Kecenderungan HIV di Masyarakat Miultikultur Australia
Hari AIDS sedunia yang diperingati setiap 1 Desember adalah hari untuk meningkatkan kesadaran akan HIV dan AIDS, dan menunjukkan dukungan kepada mereka yang sudah dinyatakan positif mengidap HIV atau AIDS.
Di Australia diperkirakan sekitar 25 ribu orang yang mengidap HIV.
Ketika Dai Aoki pindah ke Australia pertama kali di tahun 2001, dia sangat antusias untuk belajar bahasa Inggris dan memulai babak baru dalam kehidupannya.
Kehidupannya sebagai remaja gay di Jepang sangat sulit. Dai sering mengalami perlakuan buruk dan prasangka karena negeri itu sangat kuat menganut nilai-nilai ‘tradisional’, sehingga homoseksual kurang mendapat toleransi.
Orang tua Dai sendiri juga mengalami kesulitan menerima keadaan itu ketika dia menceritakan keadaan dirinya.
“Orang tua saya tidak bisa mengerti, mereka tidak bisa menerima. Mereka mengira itu adalah kesalahan saya menjadi gay. Ibu saya betul-betul kecewa."
– Dai Aoki
“Di satu masa, dia berusaha membawa saya ke rumah sakit jiwa, karena dia mengira ini masalah kejiwaan.” kata Dai.
Dai ingin melarikan diri dari keadaan dimana merasa tidak bisa hidup seperti yang diinginkannya.
Belajar bahasa Inggris dan tinggal di Sydney memberinya kesempatan untuk hidup lebih bebas, seperti yang diinginkannya.
Di Autralia, meskipun masih ada stigma berkenaan dengan homoseksual, Dai merasa bahwa komunitas gay lebih bisa diterima dibandingkan di Jepang.
“Banyak orang yang berpegangan tangan ketika mereka berjalan, saya melihat itu dan berpikir ‘wah hebat sekali.”
Majalah mengenai gay juga dijual umum, hal yang ‘tidak mungkin terjadi di Jepang.”
“Di Australia keadaaanya sangat berbeda.”
Terkena HIV di Australia
Setelah enam bulan tinggal di Australia, Dai mulai merasakan gejala seperti terkena flu dan rasa sakit di persendian tulang.
Dia tahu bahwa ada yang tidak benar dengan tubuhnya, dan hal itu kemudian terbukti setelah dia dinyatakan positif terkena HIV.
Karena kesulitan bahasa dan perbedaanbudaya, ketika Dai tiba di Australia, dia merasa bahwa budaya seks aman diantara pria homoseksual mirip dengan apa yang berlaku di Jepang.
“Saya ke sini dan tidak bisa berbicara bahasa Inggris dengan baik. Saya sulit berkomunikasi dan bertanya mengenai kondom.” kata Dai.
Dia tidak tahu bahwa di Australia ‘bila kita tidak bertanya mengenai kondom, maka perkiraannya adalah kita juga HIV positif.”
“Di Jepang, kami mendapatkan pelajaran mengenai kesehatan seksual dan penggunaan kondom tetapi jujur saja saya tidak pernah tahu orang di Jepang yang mengidap HIV .”
– Dai Aoki
Setelah diketahui mengidap HIV, Dai berusaha menerima kenyataan.
Dia sekarang ini mendapat pengobatan teratur dengan meminum satu pil setiap hari guna membuat HIV tidak terdeteksi, dan dia merasa lebih sehat dibandingkan sebelumnya.
“Ini membuat saya menjadi orang lebih baik, itulah sebabnya saya tidak menyesal dengan sejarah masa lalu saya.”
Hidup dengan dua ekor anjingnya Holly dan Ace menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Dai bahkan terkenal di dunia internasional untuk apa yang diajarkannya kepada kedua anjingnya tersebut.
Tonton bagaimana Dai Aoki berusaha menyebarkan pesan positif dalam kampanye Good Quality of Life. Sumber: YouTube NAPWHA
Dai baru-baru ini menjadi duta bagi kampanye Good Quality of Life, yang dijalankan oleh National Association of People with HIV Australia.
Dia berharap dengan membagi ceritanya, bahkan bila ada satu orang saja yang merasa dicerahkan dengan seks aman, dia akan merasa hidupnya lebih bermakna.
“Bila seseorang (dari latar belakang Asia) datang ke sini, mereka harus menyadarai betapa terbukanya Australia berbicara mengenai seks. Jadi coba cari informasi apa saja yang tersedia.”
– Dai Aoki
“Bila anda inigin mengekplorasi orientasi seksual anda, cari informasi yang benar dulu.”
Kecenderungan HIV di kalangan pendatang di Australia
Barbara Luisi adalah manajer Multicultural HIV and Hepatitis Service di Sydney dan telah menyaksikan kecenderungan penyebaran HIV di kalangan warga asal Asia yang datang untuk belajar ke Australia.
“Saya mulai terlibat di bidang ini 12 tahun lalu, dan khususnya di NSW salah satu hal yang tampak jelas adalah dulunya tingginya pengidap HIV dari kalangan warga sub-Sahara di Afrika.” kata Barbara.
“Apa yang kita saksikan sekarang adalah peningkatan pengidap HIV karena migrasi pelajar dari Asia Utara dan Asia Tenggara."
– Barbara Luisi
Dalam pengalamannya Barbara melihat bahwa beberapa diantara mereka mengidap HIV ketika berada di Australia, banyak juga yang ketika pindah ke Australia sudah mengidap HIV.
Faktor terbesar adalah minimnya pendidikan dan pemahaman mengenai kehidupan seks aman.
“Yang terjadi adalah minimnya petunjuk seks aman dan pendidikan seks di negeri asal. Saya kira faktor lain juga adalah keberanian untuk mengekplorasi kehidupan seksual di sini.” kata Barbara.
“Dalam banyak kasus, mereka yang pindah ke sini berasal dari negara yang memiilki nilai lebih konservatif soal seksual dibandigkan di Australia dan di NSW."
– Barbara Luisi
“Tentu saja, mereka ke sini dan melakukan hubungan seksual. Mereka kadang tidak dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman mengenai resikonya. Juga ada persepsi bahwa HIV tidak ada di Australia.”
Dari kasus HIV baru yang didiagnosis di Australia tahun 2015, 68 persen penyebarannya terjadi antara pria yang menjalani hubungan seksual dengan pria lain seperti dalam kasus Dai.
Barbara mengatakan pemahaman migran di sini mengenai HIV juga dipengaruhi oleh yang mereka ketahui sebelumnya di negeri asal.
“Di banyak negara, ketika seseorang terkena HIV, dalam banyak kasus kemudian akan menjadi AIDS dan akhirnya kematian.” kata Barbara.
“Ketika mereka tiba di Australia, tidak saja mereka akan menjalani berbagai tes, jadi mereka berpikiran tidak ada seorang pun yang mengidap HIV di Australia. Mereka melihat banyak orang tampak sehat. Jadi mereka salah mengartikan bahwa HIV tidak ada di sini.”
Persepsi ini membuat banyak migran baru yang melakukan hubungan seksual akan membuat mereka beresiko terkena HIV.
Seks aman dan manajemen resiko
Barbara mengatakan saat ini, HIV sudah menjadi berita baik, dan tidak lagi menjadi hukuman mati seperti di masa lalu.
“Sekarang ini berkenaan dengan HIV ada berbagai hal mulai dari pencegahan, tes, perawatan, sekarang ada berbagai opsi yang tersedia, sehingga kita bisa memperkecil resiko terkena.”
Pencegahan
Menggunakan kondom ‘adalah alat pencegahan nomor satu.” kata Barbara.
“Kondom tersedia dimana-mana, dan bisa didapatkan gratis di hampir semua klinik kesehatan seksual.”
Juga ada PrEP, atau Pre-exposure prophylaxis, pil yang bisa diminum satu setiap hari, untuk mereka yang belum mengidap HIV namun beresiko terkena.
Testing
Tersedia uji HIV gratis di klinik seksual di seluruh Australia, untuk pria yang melakukan hubungan seksual dengan pria lain, dan mereka yang beresiko.
“Testing ini juga tersedia di klinik dokter umum (GP).” kata Barbara.
Perawatan
“Perawatan awal sangat diperlukan guna memastikan penderita hidup lama dan hidup sehat.” kata Barbara.
Perawatan bisa didapatkan dari dokter umum (GP), klinik kesehatan seksual, apotek.”
"Ini berkenaan dengan menghilangkan perintang, dan membuat pencegahan, testing dan perawatan tersedia ke sebanyak mungkin orang."
– Barbara Luisi