ABC

Kelinci Ancam Populasi Walabi Asli Australia di Uluru

Sekelompok relawan tengah berusaha melindungi spesies yang terancam punah yaitu walabi asli Australia dari invasi kelinci di Uluru.

 

Kelinci-kelinci di kawasan konservasi Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta telah berkembang biak tanpa kendali, padahal kawasan itu dirancang untuk habitat mala atau walabi...

Spesies makropod kecil yang dulunya sangat umum dijumpai di Bagian Barat Gurun di Teritori Utara dan Australia Barat itu, diperkenalkan kembali di kandang khusus yang dibangun di Uluru pada tahun 2005.

Populasi kelinci walabi ini telah berkembang dari hanya 30 ekor menjadi lebih dari 200 ekor. Tetapi sekarang populasi walabi itu dalam ancaman akibat invasi kelinci yang bersaing memperebutkan sumber makanan alami.

Kerrie Bennison, Manajer Sumber Daya Alam dan Budaya di Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta, mengatakan ia telah membentuk tim untuk mengatasi invasi  kelinci itu, namun tidak berhasil.

"Kami membersihkan satu wilayah dari kelinci-kelinci itu dan bergerak ke wilayah berikutnya. Tapi karena kami tidak bisa membersihkan lapangan rumput itu sekaligus, maka kelinci-kelinci itu kembali memasuki wilayah yang sudah kita bersihkan dari kelinci sebelumnya," katanya.

Tim relawan yang terdiri dari berbagai latar belakang dan profesi, termasuk kartografi, pengendali kebakaran dan fisikawan atmosfer itu bekerja dengan dibantu staf taman nasional yang berpengalaman.

Mereka mengasapi lubang-lubang kelinci dan memagari  kandang terbuka untuk walabi mala dengan kawat besi dan berharap pagar itu akan mencegah masuknya kelinci ke kawasan itu di masa datang.

"Pada pekan pertama kegiatan kami para relawan menangkapi dan menyusuri seluruh padang rumput dan menandai semua lubang persembunyian kelinci yang kita temukan dan baru pada minggu kedua, kami mengasapi lubang tersebut,' kata Bennison.

Libatkan pemerintah federal

Sekretaris parlemen untuk masalah lingkungan, Senator Simon Birmingham, mengatakan belasan relawan dari kementerian di Kawasan Taman Nasional Uluru dan sejumlah kantor di Teritori Utara juga telah ikut bergabung dalam kampanye ini.

"Selama dua minggu terakhir,  kehadiran para relawan tersebut akan mampu mengurangi secara signifikan jumlah kelinci dikawasan itu bahkan tidak tertutup kemungkinan bisa membersihkan sama sekali hama berbulu itu dari padang rumput di Uluru," kata Senator Birmingham.

"Para staf di Uluru sudah bekerja dengan gagah berani dalam menekan populasi kelinci, namun ternyata upaya rutin saja ternyata tidak cukup, kita butuh tindakan membombardir sarang-sarang kelinci tersebut untuk mengatasi hama kelinci ini sekaligus dan selamanya."

Taman Nasional Uluru masih mengujicobakan pendekatan relawan seperti ini dengan rencana menggelar kegiatan relawan yang terbuka bagi publik siapa saja untuk membantu upaya pelestarian di Taman Nasional Negara-negara Persemakmuran tersebut.

Sementara itu satwa mala sebelumnya juga pernah menghadapi ancaman dari anjing liar dan serigala, serta invasi kucing liar pada tahun 2012 yang diatasi dengan memasang jebakan oleh para staf di Taman Nasional tersebut.

Mala merupakan species yang sangat penting di Uluru. Mala dianggap sebagai bentuk titisan dari nenek moyang suku Aborigin Anangu pemilik Taman Nasional Uluru.

Uluru saat ini tercatat sebagai daratan dengan populasi mala terbesar, sehingga keberhasilan proyek pengenalan kembali satwa mala yang berkelanjutan di Taman Nasional ini sangat penting untuk kelangsungan hidup masa depan para spesies.

Satwa Mala memiliki tinggi sekitar 30cm dan berat antara 700 gram dan dua kilogram, jenis mala betina umumnya memiliki badan yang lebih besar dibandingkan jantannya.

Keberadaan satwa ini didokumentasikan pada tahun 1844 oleh John Gilbert setelah ia mengumpulkan spesimen di negara sentra gandum Australia Barat.