ABC

Kamera Rakitan Digunakan untuk Memonitor Pergerakan Ikan di Australia Selatan

Kamera rakitan digunakan untuk melacak pergerakan spesies ikan di sekitar Pulau Kanguru, Australia Selatan. Petugas laut di sana menyiapkan kamera rakitan sendiri untuk mengawasi ikan dan memonitor interaksi mereka dengan lamun atau ‘seagrass’.

Petugas pantai, Alicia McArdle, mengatakan, hal itu adalah cara yang kurang invasive untuk melihat di mana ikan berkumpul.

"Anda bisa menggunakan barang-barang seperti pukat atau jaring ikan dan semacamnya, tetapi masalahnya adalah kita kemudian harus mengumpulkan spesies itu dan sayangnya mereka akan mati sebagai bagian dari proses itu," jelasnya.

Seekor ikan terlihat berenang di sekitar kamera dengan ikan totol biru berada di dekatnya. (Foto: Alicia McArdle)
Seekor ikan terlihat berenang di sekitar kamera dengan ikan totol biru berada di dekatnya. (Foto: Alicia McArdle)

Alicia mengatakan, itu bukanlah cara baru untuk memantau ikan.

"Ini adalah pertama kalinya kami menggunakan sesuatu seperti ini tetapi ini sebenarnya sudah ada cukup lama. Kami menggunakan sesuatu yang disebut sistem video bawah laut jarak jauh (BRUV) dan yang paling sering digunakan kebanyakan orang dalam komunitas riset yang lebih besar biayanya cukup besar dan mahal,” terangnya.

Ia menambahkan, "Sayangnya kami tak memiliki kemampuan itu, kami tak punya perahu cukup besar untuk membawa kamera besar."

Jadi para petugas di sana mengembangkan sistem video mereka sendiri dengan menggunakan item yang mereka temukan di kantor.

"Kami pada dasarnya memiliki kamera yang melekat pada sekeranjang sarden umpan dan itu terletak di atas peti susu dan bekerja dengan sangat baik," ungkap Alicia.

"Kami membawanya turun dan kemudian kami bisa menonton spesies ikan dari kamera Go Pro," tambahnya.

Keranjang umpan kemudian menarik perhatian ikan dari seluruh wilayah itu dan foto terus diambil.

Tapi bagaimana petugas tahu apakah ikan tak hanya kembali untuk mencari makanan lagi dan dihitung dua kali?.

"Kami memiliki sesuatu yang disebut ‘max in’ ... jadi itu adalah jumlah maksimum spesies itu yang Anda lihat pada waktu itu. Jadi misalnya, satu ikan berenang bolak-balik sepanjang waktu, itu hanya dihitung sekali, tetapi ketika temannya datang dan mereka tampak di layar pada saat yang sama, maka kami mengubah jumlahnya menjadi dua," kemuka Alicia.

Ia mengatakan, jumlah spesies yang telah mereka lihat sebagai bagian dari penelitian, sejauh ini, telah bervariasi.

"Pertama-tama, kami melihat semua spesies komersial, sehingga berita bagus untuk mengetahui bahwa mereka berjumlah melimpah di sini. Kami juga melihat beberapa hal yang cukup menarik seperti ikan totol biru atau ‘bluefin leatherjackets’, yang merupakan sesuatu yang belum tentu spesies langka, tapi itu adalah sesuatu yang tak biasa ditemukan kebanyakan orang hanya dengan snorkeling atau diving,” jelas Alicia.

Ia mengutarakan, "Dan kita juga telah melihat beberapa hiu, yang juga menarik ketika Anda sedang menonton video berjam-jam."

Penelitian ini akan memberi petugas kelautan tentang dasar dari perairan di sekitar Pulau Kanguru, tetapi Alicia mengatakan, yang lebih penting ini juga akan membantu pilihan manajemen mereka di masa depan.

"Jika kami mulai melihat perubahan angka-angka ini, atau lamun, kemudian kami baru bisa membuat perubahan sebagai hasilnya. Kami menarik spesies yang berbeda yang biasanya tak akan kita temukan hanya dengan snorkeling atau diving jadi penelitian ini akan banyak membantu kami," rincinya.