ABC

Kegagalan Web Sensus Dinilai Berdampak Besar pada Sektor IT Australia

Sejumlah analis industri IT mengatakan, dampak dari bencana sensus akan melebar lebih jauh dan bisa membuka celah bagi para perusahaan penyedia teknologi untuk berlomba-lomba mendapatkan kontrak pemerintah yang menguntungkan.

Satu minggu setelah "kegagalan sensus", ada laporan yang menyebut bahwa beberapa warga Australia masih mencoba, dan gagal, untuk menyelesaikan sensus online.

Sebuah penyelidikan atas kesalahan situs Biro Statistik Australia (ABS) oleh para ahli keamanan teknis diharapkan untuk merilis laporan kemajuan dalam minggu ini.

Sementara itu, sejumlah analis industri IT telah mengatakan, dampak dari insiden itu akan jauh melebar.

Pendiri dan CEO perusahaan ‘Glentworth’ yang mengkhususkan diri dalam informasi data, Neil Glentworth, mengatakan, dampaknya akan dirasakan baik di sektor publik dan swasta.

"Kami akan melihat banyak pihak -yang enggan mengambil resiko -muncul kembali dan akan ada banyak orang akan sangat malu jika a) melakukan bisnis dengan sektor publik, tetapi b) sektor publik melakukan bisnis dengan sektor swasta," jelas Neil.

"Saya percaya dampaknya akan sangat besar karena orang akan enggan untuk mengekspos diri mereka ke tingkat risiko itu,” ungkapnya.

"Insiden dengan ABS dan vendor mereka akhirnya memutus kepercayaan dan kepercayaan serta kerusakan reputasi itu memengaruhi semua orang, di seluruh lini," ujar Neil Glenworth.

Ia mengatakan, terlepas dari apa yang ditemukan menjadi penyebab kerusakan situs ABS, "reputasi telah hancur."

"Saya pikir, kami akan melihat aktivitas yang melambat yang pada akhirnya akan membahayakan masyarakat luas. Laju perubahan dalam ekonomi yang lebih luas begitu signifikan sehingga Australia sebagai negara perlu untuk tetap kompetitif," jelas Neil.

Ia mengatakan, ini umumnya bukan domain dari sektor publik, yang membutuhkan organisasi eksternal untuk membantu mereka.

"Australia memiliki sejumlah perusahaan dengan kemampuan berkembang yang bisa membantu di wilayah itu dan sektor publik adalah lingkungan yang cukup menantang untuk ditangani, tetapi industri swasta juga sangat sulit untuk diajak negosiasi,” terang Neil Glenworth.

"Saya percaya, sangat penting agar kami menjaga diskusi itu untuk kebaikan kemajuan perekonomian Australia," imbuhnya.

Informasi kunci:

• Laporan atas temuan penyelidikan tentang kegagalan situs sensus, jatuh tempo minggu ini

• Para pakar industri mengatakan, IBM akan bangkit kembali

• Para pakar mengatakan, IBM adalah salah satu pemain dominan di pasar layanan IT.

IBM akan bangkit kembali

Saat ini, sudah ada pengawasan baru terhadap perusahaan IT raksasa ‘IBM’ yang telah disalahkan karena gagal untuk mengambil langkah-langkah pencegahan yang memadai untuk menangani serangan ‘gagal akses’ (DDoS) yang "sepenuhnya terprediksi".

Terlepas dari isu permohonan maaf singkat minggu lalu, IBM tak membuat komentar lebih lanjut tentang masalah dengan sensus online tersebut, yang untuk proyek ini perusahaan tersebut menerima hampir 10 juta dolar (atau setara Rp 100 miliar) untuk merancang, mengembangkan dan menerapkan program tersebut.

Analis industri IT independen, Rodney Gedda, dari Telsyte, mengatakan, "itu tak terlihat baik" bagi perusahaan tersebut.

"Tapi bisa juga mengatakan bahwa kami mungkin bisa berharap untuk melihat lebih banyak negosiasi dengan IBM di samping hadirnya pesaing lain, bukan hanya dilihat sebagai perpanjangan kontrak, atau perusahaan limpahan," pendapatnya.

"Saya pikir IBM masih memiliki banyak penawaran untuk pelanggan pemerintah, jelas mereka tak keluar dari persaingan, itu bukan akhir dari IBM," utara Rodney Gedda.

Jim Longwood, dari firma penelitian dan penasehat IT ‘Gartner’, mengatakan, IBM akan "bangkit kembali".

"Mereka biasanya memiliki 15-25% pangsa pasar layanan IT di negara-negara seperti Australia, mereka pastinya salah satu pemain dominan di pasar Australia dan global," ujar Jim.

"Merek ini, awalnya, akan menderita di pasar Australia ... khususnya di pemerintah negara bagian dan federal,” sebut Jim Longwood.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterjemahkan: 18:42 WIB 16/08/2016 oleh Nurina Savitri.