas kepergian sang putra cilik akibat penyakit difteri.
Ayah Faris, Zarkasih, berduka atas kepergian sang putra cilik akibat penyakit difteri.

ABC News: Adam Harvey

Bekam dinilai bisa lawan wabah difteri

Dewi mengatakan, wabah difteri bisa dilawan dengan sebuah perawatan yang ditawarkan kliniknya.

"Bekam" adalah jenis terapi penyedotam yang dianggap mengeluarkan racun dari tubuh seseorang.

"Bawa pasien difteri ke sini untuk dibekam," ujarnya.

"Libatkan kami dalam melawan wabah difteri."

"Saya tak yakin penyakit ini bisa dicegah dengan vaksinasi, dalam sebagian besar kasus, vaksin justru merugikan mereka, itu faktanya."

Putra Atikah, Faris, adalah satu dari 44 jiwa yang melayang akibat difteri di Indonesia.
Putra Atikah, Faris, adalah satu dari 44 jiwa yang melayang akibat difteri di Indonesia.

ABC News: Adam Harvey

Ia begitu skeptis akan penyebab wabah difteri.

"Kita harus menyelidiki darimana asalnya, mengingat begitu banyak pesawat terbang di atas langit kita menyebarkan virus, jadi orang terkena penyakit," sebutnya.

Dewi menyebarkan pesannya dalam bukunya yang berjudul "Efek Samping Vaksinasi" dan dalam seminar-seminar di kliniknya.

Ketika ABC mengunjungi klinik Dewi, ada puluhan perempuan dan anak-anak yang datang ke klinik itu.

Warga anti-vaksin, Dewi Hestyawati, mengatakan, penyakit menular ini bisa dicegah dengan pola makan dan terapi alternatif.
Warga anti-vaksin, Dewi Hestyawati, mengatakan, penyakit menular ini bisa dicegah dengan pola makan dan terapi alternatif.

ABC News: Adam Harvey

Salah satu pasangan muda membawa bayi kecil mereka untuk mendapat perawatan. Menurut sang ayah, Sasmita Bachtiar, bayi bernama Alana itu divaksinasi di rumah sakit tanpa seizin orang tuanya.

"Melibatkan organ babi, anjing atau monyet dalam produksi vaksinasi itu tidak Islami. Saya rasa, sesuatu yang halal adalah yang terbaik untuk anak saya," ujarnya.

Dewi meresepkan terapi bekam untuk 'mengeluarkan' efek vaksinasi.

Dewi mengatakan, ia tak seharusnya bertanggung jawab jika ada anak yang terkena penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan vaksin.

"Saya harus bertanggung jawab untuk apa? Saya tak bisa, kan tanggung jawab saya terhadap Allah," sebutnya.

"Saya tak harus bertanggung jawab atas apapun karena itu pilihan mereka untuk menjaga kesehatan dengan cara Islami."

"Menurut saya pertanyaan itu lucu, karena kehendak Allah-lah untuk memilih siapa yang terkena penyakit apa. Itu kehendak Allah -kehidupan kita ada di tangan Allah."

Kalangan anti-vaksin percaya, terapi bekam bisa menjadi jawaban untuk mencegah wabah difteri.
Kalangan anti-vaksin percaya, terapi bekam bisa menjadi jawaban untuk mencegah wabah difteri.

ABC News: Adam Harvey

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.